Cerpen: Kekuatan Cinta Tak Terlihat Waktu
ASKARA - Selama hampir sebulan, dua bersaudara di Kendal ditemukan dalam keadaan lemas di samping jenazah ibu mereka yang telah membusuk. Dunia menatap mereka dengan ngeri. Tapi di balik berita itu, ada kisah yang lebih sunyi tentang cinta yang begitu kuat hingga menolak menerima kematian, dan tentang sesuatu yang bersembunyi di antara rasa takut dan penyesalan.
Aku masih ingat bau anyir yang menempel di udara ketika pintu rumah itu didobrak. Rumah kecil di ujung gang sempit, dindingnya lembab, tirainya menutup rapat. Dua sosok duduk di lantai, tubuh kurus, mata cekung, kulit pucat seperti kertas.
Mereka adalah Ari dan Maya, kakak beradik yang selama hampir sebulan bertahan tanpa makanan, hanya dengan air seadanya. Di antara mereka terbujur tubuh perempuan tua yang telah kaku, ibu mereka, Bu Rahayu.
Aku datang sebagai jurnalis lokal, diminta meliput tragedi itu. Tapi sejak langkah pertama memasuki ruang tamu, aku tahu ini bukan sekadar kisah kelaparan. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih gelap, dan lebih sunyi.
“Kenapa kalian tidak meminta bantuan?” tanyaku perlahan.
Ari menatapku dengan mata kosong, seperti orang yang baru terbangun dari mimpi panjang.
“Ibu bilang jangan pergi,” suaranya nyaris tak terdengar. “Dia takut kalau kami keluar rumah, ada yang akan mengambilnya.”
Maya, adiknya, menunduk sambil memeluk lutut. “Kami menunggu Ibu bangun,” katanya polos. “Dia cuma tidur.”
Aku menatap tubuh Bu Rahayu. Wajahnya tenang, seakan memang sedang tertidur. Di dekatnya, selembar kertas kuning terlipat rapi. Aku membukanya, di situ tertulis dengan spidol hitam: “Dia ada di sini.”
Kisah itu dimulai sebulan sebelumnya.
Bu Rahayu tinggal bersama kedua anaknya setelah suaminya meninggal lima tahun lalu. Ia dikenal sebagai perempuan sederhana, rajin menanam sayur dan menjual hasilnya ke pasar. Tapi sejak beberapa minggu sebelum kematiannya, tetangga melihat perubahan. Ia sering berbicara sendiri di kebun belakang, memandangi pohon bambu, dan berbisik seperti sedang menenangkan seseorang yang tak terlihat.
“Dia datang lagi,” katanya suatu malam kepada Ari. “Jangan keluar kalau malam. Jangan tinggalkan Ibu.”
Ari hanya mengira ibunya lelah. Tapi sejak itu, Bu Rahayu tak mau makan. Ia hanya minum air, lalu makin sering memeluk anak-anaknya sambil berbisik, “Jangan biarkan dia mengambilku.”
Malam terakhir, ia pingsan di ruang tamu. Ari dan Maya berusaha membangunkannya, tapi tubuh itu tak lagi bergerak. Mereka menangis, tapi tak berani melapor. “Ibu pasti bangun,” kata Maya. Hari berganti hari, tapi mereka tetap menunggu, dengan keyakinan yang perlahan berubah menjadi ketakutan.
Mereka tidak makan. Tidak keluar rumah. Tidak menyalakan lampu. Hanya menatap tubuh ibu mereka di lantai yang dingin.
Ketika polisi datang karena laporan bau busuk dari tetangga, pintu terkunci dari dalam.
Di kantor kepolisian, dokter menjelaskan bahwa Bu Rahayu meninggal akibat penyakit jantung yang tidak tertangani. Lambungnya kosong. Ia tidak makan berhari-hari sebelum meninggal.
Namun yang aneh, tulisan di kertas kuning itu “Dia ada di sini” bukan tulisan Bu Rahayu. Hasil perbandingan menunjukkan itu tulisan tangan perempuan lain.
“Perempuan siapa?” tanya penyidik.
Tak ada jawaban. Hingga satu minggu kemudian, polisi menemukan rekaman CCTV dari rumah tetangga. Dalam rekaman itu tampak sosok perempuan bergaun putih memasuki pekarangan rumah Bu Rahayu beberapa hari sebelum ia meninggal. Perempuan itu berhenti di bawah pohon bambu, menulis sesuatu di secarik kertas kuning, lalu meletakkannya di dekat sumur. Setelah itu, ia menghilang di antara bayangan malam.
Petugas memperbesar wajahnya. Hasilnya samar, tapi cukup jelas: perempuan itu adalah istri Ari, yang sudah pergi dari rumah enam bulan sebelumnya setelah bertengkar hebat dengan Bu Rahayu.
Ari menatap layar itu lama, bibirnya bergetar. “Tidak mungkin,” katanya lirih. “Dia sudah meninggal.”
Aku terdiam. Ari menceritakan bahwa istrinya, Rina, meninggal dalam kecelakaan motor di kota tetangga enam bulan lalu. Ia sendiri yang mengantar jenazah ke rumah duka.
Maya menatap kakaknya. “Tapi malam sebelum Ibu meninggal, aku dengar suara perempuan di luar jendela,” bisiknya. “Dia memanggil Ibu, pelan sekali. Katanya: Aku sudah di sini.”
Beberapa hari setelah itu, aku kembali ke rumah tersebut untuk keperluan liputan lanjutan. Rumahnya sepi, hanya suara bambu yang bergesekan. Di pekarangan, aku melihat sesuatu di antara akar bambu, sebuah boneka kecil berkaki satu, usang dan berdebu. Di dadanya tertulis huruf R.
Aku menatap boneka itu lama. Angin berhembus pelan, membawa suara samar seperti bisikan yang datang dari bawah tanah.
Polisi menutup kasus dengan kesimpulan kematian karena penyakit dan kelalaian. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh laporan medis atau catatan forensik.
Ketika aku hendak meninggalkan rumah itu, kulihat Maya duduk di ambang pintu, menatap ruang tamu kosong. “Kami hanya ingin Ibu tidak sendirian,” katanya lirih. “Tapi mungkin justru karena itu, kami kehilangan segalanya.”
Ari berdiri di sampingnya, diam saja. Tatapannya terpaku ke pohon bambu di halaman belakang. Di bawahnya, boneka berkaki satu itu sudah tidak ada lagi.
Dan di kejauhan, di antara desir angin, seolah terdengar langkah lembut seorang perempuan yang berjalan perlahan meninggalkan halaman, seolah membawa sesuatu yang tak pernah sempat diucapkan.
Kini, setiap kali aku menulis kisah itu di koran, aku tak pernah tahu mana yang lebih menyedihkan: kematian yang datang diam-diam, atau cinta yang begitu besar hingga menolak menerima kepergian.
Kadang, cinta memang tak bisa dilihat oleh waktu, tapi ia bisa mengikat seseorang sampai lupa pada hidup itu sendiri. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar