Rabu, 17 Juni 2026 | 21:55
Ruang Menulis

LAWAN

LAWAN
Miftah H. Jusufpati (dok.askara)

Oleh: Miftah H. Yusufpati 

ASKARA - Di negeri yang katanya merdeka,
kata-kata bisa dihukum,
akal sehat bisa diborgol,
dan kebenaran—
ditulis ulang oleh kekuasaan.

Di jalanan, suara rakyat menggema,
bukan karena dihasut,
tapi karena hati mereka disayat
oleh roda besi yang melindas keadilan.

Para peneliti dituduh pemalsu,
para aktivis dituduh penghasut,
padahal mereka hanya menggali tanah yang gersang
mencari benih kebenaran yang disembunyikan.

Tinta menjadi bukti,
kata menjadi senjata,
namun penguasa gemetar di hadapan huruf-huruf kecil
yang bisa merobek topeng kekuasaan.

Hukum kini jadi tirai,
bukan jendela.
Keadilan berbisik di ruang gelap,
sementara kamera menyorot borgol, bukan bukti.

Tapi ingat—
kalian bisa memenjarakan tubuh,
bukan gagasan.
Kalian bisa bungkam satu suara,
tapi gema kebenaran akan beranak-pinak
di dada setiap orang yang masih berani bermimpi.

Lawan bukan berarti benci,
lawan berarti mencintai
dengan cara yang getir—
mencintai bangsa ini
cukup dalam untuk berani menegurnya.

Maka kami tak akan diam,
karena diam adalah bentuk lain dari mati.
Selama langit masih terbuka,
dan pena masih bisa menulis,
kami akan tetap satu kata:

LAWAN

Komentar