Minggu, 07 Juni 2026 | 19:03
Ruang Menulis

Cerpen: Malam yang Menghapus Beasiswa

Cerpen: Malam yang Menghapus Beasiswa
Ilustrasi

ASKARA - Tak ada yang tahu betapa panjang malam-malam di tempat ini. Lampu neon redup menyinari dinding lembab, sementara suara jangkrik dari luar sel terdengar seperti lagu yang menertawakan masa laluku. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan itu muncul lagi lampu warna-warni yang berputar, musik yang menggema di dada, dan wajah-wajah yang menari tanpa beban. Malam itu, aku pikir aku sedang merayakan kebebasan. Kini aku tahu, malam itu justru menghapus semuanya.

Namaku Nara Wening, mahasiswa tingkat dua di Universitas Nusantara Raya, jurusan Bisnis Digital. Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Ayah hanya buruh pelabuhan, ibu penjahit rumahan. Semua harapan keluarga dititipkan padaku. Ketika aku menerima beasiswa KIP-K, rasanya seperti hidup baru. Aku berjanji tak akan menyia-nyiakannya. Tapi janji sering kali kalah oleh kesepian.

Hidup di kota membuatku merasa kecil. Teman-teman sekampus datang dengan ponsel terbaru, parfum mahal, dan obrolan tentang liburan ke Bali. Aku belajar menyesuaikan diri, tapi setiap kali makan nasi bungkus sendirian di asrama, ada perasaan getir yang tak bisa dijelaskan.
Di satu titik, aku hanya ingin merasa sama sekali saja, tanpa harus memikirkan uang, nilai, atau pandangan orang.

Malam itu, Lila, teman satu fakultas, menawarkanku ikut ke pesta ulang tahun temannya di sebuah klub malam. “Cuma nongkrong kok, Nar. Biar otakmu enggak meledak sama tugas,” katanya sambil tertawa.

Aku ragu. Tapi suara dalam hatiku membujuk, sekali saja, tak apa. Lagipula, aku sudah terlalu lama menahan diri. Aku ingin tahu seperti apa rasanya jadi muda tanpa beban.

Lampu strobo berputar. Musik menghentak. Tubuh-tubuh menari dalam bayang cahaya. Aku hanya duduk di kursi, tapi kemudian seseorang menarik tanganku. “Ayo, jangan kaku!” katanya.
Aku tertawa, ikut bergerak, mencoba melupakan semuanya. Tak ada beban, tak ada kampus, tak ada kemiskinan.
Hanya malam yang berkilau.
Untuk pertama kalinya, aku merasa bebas.

Seseorang merekam. Aku tak peduli. Yang kulihat hanya cahaya dan senyum.
Tapi dunia ternyata tidak butuh waktu lama untuk mengubah kebahagiaan jadi vonis.

Keesokan harinya, video itu viral di media sosial. “Mahasiswi penerima beasiswa KIP-K berjoget di klub malam.” Judul yang memalukan. Akun kampus ramai ditandai, komentarnya pedas, wajahku diubah jadi bahan ejekan.
Ponselku tak berhenti berdering. Dosen pembimbing, teman-teman organisasi, bahkan ibuku.

“Nara, itu kamu?” suaranya lirih di ujung telepon.
Aku tak mampu menjawab.
Hening di seberang sana terasa lebih menyakitkan dari seribu komentar kebencian.

Pihak kampus memanggilku. Rapat etik berlangsung cepat dan dingin. Seolah aku sudah diputuskan bersalah bahkan sebelum aku duduk.
“Perilaku Anda mencederai nama baik universitas dan tidak mencerminkan penerima beasiswa,” ujar seorang dosen dengan nada datar.
Aku hanya menunduk, menatap lantai yang licin seperti harga diriku.

Beasiswa dicabut. Semua tunjangan dihentikan.
Aku berjalan keluar ruang sidang dengan amplop surat keputusan di tangan, mata panas menahan air mata. Di depan gerbang kampus, ada wartawan menunggu. Mikrofon diarahkan ke wajahku.
“Nara, apa komentar kamu setelah beasiswamu dicabut?”
Aku diam.
Yang ingin kuucapkan hanya satu kalimat: Kalian tidak tahu, kebebasan juga bisa terasa seperti penjara.

Sejak hari itu, hidupku berubah. Aku kehilangan asrama, kehilangan biaya kuliah, kehilangan kepercayaan orang tua. Aku mencoba bertahan dengan bekerja di kafe malam, mencuci piring hingga dini hari, menabung sedikit demi sedikit.
Ironis, bukan?
Aku kehilangan beasiswa karena malam, dan kini aku hidup dari malam.

Suatu hari, seorang pelanggan mabuk membuat keributan. Aku mencoba melerai, tapi malah dianggap provokator. Polisi datang, aku dibawa ke kantor, lalu ditahan sementara karena dianggap menghalangi petugas.
Dunia terasa seperti lubang yang kian dalam dan aku terus jatuh.

Kini aku menulis surat ini dari balik jeruji.
Setiap malam, aku membaca lagi kalimat yang kutulis di awal: “Tak ada yang tahu betapa panjang malam-malam di tempat ini.”
Aku menulisnya bukan untuk membenarkan diriku, tapi untuk mengingatkan siapa pun yang sedang berjuang seperti aku.

Aku hanya ingin merasa bebas. Tapi kebebasan tanpa kendali hanyalah bentuk lain dari kehilangan.
Aku pikir aku menari untuk melupakan kesedihan, ternyata aku sedang menari di atas harga diriku sendiri.

Di luar sana, orang-orang mungkin sudah melupakan videoku. Tapi aku tahu, malam itu tak akan pernah benar-benar padam.
Ia hidup di sini di dada, di penyesalan, di doa yang tak selesai.

Suatu pagi, sipir memanggilku. “Ada surat untukmu.”
Dari kampus.

Tanganku bergetar saat membuka amplopnya.
Isinya hanya satu kalimat singkat:

“Nara Wening, kami memutuskan mengembalikan hak kuliahmu setelah masa pembinaan berakhir. Kami percaya, setiap mahasiswa berhak atas kesempatan kedua.”

Aku terdiam.
Air mataku jatuh di atas kertas itu, menetes tepat di kata “kedua”.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tersenyum.
Mungkin Tuhan tak mencabut segalanya, hanya menundanya sampai aku belajar apa arti kebebasan yang sesungguhnya.

Dan malam ini, di bawah cahaya lampu redup sel penjara, aku berjanji:
Ketika pintu ini terbuka nanti, aku akan menari lagi.

Tapi kali ini, bukan untuk melupakan melainkan untuk memulai. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar