Senin, 08 Juni 2026 | 07:39
Ruang Menulis

Rindu yang Tertinggal di Kursi Tua

Rindu yang Tertinggal di Kursi Tua
Ilustrasi Rindu yang Tertinggal di Kursi Tua

Oleh: Muhammad Rafi Suryaramadhan

ASKARA - Kereta sore itu melaju perlahan meninggalkan Jakarta. Dari balik jendela, Arif menatap deretan gedung yang semakin menjauh—seolah menatap sisa-sisa hidup yang tak lagi ingin ia kejar.

Hujan baru saja reda, meninggalkan jejak air di kaca jendela. Pantulan lampu kota tampak kabur, seperti pikirannya yang penuh sesal.

Di kursi sebelah, seorang ibu tua tertidur dengan tas berisi buah tangan di pangkuannya. Arif menatap lama wajah teduh itu, teringat pada ibunya—sosok lembut yang kini hanya hidup dalam foto dan kenangan. Sejenak, ia berharap waktu bisa diputar kembali; menukar semua jam lembur dan rapat dengan satu sore saja di teras rumah.

Perjalanan terasa begitu panjang. Bukan karena jarak, tetapi karena beban yang menumpuk di dadanya. Setiap kilometer yang terlewati seolah menariknya kembali pada masa lalu yang belum tuntas.

Ketika kereta berhenti di stasiun kecil di ujung jalur, Arif turun perlahan. Udara kampung halaman menyambutnya dengan aroma tanah basah dan suara katak dari sawah jauh di seberang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya.

Langit sore tampak berat. Udara yang seharusnya segar justru terasa sesak di dada Arif. Langkahnya pelan menapaki jalan berbatu menuju rumah masa kecilnya. Suara jangkrik dan aroma tanah basah mengiringinya—suara dan aroma yang dulu begitu akrab, kini terasa asing.

Rumah itu berdiri sunyi. Catnya memudar, beberapa genteng bergeser. Namun satu hal tetap sama: kursi tua di teras—tempat Ayahnya dulu duduk setiap pagi, memandangi langit timur sambil menyeruput kopi hitam.

Arif berhenti di depan kursi itu. Kayunya retak, namun tetap kokoh. Ia menatap lama, seolah menatap seseorang.
“Hai, Yah…” gumamnya lirih.

Ia duduk perlahan. Suara krek kecil terdengar, seperti napas panjang dari masa lampau. Seketika, kenangan datang silih berganti—begitu nyata, seolah waktu tak pernah berlalu.

Dulu, setiap pagi Ayah selalu memanggilnya.
“Rif, sini duduk sebentar. Ngopi sama Bapak dulu.”

Dan seperti biasa, Arif—yang kala itu baru mendapat pekerjaan—menolak dengan alasan sibuk.
“Nanti aja, Yah. Aku mau berangkat dulu.”

Ayah hanya tersenyum, menepuk lengan kursinya.
“Kalau hidup cuma buat kejar waktu, nanti kamu bakal ketinggalan momen yang nggak bisa diulang.”

Kalimat itu dulu hanya lewat di telinga Arif, seperti angin pagi yang tak sempat ia hirup. Tapi kini, duduk di kursi yang sama, kata-kata itu menamparnya lembut namun dalam.

“Yah,” gumamnya getir, “seandainya waktu bisa diulang, aku bakal duduk di sini tiap pagi.”

Di dalam rumah, debu menempel di foto-foto keluarga di dinding. Ada Ibu dengan senyum hangatnya, Ayah yang berdiri tegap, serta dua anak laki-laki—Arif dan Kael—yang dulu tak pernah akur, tapi selalu disatukan oleh kasih sayang ibu.

Arif mengusap bingkai foto itu perlahan. Pandangannya berhenti di wajah ibunya.
“Maaf, Bu… aku nggak sempat pulang waktu Ibu sakit.”

Dulu, ketika kabar ibu kritis datang, Arif sedang sibuk menyiapkan presentasi penting di Jakarta. Ia berpikir untuk menunda pulang hanya satu hari. Tapi satu hari itu berubah menjadi perpisahan tanpa pertemuan. Ia tiba dua hari setelah pemakaman.

Rumah sudah sunyi, kursi tua itu kosong. Ayah duduk menunduk di teras, menatap tanah yang masih basah. Arif hanya mampu berkata pelan, “Maaf, Yah.”

Dan Ayah menjawab dengan suara tenang yang kini terus menghantuinya:
“Tidak apa-apa, Rif. Mungkin Ibumu sudah tahu kamu sayang, walau nggak sempat bilang.”

Kini Arif sadar, kasih sayang yang tak terucap adalah penyesalan paling panjang.

Langkah Arif beralih ke kamar kakaknya, Kael. Kamar itu masih berantakan seperti dulu. Di meja, tergeletak selembar foto lama—mereka berdua tertawa di sawah, berebut bola plastik.
“El, seandainya malam itu aku nggak biarin kamu pergi…” gumamnya.

Malam itu, bertahun-tahun lalu, Kael bertengkar hebat dengan Ayah. Ia menuduh Ayah pilih kasih, merasa dikekang, merasa hidup di kampung hanya membuatnya gagal. Arif, yang mendengar dari kamarnya, memilih diam.

Saat Kael keluar rumah membawa tas, Ayah berteriak,
“Kalau kamu pergi malam ini, jangan kembali sebelum tahu arti rumah!”

Kael tetap pergi. Dan Arif, yang seharusnya menahan kakaknya, pura-pura tidur.

Kini rumah itu sepi. Ayah meninggal tanpa sempat melihat anak sulungnya kembali. Arif hanya bisa menatap kursi tua itu sambil membayangkan betapa menyesalnya ia telah membiarkan jarak tumbuh di antara keluarganya sendiri.

Sore menjelang malam. Langit memerah, angin membawa aroma hujan. Arif duduk lagi di kursi itu, membawa secangkir kopi hitam buatan sendiri—seperti yang biasa Ayah minum.

“Yah,” bisiknya pada udara, “dulu aku pikir kerja keras bisa bikin hidupku berarti. Tapi ternyata, semua pencapaian itu kosong waktu aku sadar nggak ada yang nunggu di rumah.”

Dalam keheningan, seolah bayangan Ayah hadir di depannya—duduk di kursi yang sama, tersenyum lembut seperti dulu.
“Rif,” suara itu terdengar di kepalanya, “kerja keras itu penting. Tapi hidup bukan cuma soal gaji dan pangkat. Bukan seberapa jauh kamu pergi, tapi siapa yang masih nunggu kamu pulang.”

Arif tersenyum pahit. “Aku baru ngerti sekarang, Yah. Aku kejar mimpi, tapi ninggalin semua orang yang kasih aku alasan buat bermimpi.”

Pikirannya melayang pada Clara, kekasihnya di Jakarta.
“Kalau terus begini, kamu bakal hidup sendiri, Rif,” kata Clara terakhir kali. Dan mungkin, pikir Arif, dia benar.

Ia membuka ponsel, menulis pesan singkat:

"Clara, aku pengen istirahat sebentar dari semuanya. Aku pengen pulang. Bukan cuma ke rumah, tapi ke diriku sendiri.”

Pesan terkirim. Malam turun perlahan. Lampu teras menyala redup, menerangi kursi tua itu. Arif bersandar, matanya mulai berat.

Dalam kabut kantuk, ia mendengar suara Ayah lagi.
“Rif, hidup itu seperti ngopi. Nggak harus selalu manis. Kadang pahit, tapi dari situ kamu belajar rasa yang sebenarnya.

Kalau kamu sibuk ngejar sukses tapi lupa siapa yang nyeduh kopi buat kamu tiap pagi, berarti kamu kehilangan arah.
Dan kalau nanti kamu punya anak, ajarin dia duduk bareng, walau cuma lima menit. Karena kadang lima menit itu lebih berharga dari lima tahun kerja keras.”

Air mata Arif menetes pelan. Ia memejamkan mata—dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa damai.

Keesokan paginya, sinar matahari menyapa lembut lewat celah dedaunan. Arif terbangun di kursi itu, tubuhnya kaku tapi hatinya tenang. Ia berdiri, menatap halaman rumah yang diterangi cahaya pagi.

Lalu ia mengambil ponsel dan menulis pesan untuk seseorang yang sudah lama ia hindari:

"Kak, pulanglah. Ayah udah nggak ada, tapi kursi Ayah masih nunggu kita duduk bareng lagi.”

Pesan terkirim. Arif menatap kursi tua itu sekali lagi—kursi yang dulu tampak biasa, kini menjadi saksi cinta, kehilangan, dan penyesalan.

Sebelum berangkat kembali ke kota, ia menuang sisa kopi hitam ke tanah di samping kursi, seperti persembahan kecil untuk Ayahnya.
“Terima kasih, Yah. Udah ngajarin aku hal-hal yang nggak diajarin dunia.”

Kursi itu berderit pelan, seolah menjawab. Arif tersenyum—senyum tulus meski matanya berkaca-kaca. Ia tahu, waktu tak bisa diputar. Tapi setidaknya, ia telah belajar menghargai yang tersisa.

Dan di setiap langkahnya keluar dari rumah itu, Arif tahu satu hal:
rindu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk—menjadi doa, menjadi kenangan, menjadi kursi tua yang menunggu dalam diam.

Kadang, kita baru memahami arti rumah ketika semua penghuninya sudah tiada.
Dan pada akhirnya, penyesalan bukan tentang waktu yang hilang,
melainkan tentang hati yang terlambat untuk pulang.

Tentang Penulis:
Muhammad Rafi Suryaramadhan lahir di Jakarta, 2002. Mahasiswa, pembaca kopi, dan penulis cerita pendek yang banyak mengeksplor tema keluarga, waktu, dan penyesalan. “Rindu yang Tertinggal di Kursi Tua” adalah refleksi personal tentang makna pulang dan kehangatan yang sering kita abaikan.

Komentar