Cerpen: Empat Bayangan di Teras Masjid
ASKARA - Kami berempat pernah duduk seperti itu di teras Masjid Al Falah Sidorukun, sekitar tahun 1992. Lantai merah marun masih licin, udara sore lembap dengan aroma kayu bakar dari dapur-dapur sekitar. Kami muda, polos, dan percaya waktu akan selalu menunggu. Tak seorang pun menyangka, foto sederhana di teras itu kelak menjadi prasasti kehidupan yang tak bisa diulang.
Mas Harun duduk di belakang, wajahnya teduh dan bijak. Bima di sebelahnya, berkulit pucat tapi matanya selalu hidup. Rendra, si paling ramai, duduk di sampingku. Aku yang termuda, cerewet pada hal remeh: rasa sate, merek arang, sampai cara memotong daging. Tapi masa itu, perbedaan kecil hanyalah bumbu persahabatan, bukan sumber renggangnya hati.
Kami sering membuat acara kecil di sela kegiatan masjid: nyate, piknik, mengaji, atau sekadar nongkrong di serambi sambil minum teh panas. Suatu malam, kami membeli daging sapi di pasar untuk dibakar bersama di halaman masjid. Bara menyala, asap menari-nari, dan kami berdebat tentang bumbu sate: kecap atau kacang. Aku ngotot kecap lebih nikmat, Rendra bersikeras kacang lebih berkarakter. Akhirnya kami kompromi setengah kecap, setengah kacang. Kami makan sambil duduk melingkar di dekat panggangan, tertawa karena daging gosong terasa seperti kemenangan kecil.
Mas Harun sudah bekerja di Semarang waktu itu, tapi ia tetap pulang tiap akhir pekan. Ia yang paling sering mengingatkan kami untuk urunan kas masjid. Dari gagasannya pula kami membeli kursi plastik putih untuk khatib Jumat. Kursi itu sederhana, sandarannya tinggi, bentuknya melengkung. Tapi sampai kini, setiap kali kulihat khatib duduk di kursi sejenis di masjid mana pun, ingatanku langsung melayang ke sore itu ketika kami mengangkut kursi sambil menertawakan Bima yang nyaris terpeleset lumpur.
Namun yang paling membekas adalah perjalanan kami ke Semarang. Kami naik bus ekonomi, membawa tas kecil dan semangat besar. Tujuannya sederhana: berburu komik. Jujur, hanya aku yang benar-benar bernafsu mencari komik, tapi mereka ikut karena enggan membiarkanku pergi sendiri. Kami masuk ke toko buku Wijaya di Jalan MT Haryono. Aroma kertas tua, rak kayu berderit, dan cahaya kuning temaram menempel di ingatan. Aku membeli enam komik: dua biografi terbitan Indira tentang Winston Churchill dan Charles de Gaulle, dua adaptasi film Gremlins dan Close Encounters of the Third Kind, serta dua komik Superman dari Maranatha. Aku bahkan masih ingat tanggalnya 30 Agustus 1992. Entah mengapa, tanggal itu menempel kuat di kepalaku seperti tanda air di kertas lama.
Dalam perjalanan pulang, Bima sempat berkata, “Kalau nanti kita tua, kita bikin rumah sebelahan, biar kalau mau nyate gampang.” Kami tertawa. Waktu itu, kata tua terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh, seolah takkan pernah tiba. Tapi waktu punya caranya sendiri menepuk bahu kita dengan diam.
Tahun-tahun berlari. Mas Harun menikah dan menetap di Semarang. Kami jarang bertemu, hanya sesekali saling kabar lewat teman. Bima jatuh sakit bertahun-tahun lamanya. Aku masih sering menengok. Pernah suatu malam, ia datang tiba-tiba ke rumah. “Aku nggak bisa tidur,” katanya. “Boleh aku nginep?” Ia berbaring di kamarku, menatap langit-langit, sesekali tertawa kecil mengenang masa-masa di masjid. Malam itu, pembicaraan kami entah kenapa terasa berat. Tentang mati, tentang hal-hal yang belum sempat kami lakukan, tentang rasa takut yang tak bisa dijelaskan. Aku tak tahu, malam itu adalah kali terakhir ia datang dengan langkahnya sendiri.
Tahun 1999, Bima meninggal. Tubuhnya terlalu lemah, tapi senyumnya tetap sama. Waktu itu aku menjadi panitia Pemilu, dan karena kondisinya tak memungkinkan datang ke TPS, aku mendatanginya. Ia masih sempat bercanda, “Coblosnya yang jujur ya, jangan salah partai.” Setelah mencoblos, ia menatapku lama. “Aku senang bisa ikut milih. Aku pengin ninggalin sesuatu, walau cuma tanda tinta di jari.” Tak lama setelah itu, ia berpulang.
Aku pikir, kehilangan Bima adalah batas paling dalam dari rasa duka. Tapi ternyata belum. Jumat kemarin, Rendra dimakamkan. Aku berdiri di tepi liang lahad, menyaksikan tanah menutup tubuh yang dulu paling banyak tertawa. Ironisnya, ia dimakamkan di pemakaman yang sama dengan Bima, hanya beberapa langkah dari pusaranya.
Sejak hari itu, foto kami berempat semakin sering kuperhatikan. Di sana kami masih utuh. Tak ada yang sakit, tak ada yang pergi. Hanya empat pemuda di teras masjid, menatap masa depan yang belum tahu ujungnya. Kadang aku membayangkan, seandainya waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke sore itu ke aroma sate, tawa Rendra yang meledak-ledak, mata Bima yang teduh, dan petuah lembut Mas Harun.
Beberapa hari setelah pemakaman Rendra, aku datang ke Masjid Al Falah. Lantainya kini keramik putih, dindingnya lebih bersih, tapi kursi khatib yang dulu kami beli masih berdiri di pojok mihrab. Aku duduk di teras tempat kami berfoto. Senja turun perlahan, angin membawa gema adzan Magrib. Aku menutup mata dan seolah mendengar suara mereka lagi berdebat soal sate, bercanda soal komik, bercakap tanpa jeda.
Saat kubuka mata, aku sadar: kenangan tak pernah mati, ia hanya berpindah tempat. Dari dunia yang bisa disentuh ke ruang di dalam dada. Aku mungkin satu-satunya yang tersisa, tapi lewat ingatan, kami tetap empat.
Aku berdiri, menatap langit senja yang keemasan. Di seberang jalan, kulihat bayangan empat orang berjalan menuju masjid. Gerak mereka begitu akrab. Aku berkedip, dan bayangan itu lenyap begitu saja. Entah mimpi, entah isyarat.
Dalam perjalanan pulang, aku melewati pemakaman di belakang rumah. Kuburan Bima dan Rendra berdampingan. Di antara rerumputan hijau, tampak sebuah kursi plastik putih, kursi yang dulu kami beli untuk khatib. Entah siapa yang menaruhnya di sana. Tapi malam itu aku tahu, kursi itu sudah menemukan tempatnya tempat kami dulu duduk bersama.
Aku membuka album lama sebelum tidur, menatap foto itu sekali lagi. Aku tersenyum pelan, membatin, mungkin di alam lain kami kembali duduk berempat, mengulang obrolan yang tak pernah selesai: apakah sate paling enak itu pakai kecap, atau pakai kacang. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar