'Purbaya Effect' Dorong IHSG Pecah Rekor, Bukti Kekuatan Sinyal Kebijakan Fiskal
ASKARA - Langkah berani Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam menggelontorkan Rp 200 triliun untuk memperkuat penyaluran kredit perbankan tidak hanya berdampak pada stabilitas keuangan, tetapi juga menciptakan gelombang optimisme di pasar modal nasional. Kebijakan tersebut dinilai menjadi sinyal kuat kepercayaan pemerintah terhadap sektor keuangan, yang langsung direspons positif oleh investor.
Hasilnya mencengangkan. Dalam hitungan hari setelah kebijakan diumumkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, atau All Time High di level 8.272 poin pada 9 Oktober 2025. Fenomena ini disebut banyak kalangan sebagai “Purbaya Effect”, simbol bagaimana sinyal kebijakan ekonomi yang kuat dapat menggerakkan psikologi pasar dan menciptakan kenyataan ekonomi baru.
Menurut Dr. Lucky Bayu Purnomo, ekonom dan pakar pasar modal, kebijakan tersebut menunjukkan bagaimana Signaling Theory bekerja dalam praktik nyata. “Sinyal yang kredibel mampu menggerakkan kepercayaan, dan kepercayaan yang kuat mampu mengubah perasaan menjadi kenyataan pasar,” ujarnya, Senin (20/10).
Teori sinyal yang dikemukakan Michael Spence pada 1973 menjelaskan bahwa pihak dengan informasi lebih dapat mengirim sinyal kepada pihak lain untuk menciptakan keputusan ekonomi yang lebih efisien. Dalam konteks Indonesia, langkah Purbaya menjadi bentuk komunikasi fiskal yang bukan hanya berbicara angka, tetapi mengirimkan pesan kepercayaan kepada pelaku pasar bahwa ekonomi Indonesia berada di jalur yang stabil dan berkelanjutan.
“Pasar tidak hanya bereaksi terhadap data, tetapi terhadap makna di balik data itu. Ketika sinyal yang dikirim pemerintah jelas, konsisten, dan kredibel, pelaku pasar akan menyesuaikan perilaku mereka bahkan sebelum kebijakan dijalankan,” tambah Lucky Bayu.
Ia juga menilai bahwa sinyal positif dari Kementerian Keuangan telah membangun keyakinan baru di kalangan perbankan dan investor. Sektor keuangan menunjukkan peningkatan likuiditas, penyaluran kredit kembali menguat, dan dunia usaha memperluas aktivitas produksinya. Semua itu berkontribusi pada peningkatan sentimen dan pergerakan IHSG ke level tertinggi.
“Dengan fondasi optimisme yang telah terbangun, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dan menguji level 9.100 poin, seiring pertumbuhan ekonomi nasional yang bisa mencapai 5,6% hingga 6,3%,” tutur Lucky.
Fenomena “Purbaya Effect” kini menjadi catatan penting dalam dinamika ekonomi nasional. Ia membuktikan bahwa kebijakan publik yang disertai komunikasi ekonomi yang tepat waktu, konsisten, dan kredibel dapat menjadi katalis kepercayaan kolektif. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, sinyal positif seperti ini menjadi energi baru bagi Indonesia untuk terus melaju menuju pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Komentar