Cerpen: Ketika Masjid Itu Harus Rubuh Damai
ASKARA - Di sore yang temaram, suara azan magrib masih menggema lembut dari pengeras suara masjid di ujung perkampungan itu. Tak banyak yang tahu, sore itu adalah azan terakhir dari masjid kecil yang pernah menjadi kebanggaan warga. Arif Malik berdiri di depannya, menatap lama, seolah menatap hatinya sendiri yang tengah ia relakan untuk runtuh.
Beberapa bulan lalu, kisah seperti ini tak pernah terbayang. Arif, seorang ustaz muda yang dikenal santun dan dermawan, membangun masjid itu dari tabungan pribadi dan sedekah para jamaah yang mempercayainya. Masjid itu menjadi tempat anak-anak belajar mengaji, tempat ibu-ibu bersilaturahmi, dan tempat banyak jiwa lelah bersandar di ujung doa. Namun di balik keindahan itu, tersimpan kesalahpahaman besar yang diam-diam tumbuh di antara sertifikat tanah, tanda tangan, dan hati yang terluka.
Awalnya, tanah tempat masjid itu berdiri dikira sudah sah milik yayasan kecil yang dikelola Arif. Tapi belakangan, seorang lelaki tua bernama Haji Malikun datang membawa bukti baru. Ia mengaku sebagai pemilik lama tanah dan menjelaskan bahwa transaksi jual beli dulu belum sepenuhnya tuntas karena kekeliruan administrasi. Arif tertegun. Ia tak pernah berniat menyalahi hukum, apalagi menzalimi. Tapi kenyataan itu telah melukai banyak pihak.
Isu pun merebak di media sosial. Ada yang menuduh Arif menipu umat. Ada pula yang membelanya, menyebutnya hanya korban ketidakteraturan sistem. Namun bagi Arif, fitnah dan pembelaan tak ada bedanya keduanya sama-sama membuat hati letih. Ia memilih diam, menahan badai yang datang bertubi-tubi.
Suatu malam, setelah berjam-jam sujud dalam tahajud panjang, Arif memutuskan untuk menemui langsung Haji Malikun. Pertemuan itu berlangsung di teras rumah tua sang pemilik tanah. Tak ada kamera, tak ada saksi, hanya dua lelaki dan secangkir teh yang mulai dingin.
“Kalau begitu, saya serahkan saja, Pak Haji,” ucap Arif lembut. “Masjid ini akan kami bongkar. Rumah saya juga akan saya jual. Saya ingin semuanya selesai dengan baik. Saya tidak ingin ibadah orang lain berdiri di atas tanah yang bukan haknya.”
Haji Malikun menatapnya lama. Matanya basah. “Nak Arif, saya tak pernah bermaksud menyakiti. Tapi saya sudah tua, dan anak-anak saya meminta agar tanah itu dikembalikan. Mereka tidak tahu hubungan baik kita dulu.”
Arif tersenyum getir. “Tak apa, Pak Haji. Barangkali ini jalan Allah untuk menguji keikhlasan saya. Biarlah semua kembali kepada pemiliknya.”
Keesokan harinya, Arif mengumumkan keputusannya di depan jamaah. Dengan suara bergetar ia berkata, “Mulai besok, insyaAllah kita akan melakukan pembongkaran secara baik-baik. Tanah ini akan kami kembalikan kepada penjualnya. Semoga Allah menerima niat baik kita semua.”
Tangis pecah di serambi masjid. Anak-anak berlarian mencari tempat baru untuk mengaji. Para jamaah saling berpelukan, seolah kehilangan rumah kedua mereka. Namun Arif tetap tegar. Ia tahu, tak semua perjuangan harus diakhiri dengan kemenangan; sebagian harus ditutup dengan keikhlasan.
Hari pembongkaran pun tiba. Langit mendung seakan ikut bersedih. Arif berdiri di depan masjid dengan pakaian serba hitam. Ia menyentuh dinding-dinding masjid satu per satu, seperti mengucapkan salam perpisahan. Di belakangnya, para pekerja sudah bersiap dengan alat-alat sederhana. Tak ada teriakan, tak ada protes, hanya sunyi dan doa yang menggantung di udara.
Tiba-tiba, di tengah kesunyian itu, seorang lelaki paruh baya datang tergesa. Ia mengenakan jas kusam, membawa map lusuh di tangannya. “Tunggu!” serunya. Semua berhenti.
Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai notaris yang dulu menangani transaksi antara Arif dan Haji Malikun. Dengan suara bergetar, ia menjelaskan bahwa setelah menelusuri kembali berkas lama, ternyata pembayaran tanah itu sudah lunas. Ada tanda tangan dan bukti transfer yang selama ini tercecer di arsip yayasan.
“Artinya,” ujarnya pelan, “masjid ini sah milik Ustaz Arif.”
Hening menyelimuti. Arif terdiam, menatap tanah, lalu menatap langit.
“Kalau begitu, tak perlu dibongkar?” tanya salah satu warga nyaris berbisik.
Arif menggeleng pelan. “Tidak. Tetap kita bongkar.”
“Kenapa, Ustaz?”
Ia menarik napas panjang. “Karena aku sudah berjanji. Aku sudah ikhlaskan semuanya. Dan mungkin... Allah ingin mengajariku, bahwa membangun bukan selalu dengan batu dan semen, tapi dengan hati yang tunduk pada keputusan-Nya.”
Haji Malikun menunduk, menahan tangis. Ia mencoba menolak keputusan itu, tapi Arif menepuk bahunya lembut.
“Biarkan tanah ini kembali menjadi tanah. Mungkin nanti, di tempat ini, akan tumbuh pohon, bukan masjid. Tapi jika pohon itu meneduhkan manusia, bukankah itu juga rumah ibadah dalam bentuk lain?”
Langit benar-benar menumpahkan hujan sore itu. Para pekerja mulai melepas genting satu per satu. Suara dentingan logam berpadu dengan rintik hujan, menjadi simfoni perpisahan yang suci.
Beberapa bulan berlalu. Di atas tanah kosong itu kini tumbuh pepohonan dan rerumputan hijau. Anak-anak kembali bermain di sana, menanam bunga, membuat taman kecil. Orang-orang menyebutnya “Taman Doa.” Di ujung taman, Arif duduk di kursi kayu, mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an di bawah pohon mangga yang rindang.
Suatu sore, seorang warga bertanya, “Ustaz, apakah ustaz menyesal sudah membongkar masjid itu?”
Arif tersenyum, menatap langit yang berwarna jingga. “Tidak. Karena kadang, untuk membangun surga, kita harus rela merobohkan masjid yang ada di dalam hati kita dulu.”
Angin sore berhembus lembut, membawa suara tawa anak-anak dan bisikan zikir yang melayang di udara. Di sana, di antara reruntuhan yang telah menjadi taman, Arif menemukan kedamaian baru sebuah masjid tanpa dinding, tanpa menara, tapi berdiri kokoh di dalam jiwa.
Dan hanya ia yang tahu, bahwa di bawah pohon mangga tempat ia mengajar itu, masih tersisa satu batu fondasi yang dulu milik masjidnya. Batu itu tak pernah ia pindahkan. Ia biarkan tetap di sana, menjadi saksi bahwa kadang... keikhlasanlah yang paling sulit dibangun, dan paling indah saat berdiri. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar