Anak Lupa Bermain, Dunia di Layar: Bahaya Over-Screen Time pada Anak Sekolah Dasar
Oleh: Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi
ASKARA - Pernahkah kita perhatikan pemandangan ini: anak-anak duduk berderet, masing-masing menatap layar ponsel atau tablet, tanpa saling berbicara? Fenomena itu kini menjadi wajah baru masa kanak-kanak. Mereka tidak lagi bermain petak umpet, bukan lagi berlari di lapangan, akan tetapi bermain di dunia digital yang tanpa batas.
Teknologi seharusnya membantu anak belajar dan berkreasi, namun kini justru menjebak banyak di antara mereka dalam kebiasaan over-screen time dimana penggunaan gawai secara berlebihan tanpa kontrol waktu atau konten. Sayangnya, banyak orang dewasa belum menyadari betapa berbahayanya paparan layar berlebihan terhadap perkembangan otak, emosi, dan perilaku anak usia sekolah dasar.
Paparan layar yang berlebihan bukan hanya membuat anak kecanduan gadget. Dampaknya jauh lebih dalam, memengaruhi fisik, mental, dan sosial mereka. Secara fisik, anak yang terlalu lama menatap layar cenderung mengalami gangguan tidur, kelelahan mata, postur tubuh buruk, dan penurunan aktivitas fisik. Secara emosional, mereka mudah cemas, cepat marah, dan sulit fokus karena otak mereka terbiasa dengan stimulasi cepat dari layar. Secara sosial, anak menjadi kurang empati dan sulit berinteraksi di dunia nyata. Mereka lebih nyaman dengan teman virtual daripada bermain dengan teman sebaya.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan screen time lebih dari tiga jam per hari memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan konsentrasi, perilaku impulsif, dan keterlambatan perkembangan bahasa. Ironisnya, banyak anak SD yang kini menatap layar lebih dari enam jam sehari setara waktu kerja penuh orang dewasa.
Pandemi COVID-19 memang mempercepat digitalisasi pendidikan. Pembelajaran daring membuat anak-anak akrab dengan layar sejak dini. Namun setelah pandemi usai, kebiasaan itu tidak ikut berakhir. Banyak anak yang kini sulit lepas dari gawai bukan untuk belajar, tapi untuk hiburan instan seperti game, video pendek, dan media sosial.
Masalahnya, kebiasaan ini diterima sebagai hal “normal”, bahkan oleh orang tua yang lelah dan akhirnya membiarkan gawai menjadi pengasuh kedua. Padahal, ketika anak terlalu lama berada di dunia digital, mereka kehilangan satu hal yang tak tergantikan yakni pengalaman masa kecil yang nyata.
Anak-anak yang tumbuh bersama layar berisiko kehilangan kemampuan dasar yang penting yaitu berimajinasi, berinteraksi, dan mengelola emosi. Dunia digital memang memberi hiburan cepat, tapi juga mematikan kreativitas alami. Ketika segalanya disediakan oleh algoritma, anak tidak lagi merasa perlu mencipta atau mengeksplorasi. Lebih dari itu, over-screen time juga mempersempit ruang batin anak. Alih-alih menatap langit dan bertanya, mereka menatap layar dan menunggu notifikasi.
Alih-alih mendengarkan cerita orang tua, mereka lebih sibuk menonton video pendek yang berubah setiap lima detik. Kita tidak sedang kehilangan teknologi akan tetapi kita sedang kehilangan anak-anak yang bisa menikmati dunia nyata.
Mengatasi over-screen time bukan berarti melarang anak menyentuh teknologi. Dunia digital adalah bagian dari masa depan mereka. Namun yang perlu dilakukan adalah mengajarkan keseimbangan.
Beberapa langkah sederhana dapat membantu:
- Tetapkan batas waktu layar harian maksimal dua jam di luar kebutuhan belajar, sesuai rekomendasi World Health Organization (WHO).
- Berikan alternatif aktivitas menarik, seperti membaca, bermain di luar rumah, atau seni kreatif.
- Dampingi anak saat menggunakan teknologi, ajak berdiskusi tentang konten yang mereka tonton.
- Ciptakan zona bebas gawai di rumah, seperti saat makan malam atau menjelang tidur.
- Sekolah dapat memperkuat literasi digital dengan mengajarkan anak menggunakan teknologi secara bijak, bukan sekadar konsumtif.
Dengan langkah-langkah kecil tapi konsisten, anak bisa belajar bahwa teknologi adalah alat, bukan dunia itu sendiri.
Setiap anak berhak memiliki masa kecil yang penuh tawa, gerak, dan imajinasi. Jika masa itu habis di depan layar, kita akan kehilangan generasi yang tahu cara bermain, berinteraksi, dan merasakan dunia dengan utuh. Teknologi boleh hadir di ruang belajar, tapi jangan biarkan ia mengambil alih ruang hidup anak-anak. Kita tidak sedang melawan kemajuan, tetapi sedang berjuang agar kemajuan itu tetap manusiawi. Sudah waktunya kita bertanya: Apakah anak-anak kita masih bermain di taman, atau hanya di layar sentuh?

Komentar