Mei Efendi: Dalang Muda Blitar yang Setia Menjaga Kelir Tradisi
Penulis: Yuni R. Levesque - jurnalis dan aktivis pendidikan bagi kaum marjinal
ASKARA - Saya pertama kali mengenal Mei Efendi melalui komunitas literasi Suara Sastra di Blitar. Dari situlah saya tahu bahwa di balik sosoknya yang sederhana, Mas Fendi (begitu ia biasa dipanggil) menyimpan ketekunan luar biasa di dunia pedalangan. Ia bukan sekadar pengagum wayang, tapi pelaku yang benar-benar menyalakan api tradisi di tengah perubahan zaman.
Di antara banyak anak muda yang lebih tertarik pada dunia modern, Mei Efendi memilih jalan yang tidak banyak dilalui. Lahir dan besar di Kabupaten Blitar, ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan gamelan dan kesenian Jawa. “Saya mulai belajar karawitan sejak kelas enam SD,” tuturnya suatu siang saat kmi berjumpa di acara perayaan ulang tahun ke-3 Suara Sastra. “Setelah lulus SMP baru saya mulai belajar mendalang.”
Tidak ada darah dalang yang mengalir dalam keluarganya. Minat itu muncul begitu saja, seperti panggilan batin. “Mungkin sudah naluri sejak kecil,” katanya pelan. “Saya suka saja mendengar wayang, melihat kelir, mendengar gamelan. Rasanya dunia itu hidup.”
Mendalang sebagai Jalan Hidup
Bagi Mei Efendi, mendalang bukan sekadar memainkan boneka kulit di balik kelir, melainkan proses belajar yang tak pernah selesai. “Dunia wayang itu luas. Setiap lakon, setiap karakter, selalu mengajarkan sesuatu,” ujarnya. “Menjadi dalang adalah belajar seumur hidup. Tidak hanya soal teknik, tapi juga memahami nilai-nilai kehidupan.”
Ia mengakui, menjadi dalang di zaman sekarang membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan tradisional. “Kalau mau tetap menarik bagi penonton, terutama anak muda, kita harus menyesuaikan cara penyajian,” katanya. “Tapi jangan sampai kehilangan ruhnya. Wayang boleh modern, tapi nilai-nilainya tetap harus dijaga.”
Namun, kehidupan sebagai dalang muda tidak selalu mudah. Mei Efendi masih berada dalam tahap membangun nama. “Bagi dalang yang sudah dikenal, profesi ini bisa menghidupi keluarga. Tapi bagi kami yang masih merintis, belum tentu,” ujarnya jujur. “Kadang ada masa-masa sepi pentas. Di situ kesetiaan kita diuji—apakah tetap bertahan atau mencari penghidupan lain.”
Pedagang yang Tak Meninggalkan Panggung
Untuk menyeimbangkan kebutuhan hidup, Mei Efendi menekuni pekerjaan lain: berdagang tahu untuk sumber perkonomiannya. “Saya berdagang tahu, karena kalau menunggu pentas saja tidak cukup,” katanya. Tapi baginya, berdagang bukan alasan untuk meninggalkan dunia pedalangan. “Justru dengan berdagang, saya bisa tetap mendalang tanpa beban,” ujarnya tersenyum.
Kedua dunia itu ia jalani berdampingan. Siang hari ia bisa berjualan, malamnya ia bisa berlatih atau tampil di panggung kecil. “Saya anggap dua-duanya bagian dari kehidupan. Sama-sama butuh ketekunan,” katanya. “Bedanya, satu untuk hidup, satu lagi untuk jiwa.”
Minat yang Belum Padam
Soal perhatian pemerintah terhadap seniman pedalangan, Mei Efendi mengaku masih terbatas. “Masih lambat,” ujarnya singkat. Tapi ia tidak menunggu. Bersama rekan-rekan seprofesi, ia tergabung dalam Paguyuban DAMAR SASAJI (Dalang Muda Blitar Sayuk Sawiji) — wadah bagi para dalang muda Blitar untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan menumbuhkan semangat kebersamaan.
Frekuensi pentasnya memang belum rutin. “Sekali dapat job saja sudah senang,” katanya. Bayarannya pun bervariasi, tergantung jarak dan jenis acara. Namun yang paling berharga baginya adalah bisa tampil dan menjaga kesenian ini tetap hidup.
Ia melihat, minat masyarakat terhadap pertunjukan wayang sebenarnya masih ada. “Masih banyak yang datang kalau ada pagelaran wayang. Bahkan anak-anak muda sekarang mulai belajar karawitan lagi,” ujarnya optimistis. “Tinggal bagaimana kita membuat pertunjukan yang bisa menyentuh mereka.”
Seniman yang Menulis
Selain mendalang dan berdagang, Mei Efendi juga aktif menulis puisi dan geguritan. Baginya, menulis adalah bentuk lain dari mendalang—hanya medianya berbeda. “Kalau mendalang saya berbicara lewat suara dan gerak, kalau menulis saya berbicara lewat kata-kata,” tuturnya.
Karya-karyanya sudah dimuat di beberapa media seperti Panjebar Semangat, Solopos, Jelatadotco, serta buku antologi puisi Dari Blitar untuk Indonesia. Ia menulis dengan bahasa yang sederhana namun kuat, banyak terinspirasi dari keseharian dan nilai-nilai lokal.
Tentang tokoh wayang favorit, ia menjawab dengan cara yang khas: “Semua wayang sama. Masing-masing punya makna dan pelajaran sendiri.” Sebuah jawaban yang menggambarkan kedewasaan berpikirnya.
Menjaga Api di Balik Kelir
Bagi Mei Efendi, menjaga wayang bukan hanya soal melestarikan bentuk, tetapi juga menjaga maknanya. “Wayang adalah cara orang Jawa memahami hidup,” katanya. “Kalau hilang, bukan cuma kehilangan seni, tapi kehilangan cara berpikir.”
Ia sadar, zaman berubah, penonton berganti, dan minat anak muda terpecah. Tapi di balik kelir yang sederhana, Mei Efendi tetap kukuh. Dengan suara yang menghidupkan tokoh-tokoh lama, ia mengajak penonton melihat cermin kehidupan: tentang kebaikan, kesetiaan, dan perjuangan.
Di tangan Mei Efendi, wayang tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Ia hidup, tumbuh, dan mencari bentuk barunya di tengah masyarakat yang terus bergerak.
Sebagai pedagang sekaligus dalang muda, Mei Efendi menulis kisahnya sendiri tentang keseimbangan: antara mencari nafkah dan menjaga warisan.
Di antara hiruk pikuk dunia modern, sosok seperti Mei Efendi mengingatkan kita bahwa menjaga budaya bukan pekerjaan masa lalu, tapi tanggung jawab masa kini. Ia meyakini bahwa seni wayang bukan peninggalan masa lalu, melainkan ruang hidup yang terus bernafas di tangan generasi muda. Dan lewat tangan-tangan seperti Mei Efendi, kelir itu akan terus menyala — menuturkan kisah lama dalam bahasa zaman yang baru. Dan selama masih ada suara gamelan dan cahaya lampu di balik kelir, tradisi itu tidak akan padam.

Komentar