Malam yang Tak Terlupakan di Gunung Padang: Saat Langit Menahan Hujan dan Leluhur Menyapa
ASKARA - Malam di situs megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (9/10), terasa berbeda. Sejumlah pelaku spiritual dari berbagai daerah mendaki ke punden berundak tertua di dunia itu untuk melakukan doa dan meditasi bersama bagi keselamatan bangsa.
Menariknya, perjalanan mereka diwarnai fenomena alam yang tak biasa. Hujan mengguyur deras sepanjang jalan menuju lokasi, namun sesampainya di kaki Gunung Padang, hujan berhenti seketika. Langit tetap kelabu dan mendung menggantung, tetapi tidak ada setetes air pun yang jatuh.
Rombongan beranggotakan para pelaku spiritual berusia di atas 50 tahun itu memulai perjalanan dengan ritual sederhana. Mereka mencuci tangan, wajah, dan rambut, serta meminum air jernih dari sumber mata air Gunung Padang yang dipercaya sebagai simbol penyucian diri dan penyatu energi alam.
Langkah mereka kemudian menapaki sekitar 360 anak tangga batu curam yang menjadi jalur asli peninggalan kuno. Meski menanjak hampir 45 derajat dan dilakukan di malam hari, tak satu pun merasa lelah. "Ada kekuatan batin yang menuntun setiap langkah," ujar salah satu peserta.
Setiba di teras kelima, mereka melakukan meditasi secara bergantian. Dalam kesunyian yang hanya diisi desir angin malam, masing-masing menyelami pengalaman batin yang tak biasa.
Ketika mereka berlima tengah melakukan meditasi, dua pelaku spiritual dari Jakarta, Anrico Pasaribu dan Rinto, bergabung dan turut melakukan perenungan bersama. Energi malam terasa semakin kuat, menciptakan harmoni spiritual di antara batu-batu purba yang diam membisu.
"Saya melihat banyak penari dan leluhur Nusantara hadir. Seperti sedang menari dalam upacara suci di masa lalu," tutur Pundjung Manoe setelah meditasi.
Sementara itu, Cahaya Adi Wibowo mengaku melihat sosok seperti ratu dari Mesir yang seolah menyambut kedatangan rombongan di teras lima. "Gunung Padang memiliki resonansi energi yang luar biasa. Tempat ini seperti jantung peradaban masa silam," ujarnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh D.E. Yoga, yang menyebutkan bahwa berdasarkan berbagai kajian, Gunung Padang berpotensi menjadi salah satu pusat peradaban kuno dunia. "Bisa jadi, karena usia situs ini jauh lebih tua dari piramida Mesir, antara 5.000 hingga 25.000 tahun sebelum masehi," katanya.
Ritual malam itu ditutup dengan doa bersama bagi kedamaian dan keselamatan bangsa. Saat rombongan turun dan tiba di pelataran parkir sekitar pukul 22.30, hujan kembali turun perlahan.
"Sungguh luar biasa, hujan baru turun setelah kami semua masuk ke mobil," ucap Agus Salim, peserta yang baru pertama kali mengunjungi situs tersebut.
Sementara Fransiscus Rio Winoto menambahkan, selama meditasi ia merasakan beberapa daun jatuh di pundaknya dan mendengar suara langkah kuda. "Padahal tak ada pohon di dekat tempat saya duduk, dan suara itu juga didengar peserta lain," katanya.
Malam itu, Gunung Padang kembali menunjukkan sisi misterinya. Di antara kabut, batu-batu kuno, dan doa yang terlantun lirih, situs purba itu seolah berbicara, mengingatkan bahwa di tanah Nusantara ini tersimpan energi besar leluhur yang tak lekang oleh waktu.

Komentar