Cerpen: Lelaki yang Melupakan Janji Pertama
ASKARA - Seorang lelaki duduk sendiri di sebuah kamar yang remang, menatap foto pernikahan yang sudah mulai menguning di bingkainya. Senyum istrinya yang dulu begitu hangat kini terasa asing baginya. Di sela hening malam, suara lirih dari hatinya menyeruak, menuntunnya pada perjalanan ingatan tentang janji, pengorbanan, dan cinta yang kerap ia abaikan.
Hujan baru saja reda. Sisa rintiknya menempel di kaca jendela, memantulkan cahaya lampu jalan yang kuning pucat. Tohar duduk di kursi kayu tua, menatap kosong ke arah pintu kamar. Di atas meja kecil, bingkai foto pernikahannya bersama Alya berdiri diam, seakan sedang menatap balik ke arahnya dengan senyum samar yang penuh arti.
Senyum itu yang dulu menjadi alasan ia merasa lengkap kini justru menusuk batinnya. Ada rasa bersalah yang berlapis, menumpuk, hingga ia tak mampu lagi menepis. Tohar menghela napas panjang, lalu menutup mata. Dari balik kelopak matanya yang rapat, kenangan muncul, membawa dirinya jauh mundur ke hari pertama ia dipertemukan dengan Alya.
Hari itu, ia datang bersama keluarganya ke rumah sederhana di ujung desa. Pak Darmo, ayah Alya, seorang pria renta berkulit legam, menyambutnya dengan hangat. Mata lelaki itu berkaca-kaca ketika menggenggam tangan Tohar. "Nak, aku titip anakku padamu," ucapnya lirih. "Dia bukan hanya anak gadis. Dia adalah hidupku, darahku, hasil seluruh jerih payahku. Jangan pernah biarkan air matanya jatuh karena kau."
Kalimat itu masih jelas terngiang di kepala Tohar. Saat itu ia mengangguk mantap, bahkan bersumpah dalam hati akan menjaga Alya dengan seluruh yang ia miliki. Namun, janji ternyata sering kalah oleh kesementaraan.
Hari-hari setelah pernikahan memang indah. Alya menjalani perannya sebagai istri dengan penuh kesungguhan. Ia bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan, merapikan rumah, dan sesekali memberi kejutan kecil kepada Tohar. Senyum itu, senyum yang sama di foto, tak pernah lepas dari wajahnya.
Namun waktu bergulir, dan Tohar semakin sibuk dengan pekerjaannya. Tekanan pekerjaan membuatnya cepat marah, mudah tersulut emosi, bahkan kepada orang yang paling mencintainya. Ia mulai memaki Alya untuk hal-hal kecil. Kopi terlalu manis. Baju tidak disetrika rapi. Lauk tidak sesuai selera. Semua jadi alasan untuk meninggikan suara.
Alya hanya diam. Matanya merunduk, bibirnya tersenyum getir. Ia tidak melawan, hanya sesekali berkata, "Maafkan aku." Jawaban itu justru membuat Tohar semakin terbakar, merasa seperti raja yang berhak atas segalanya.
Suatu malam, hujan turun deras, dan petir menggelegar berulang kali. Alya berdiri di depan jendela, menatap ke langit gelap. Tohar yang baru pulang kerja, lelah dan penuh kesal, kembali melontarkan kata-kata tajam. "Kenapa rumah masih berantakan? Apa saja yang kau lakukan seharian?!"
Alya menoleh, menatapnya dengan mata teduh. "Aku hanya ingin kau pulang dengan hati tenang. Maaf kalau aku belum cukup."
Namun kalimat itu tak membuat Tohar luluh. Malam itu, suara bentakan membelah rumah kecil mereka.
Waktu berjalan. Hubungan mereka semakin rapuh, meski Alya terus berusaha menambalnya. Di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, Alya menyiapkan makan malam sederhana. Lilin kecil, nasi hangat, dan sup ayam kesukaan Tohar. Ia duduk menunggu di meja, tapi Tohar tak kunjung datang. Malam itu, lelaki itu memilih pulang larut dengan aroma alkohol yang menusuk.
Alya tersenyum pahit, memadamkan lilin, lalu makan sendirian.
Hari-hari selanjutnya, tubuh Alya mulai ringkih. Wajahnya pucat, suaranya makin pelan. Namun ia tetap mengabdikan diri. Tetap menyiapkan sarapan, tetap menata rumah, tetap menunggu Tohar pulang. Hingga suatu pagi, ia jatuh pingsan di dapur.
Tohar panik, membawanya ke rumah sakit. Di ruang tunggu, seorang dokter mendekatinya dengan wajah serius. "Istri Anda mengalami komplikasi serius. Sudah lama ia menahan sakit, tapi tampaknya ia tidak pernah mengeluh. Apakah Anda tidak menyadarinya?"
Pertanyaan itu menghantam dada Tohar seperti palu. Tidak pernah mengeluh? Benar, Alya memang tidak pernah bercerita tentang sakitnya. Ia hanya tersenyum, meminta maaf setiap kali dimarahi.
Hari itu, Tohar duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Alya yang lemah. Wajahnya pucat, bibirnya kering, tapi senyumnya masih ada. "Maaf, aku tidak bisa menemanimu lebih lama," ucapnya lirih.
Air mata Tohar jatuh tanpa bisa dibendung. "Jangan bicara begitu. Aku janji akan berubah. Aku janji akan menjagamu."
Alya hanya tersenyum samar, lalu menutup mata. Napasnya terhenti dengan damai.
Tohar menjerit, tapi semua sudah terlambat.
Malam itu, ia duduk di kamar dengan bingkai foto pernikahan di tangannya. Ingatan tentang janji pertama dari Pak Darmo kembali menyala, menusuk hatinya. "Jangan pernah biarkan air matanya jatuh karena kau."
Air mata Tohar mengalir deras. Ia ingin mengulang waktu, ingin memperbaiki semuanya. Namun takdir tak mengenal kata kembali.
Lalu pintu kamar berderit pelan. Tohar terkejut, menoleh. Matanya membelalak. Alya berdiri di sana, mengenakan gaun pernikahan yang sama seperti di foto. Senyumnya lembut, matanya teduh.
"Sudah waktunya aku pulang," bisiknya.
Bingkai foto di tangan Tohar retak tiba-tiba, kaca pecah berserakan di lantai. Dalam pantulan pecahan itu, ia melihat bayangan dirinya, duduk sendirian di kamar kosong tanpa siapa-siapa.
Alya sudah pergi. Bukan hanya dari dunia, tapi juga dari seluruh ruang ingatannya. Yang tersisa hanya penyesalan, menusuk tanpa ampun. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar