Membangun Kedaulatan Herbal Lewat Genomik
ASKARA - Indonesia punya peluang besar menjadi pusat produksi herbal biodiversitas ini justru melempem dalam ketahanan herbalnya?
Menurut data yang ditunjukkan Bu Fatmawati, Direktur Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura Indonesia (TSTH2), produktivitas bawang putih Indonesia baru 7,35 ton per hektare, sementara Tiongkok sudah mencapai 24,69 ton per hektare. Selisihnya nyaris tiga kali lipat. Padahal, Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih pada 1995.
Tidak hanya bawang putih. Untuk jahe, kunyit, hingga berbagai tanaman herbal lain, Indonesia masih jauh dari panggung global. Padahal, pasar herbal dunia diperkirakan menembus USD 200 miliar per tahun. Sementara pasar jamu kita bahkan belum mencapai 10 persen dari potensi tersebut.
Melihat fakta ini, Bu Fatma membawa visi besar lewat TSTH2 yang berdiri di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Tidak di Jawa, tetapi di perbukitan hijau yang dijadikan pusat riset berbasis teknologi. Di sinilah ia memimpin tim untuk membangun kedaulatan pangan dan herbal dari hulu hingga hilir.
Yang membedakan TSTH2 dengan lembaga riset lain adalah pendekatannya. Mereka tidak hanya menanam benih, melainkan membedah DNA tanaman menggunakan ilmu genomik. Mesin-mesin canggih seperti Pacbio Revio dan MGI DNBSEQ-T7 berjajar di laboratorium. Nama yang asing bagi petani, tetapi menjadi kunci dalam menciptakan benih unggul: tahan penyakit, panen melimpah, hingga aroma khas.
“Hasil panen itu 50 persennya ditentukan oleh benih,” kata Bu Fatma dalam paparannya. Karena itu, TSTH2 tidak sekadar menyimpan benih, melainkan mengoleksi 460 spesies tanaman herbal dari 514 kabupaten/kota di Indonesia. Semua dianalisis untuk menemukan gen juara yang bisa mendongkrak produktivitas.
Bu Fatma dan tim sudah menyiapkan peta jalan yang konkret. Untuk bawang putih, misalnya, ada delapan langkah presisi: mulai dari koleksi bawang lokal, identifikasi gen unggul, hingga penyusunan SOP budidaya. Hasil awalnya pun sudah mulai terlihat.
Produk inovasi dari riset ini bahkan telah lahir. Ada parfum dari kemenyan, teh dari bunga telang, hingga herbal penurun gula darah yang sudah lolos uji dan terdaftar di BPOM. Dengan begitu, riset tidak berhenti di jurnal ilmiah, tetapi sampai ke pasar dan tangan konsumen.
Namun, seperti diingatkan banyak pengamat, tantangan terbesar justru ada pada after research. Banyak riset bagus di Indonesia kandas karena tidak sampai tahap komersialisasi atau tidak tersambung dengan petani. Regulasi yang kurang mendukung serta permainan importir sering membuat penelitian berhenti di meja laboratorium.
Beberapa kalangan mengingatkan, importasi selalu ada fee, yang sering jadi bancakan segelintir elit. Maka, jika riset ini benar-benar ingin berhasil, negara harus hadir memberikan insentif, mulai dari tax holiday untuk industri berbasis riset hingga subsidi paten bagi peneliti dalam negeri.
Meski demikian, Bu Fatma tidak berhenti pada riset. Ia menginisiasi program FORWAREK TSTH2, forum kolaborasi antar-universitas, industri, dan petani. Tujuannya jelas: membangun riset konsorsium, mengembangkan industri bersama, memberdayakan petani, dan membawa produk herbal Indonesia ke panggung dunia.
Salah satu inspirasi datang dari Food Estate yang dicanangkan Presiden. Jika benar-benar dijalankan dengan manajemen yang tepat, Food Estate bisa bersinergi dengan TSTH2, menciptakan efisiensi hulu ke hilir. Dari benih unggul hasil riset hingga hilirisasi produk herbal bernilai ekspor.
Beberapa pihak menyampaikan kekhawatiran, seperti kutipan Bung Karno: “Kita ini melawan bangsa sendiri.” Maksudnya, perjuangan kedaulatan pangan kerap berbenturan dengan kepentingan oligarki impor. Namun, suara publik yang semakin nyaring bisa menjadi tekanan positif agar kebijakan berpihak pada riset dan petani.
Optimisme tetap harus dijaga. Indonesia tidak kekurangan otak, tidak kekurangan teknologi, dan jelas tidak kekurangan biodiversitas. Yang dibutuhkan adalah kesabaran, keberanian politik, dan konsistensi. Jika ini bisa dijaga, maka bukan mustahil Indonesia menjadi pemain utama dalam industri herbal dunia.
Seperti kata penutup presentasi Bu Fatma: riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Ia harus hadir di ladang, di puskesmas, dan di meja makan rakyat Indonesia. Dari genomik bawang putih hingga parfum kemenyan, masa depan bisa lahir dari riset yang konsisten dan berpihak.
Di tengah rasa skeptis sebagian publik, justru TSTH2 memberi secercah harapan. Bahwa bangsa ini masih bisa berdaulat, bukan sekadar pasar. Bahwa riset bukan hanya milik jurnal internasional, melainkan juga solusi konkret untuk petani di Nganjuk, Humbang Hasundutan, hingga pelosok negeri. Sebuah langkah kecil menuju kemandirian besar. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar