Keracunan Massal Jadi Alarm Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis
ASKARA - Kasus keracunan massal akibat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, pada 22 dan 24 September 2025, menjadi noda hitam bagi program nasional perbaikan gizi untuk anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Meski hanya terjadi di dua kecamatan dari total 16 wilayah di Bandung Barat, insiden ini memunculkan kekhawatiran publik terhadap standar keamanan pangan dalam program yang sejatinya membawa misi mulia.
Di tengah sorotan tersebut, pelaksanaan MBG di sejumlah sekolah lain tetap berjalan baik. Di SD Negeri 2 Cimareme, Kecamatan Ngamprah, ratusan siswa tampak antusias menikmati hidangan sehat yang disediakan. “Tadi sudah makan pakai burger, enak,” ujar Aleyshia, siswi kelas 3, dengan wajah ceria saat menunggu jemputan di gerbang sekolah, Jumat (26/9).
Zainudin, penjaga sekolah yang bertugas membereskan ratusan wadah makanan, memastikan tidak pernah ada keluhan kesehatan dari para murid. “Alhamdulillah aman, nggak ada murid yang ngeluh atau sakit setelah makan,” katanya sambil merapikan ompreng makanan yang akan dikembalikan ke dapur penyedia.
Kecemasan tetap ada di kalangan orang tua, meski mereka mengapresiasi pengawasan ketat pihak sekolah. “Guru-guru selalu cek makanan sebelum dibagikan. Kalau ada yang basi langsung ditahan,” tutur Siti, wali murid kelas 4. Warga lainnya, Linda, menyarankan perbaikan menu dan sistem penyimpanan agar makanan tidak mudah basi. “Kalau masaknya dini hari, lalu dibagikan jam 10, pasti makanan jadi dingin,” ujarnya.
Program MBG juga disambut antusias di tingkat sekolah menengah. Farid, siswa SMK Negeri 4 Padalarang, mengaku senang dengan adanya makanan gratis bergizi. “Selain menambah gizi, uang jajan bisa disisihkan untuk tabungan,” katanya. Sementara itu, sejumlah siswa SMP Negeri 1 Padalarang berharap program ini segera hadir di sekolah mereka.
Pakar kebijakan publik Universitas Pasundan, Eki Baehaki, menilai MBG sangat penting untuk menekan stunting, anemia, dan malnutrisi kronis. Namun ia mengingatkan perlunya perbaikan mendasar. “Sepiring makan bergizi gratis di sekolah adalah intervensi negara yang sangat dibutuhkan. Tapi niat mulia bisa runtuh oleh tata kelola yang rapuh,” ujarnya.
Menurut Eki, kasus keracunan berulang adalah “lampu merah” yang menunjukkan prinsip keamanan pangan belum dijalankan secara disiplin. “Program MBG harus terus jalan, tapi perlu revitalisasi dengan tata kelola yang ketat agar tidak berbalik menjadi kerugian kesehatan dan hilangnya kepercayaan publik,” tegasnya.
Meski diterpa cobaan, banyak orang tua dan siswa berharap program Makan Bergizi Gratis tetap dilanjutkan, dengan pengawasan yang lebih kuat agar misi menyehatkan generasi muda tidak terhenti di tengah jalan.

Komentar