Rabu, 17 Juni 2026 | 23:46
COMMUNITY

Ken Setiawan: Remaja dan Anak Kini Jadi Sasaran Empuk Paham Radikalisme dan Terorisme

Ken Setiawan: Remaja dan Anak Kini Jadi Sasaran Empuk Paham Radikalisme dan Terorisme
Ken Setiawan (dok.askara)

ASKARA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kembali menggelar  program Desa Siap Siaga Nasional sebagai bagian dari upaya pencegahan dini terhadap paham radikalisme dan terorisme.

‎Kegiatan di berlangsung di Way Lunik, Panjang, Bandar Lampung, pada Selasa, (23/09), dengan melibatkan perangkat desa serta satgas siap siaga yang telah dibentuk BNPT.

‎Dalam kegiatan tersebut, hadir Ken Setiawan, pendiri NII Crisis Center sebagai narasumber. 

‎Ia menerangkan bahwa kehadiran BNPT merupakan bentuk nyata hadirnya negara dalam mencegah paham Radikal dimasyarakat.

‎Menurut Ken, saat ini  kelompok radikal menyasar kalangan anak anak dan remaja. 

‎Karena itu, ia mengingatkan orang tua untuk selalu mengawasi dan mengontrol aktifitas putra putrinya agar tidak terpapar ideologi berbahaya tersebut. 

‎Belakangan ini, Densus 88 telah menangkap sejumlah jaringan teroris yang melibatkan remaja dan anak anak di berbagai daerah.

‎"Bahkan ada pelajar SMP yang sudah siap melakukan aksi peledakan kantor polisi," ungkap Ken. 

‎Ken menjelaskan, kerentanan remaja terhadap radikalisme dipengaruhi berbagai faktor, mulai psikologis, sosial, ekonomi, dan penggunaan internet. 

‎Ideologi ekstrem kerap dianggap mampu menjawab pencarian jati diri maupun rasa ketidakpuasan mereka terhadap isu sosial, politik, dan hukum.

‎Internet dan media sosial menjadi  alat utama penyebaran ideologi radikal dan sekaligus sarana perekrutan anak muda. 

‎Minimnya literasi digital dan penggunaan internet tanpa filter membuat anak anak mudah terpengaruh. 

‎"Tayangan konflik dan peperangan di luar negeri seringkali justru membuat mereka semakin fanatik terhadap kelompok radikal,"  jelasnya. 

‎Ia menambahkan, usia muda dengan kondisi psikologis yang labil membuat remaja rentan mencari identitas atau makna hidup melalui ideologi ekstrem. 

‎Narasi  hitam-putih serta penebusan dosa instan yang ditawarkan kelompok radikal seringkali menjadi daya tarik. 

‎Akibatnya, anak-anak yang terpapar bisa menjadi korban maupun pelaku teroris. 

‎"Penanganannya bagi yang sudah terpapar harus difokuskan pada perlindungan, program deradikalisasi, pembinaan keluarga, serta penguatan literasi digital dan pemahaman agama yang benar," tutup Ken.

Komentar