Cerpen: Pertemuan Singkat Di Tangga Sunyi
ASKARA - Ada pertemuan-pertemuan singkat yang tak pernah kita duga. Sebuah perjumpaan tanpa rencana, yang datang tiba-tiba, lalu hilang begitu cepat hingga menyisakan tanda tanya. Kadang, orang asing hadir hanya sejenak untuk meninggalkan jejak dalam ingatan kita, seolah semesta sengaja mengatur agar ada cerita yang tetap melekat, meski tak pernah selesai.
Hari itu, aku dan Kang Mas hanya berniat sederhana. Mau salat duhur ke masjid, tapi sebelumnya mampir dulu beli es kopi. Cuaca siang bolong memang butuh yang segar, anyes-anyes. Setelah gelas kopi di tangan, pandangan kami tertuju pada tangga di sebelah kafe. Tempatnya sepi, apik, dengan cahaya matahari jatuh lembut di sela tembok. Cocok untuk berfoto.
"Ayo Yah, tolong fotoin aku," pintaku.
Kang Mas mengangguk, tapi setiap hasil jepretan rasanya tak pernah pas. Entah miring, entah terlalu dekat, entah wajahku buram. Aku hanya bisa tertawa getir. "Dasar bapak-bapak kalau moto, hahaha."
Sejujurnya aku ingin foto berdua, bukan sendiri. Foto yang apik, bisa jadi kenangan. Tapi aku diam saja, hanya menyeruput kopi. Sungguh, tanpa Mbak Mamik yang biasanya jadi fotografer dadakan, semuanya terasa aneh.
Tiba-tiba, muncul tiga ibu-ibu muda. Dua di antaranya naik ke atas tangga dan saling memotret. Yang satu, cantik gemoy, lincah, bertopi lebar, justru mendekat ke arahku. Senyumnya ramah.
"Bu Aji, sini saya fotokan sama Pak Aji. Geser kanan dikit, iya terus, pas tengah tulisan. Sini hapenya, biar saya fotokan."
Aku kaget, Kang Mas juga kaget. Tanpa pikir panjang, kuberikan ponselku. Dia cekatan, bahkan profesional. Jepretan pertama saja sudah bagus. Aku dan Kang Mas saling pandang, kaku, rikuh, tapi juga senang.
"Ayo Bu Aji, tatap-tatapan ya sama Pak Aji," ucapnya sambil mengarahkan gaya.
Aku jadi tergelak. Rasanya seperti dipotret Mbak Mamik lagi. Tulus sekali mbaknya. Bahkan sempat merekam video singkat kami berjalan pelan menuruni tangga. Semua terasa alami.
Saat ponsel kembali ke tanganku, aku hendak menawarkan gantian memotret mereka bertiga. Tapi mereka menolak halus. "Tidak usah, Bu Aji. Bestie saya sudah pintar moto," katanya.
Lalu buru-buru mereka pamit. Mbaknya yang motretku tadi bahkan tidak sempat mengambil satu pun foto di tempat aku berdiri. Aku menahan niat, ingin sekali memaksa agar aku bisa membalas budi. Tapi langkah mereka sudah cepat menuruni tangga.
Aku sempat berteriak, "Mbak, njenengan dari mana?"
Sambil meluncur di atas koper elektrik ya, koper elektrik! dia menjawab, "Saya dari Makassar, Buu."
Aku dan Kang Mas hanya tertegun. Tiga-tiganya meluncur ke arah barat, menuruni jalan yang naik-turun tanpa ragu, tanpa sempat menoleh lagi. Aku tak sempat merekam, tak sempat berfoto. Mereka hilang begitu saja.
Malamnya, aku memandangi hasil jepretan di ponsel. Jelas sekali: foto-foto itu indah, seolah bukan sekadar hasil kamera, tapi juga doa yang terekam. Entah kenapa, setiap aku menatapnya, mataku terasa panas. Seakan-akan aku melihat wajah Mbak Mamik almarhumah saudara jauhku yang dulu sering jadi fotografer sukarela.
Aku bergumam, "Ya Allah, ini siapa sebenarnya tadi?"
Kang Mas ikut memandangi. "Lho, kok wajahnya mirip…," suaranya menggantung. Aku menoleh cepat. "Mirip siapa?"
Dia terdiam. Aku tahu persis, dalam hatinya terlintas hal yang sama.
Keesokan harinya, aku kembali ke kafe itu. Tangga masih ada, sepi, teduh. Tapi ada yang berbeda. Di salah satu dinding tangga, kini menempel sebuah poster pameran foto lama potret tiga perempuan Makassar tahun 1970-an, sedang tersenyum, satu di antaranya memakai topi lebar.
Aku mendekat, terperanjat. Wajah mereka persis dengan tiga ibu-ibu muda yang kemarin. Sama. Tidak berbeda sedikit pun.
Aku tercekat, merinding, tubuhku lunglai.
Tiga perempuan itu… bukankah sudah meninggal puluhan tahun lalu dalam kecelakaan laut di Selat Makassar?
Dan hari itu, tanpa aku sadari, mereka telah hadir kembali hanya untuk memotret aku dan Kang Mas.
Aku pulang dengan tangan gemetar. Kubuka ponsel lagi, memeriksa galeri foto. Anehnya, foto-foto hasil jepretan kemarin sudah hilang semua. Kosong. Hanya tersisa satu video berdurasi tiga detik: aku dan Kang Mas turun tangga pelan-pelan, dengan suara perempuan gemulai berbisik, “Sudah… kenangan ini aman bersamamu.” (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar