Fisika Sebelum Kode Cerdas Memimpin AI
ASKARA - Jika saya berumur 20 tahun hari ini, saya akan memilih fisika ketimbang pemrograman begitulah nada dari pandangan Jensen Huang, CEO NVIDIA, tentang masa depan pendidikan teknologi. Dalam era “Physical AI”, ia menegaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap hukum fisika lebih krusial daripada sekadar menulis kode sebuah tantangan intelektual yang mengajak kita berpikir kembali mengenai tujuan pendidikan digital masa depan.
Pernyataan mengejutkan dari Jensen Huang, CEO dan Co founder NVIDIA, muncul saat kunjungan ke Beijing pada November 2024. Ia berkata, “Jika saya berusia 20 tahun hari ini, saya akan mempelajari fisika, bukan ilmu perangkat lunak (coding)” (The Economic Times, 27 November 2024). Dalam era artificial intelligence (AI) yang kian meningkat kemampuannya, Huang menyoroti pentingnya “Physical AI”, yaitu kecerdasan buatan yang tidak hanya terbatas pada algoritma digital, melainkan mampu berinteraksi secara nyata dengan lingkungan dunia fisik (Kumparan, 28 November 2024).
AI sendiri telah melewati beberapa fase evolusi. Pertama, “Perception AI” yang memahami data sensorik seperti visi komputer dan pengenalan suara. Kedua, “Generative AI” yang mampu menghasilkan teks, gambar, suara, maupun kode. Kini, menurut Huang, dunia memasuki fase baru: “Reasoning AI”, yaitu AI yang mampu bernalar, membuat keputusan, dan memecahkan masalah baru. Semua ini menuju pada tahap lanjut “Physical AI”, yaitu sistem yang menginternalisasi hukum hukum fisika seperti gesekan, inersia, gravitasi, dan kausalitas, untuk bergerak serta berinteraksi di dunia nyata (Times of India, 28 November 2024).
Contohnya dapat dilihat pada robot otonom. Robot yang dikembangkan untuk membantu di pabrik harus mampu memprediksi posisi benda bergerak, memahami gaya yang dibutuhkan untuk mencengkeram objek rapuh, serta merancang gerakan dinamis tanpa merusak lingkungannya. Semua itu hanya mungkin jika AI memiliki pemahaman fisika. Tanpa itu, kecerdasan buatan hanya menjadi perangkat lunak yang “cerdas di atas kertas” tetapi gagal dalam dunia nyata (Mochy Group, 29 November 2024).
Huang menekankan bahwa dunia pendidikan tidak bisa lagi berfokus hanya pada coding. Menurutnya, di masa depan anak muda sebaiknya mendalami ilmu alam seperti fisika, biologi, manufaktur, atau pertanian, karena disiplin ini akan menjadi pilar di era AI generatif yang semakin menyederhanakan pemrograman (Kumparan, 28 November 2024).
Pandangan itu diperkuat oleh laporan Katadata (2 Desember 2024) yang menyebutkan bahwa coding mungkin tidak lagi menjadi keterampilan mendasar di masa depan. AI kini mampu menulis kode secara otomatis hanya dengan instruksi berbasis bahasa, sehingga manusia dapat fokus pada bidang keilmuan yang lebih mendalam dan berdampak nyata, seperti biologi molekuler, ilmu material, hingga teknologi energi terbarukan.
Namun, pandangan ini juga menuai perdebatan. Di forum komunitas daring, sejumlah insinyur menekankan bahwa pekerjaan teknolog tidak hanya soal mengetik kode. Faktanya, hanya sekitar 15 sampai 20 persen waktu kerja seorang insinyur dipakai untuk menulis kode. Sisanya adalah mendesain arsitektur, menganalisis sistem, dan menyusun solusi kompleks. Hal ini menegaskan bahwa fondasi pemahaman dunia nyata, termasuk fisika, sangat penting agar manusia tidak mudah dikelabui oleh output AI yang tampak benar tetapi keliru (Reddit, 30 November 2024).
Dari perspektif epistemologis, fisika menjadi dasar untuk memahami dan mengendalikan AI yang merambah dunia nyata. Hukum hukum yang membentuk struktur dunia seperti gravitasi, energi, momentum, kekuatan, dan kausalitas semuanya fundamental dalam fisika. Tanpa memahami ini, AI akan tetap terkurung dalam simulasi digital tanpa kemampuan untuk beroperasi dalam realitas.
Pendidikan masa depan, dengan demikian, idealnya menekankan beberapa hal penting:
1. Pemahaman prinsip fisika sebagai fondasi penguasaan ilmu teknologi.
2. Kemampuan berpikir sistemik dan desain berbasis fisika, bukan sekadar keterampilan mengetik kode digital.
3. Integrasi ilmu alam dan teknologi digital, agar inovasi tidak kehilangan pijakan pada kebenaran alamiah.
Pandangan ini sejalan dengan tokoh teknologi lain. Elon Musk, misalnya, dalam wawancara publik juga menegaskan pentingnya fisika dan matematika untuk memahami alam semesta sekaligus menciptakan teknologi baru (Alifis, 2 Agustus 2025). Musk menyebut fisika sebagai “kerangka berpikir pertama” yang harus dipakai untuk memecahkan masalah apa pun. Ini semakin memperkuat posisi fisika sebagai fondasi utama bagi pengembangan teknologi berbasis AI.
Penutup Inspiratif:
Kita sedang menyaksikan babak baru di mana manusia tidak lagi sekadar mencipta dalam ranah maya. Di sinilah fisika kembali menjadi guru utama dalam pendidikan teknologi, bukan untuk membatasi kreativitas, tetapi justru memperkuatnya dengan pemahaman mendalam akan dunia nyata. Menurut Jensen Huang, masa depan AI yang cerdas adalah masa depan yang dijalankan dengan kecerdasan alamiah. Dengan demikian, “fisik sebelum kode” bukan sekadar slogan, melainkan prasyarat mutlak bagi lahirnya inovasi sejati. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar