Rabu, 17 Juni 2026 | 15:35
COMMUNITY

Bahaya Menggantungkan Hati Pada Jimat

Bahaya Menggantungkan Hati Pada Jimat
Ritual penglaris dagangan (radar Kepahiang)

ASKARA - Di sebuah ruang sempit tanpa pendingin udara, seorang pemimpin besar duduk dengan wajah pucat. Di hadapannya hanya ada sepotong roti kering, sementara perutnya sudah lama tak merasakan kenyang. Di tengah kelaparan yang melanda rakyatnya, ia menolak kenyamanan demi keadilan. Namun, siapa sangka di balik ketegasannya, ada rahasia yang mengguncang.

Langit Madinah tampak redup sore itu. Debu-debu beterbangan, membawa aroma kering yang menusuk hidung. Tanah-tanah retak bagai bibir pecah-pecah yang menunggu tetes air. Kemarau panjang telah merenggut senyum banyak keluarga. Rakyat merintih. Anak-anak menangis. Perut mereka menggeliat, menjerit meminta makanan yang tak pernah datang.

Di antara jerit kelaparan itu, berdirilah seorang pemimpin yang begitu dihormati. Umar bin Khattab, seorang khalifah yang namanya selalu menjadi perbincangan. Ketegasannya, keadilannya, dan kesederhanaannya telah menjadi legenda. Tapi, sore itu, tubuh tegarnya seperti ikut merunduk. Bajunya lusuh, matanya sembab, dan jenggotnya yang mulai memutih terlihat kusut.

Di rumah kecilnya, Umar duduk di atas tikar yang telah tipis. Tangannya menggenggam sepotong roti yang keras. Di sudut ruangan, sekarung gandum yang baru ia terima dari Baitul Mal tergeletak. Namun, bukan untuk dirinya. Semua itu telah ia niatkan untuk dibagi kepada rakyat.

Suara langkah tergesa terdengar di pintu. Seorang sahabat setianya, Aslam, masuk dengan wajah gusar. “Wahai Amirul Mukminin, kenapa engkau tetap seperti ini? Engkau adalah pemimpin. Setidaknya makanlah agar engkau kuat memimpin kami.”

Umar menoleh dengan sorot mata yang membuat Aslam tercekat. “Aslam,” ujarnya lirih, “bagaimana aku bisa kenyang sementara rakyatku kelaparan? Seburuk-buruk pemimpin adalah diriku bila aku merasa aman dan kenyang, sedangkan mereka menderita.”

Aslam menunduk. Tak ada kata yang bisa keluar selain butiran air mata yang jatuh di pipi. Umar kemudian bangkit. Dengan pundak yang kokoh meski tubuhnya lemah, ia memanggul karung gandum. Ia berjalan dari rumah ke rumah, membagikan bahan makanan untuk mereka yang membutuhkan.

Hari-hari berikutnya, kelaparan semakin parah. Umar tetap teguh. Ia menolak menikmati makanan enak, menolak berpakaian mewah. Bahkan, tubuhnya semakin kurus. Setiap kali ada makanan yang datang ke Baitul Mal, ia pastikan rakyat yang menerimanya lebih dulu.

Hingga suatu malam, saat bintang-bintang bersembunyi di balik awan, Umar keluar menyusuri jalan. Ia ingin melihat keadaan rakyatnya. Di sebuah gubuk reyot, ia mendengar suara tangis anak kecil. Perlahan ia mendekat. Dari celah dinding, ia melihat seorang ibu sedang mengaduk panci di atas api kecil. Namun, bau masakan tak tercium.

Umar mendekat dan mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum,” ucapnya.

Ibu itu menoleh dengan mata lelah. “Wa’alaikum salam.”

“Kenapa anak-anakmu menangis?” tanya Umar.

“Mereka lapar, Tuan. Aku hanya memasak air dan batu agar mereka berhenti menangis. Mereka kira aku sedang memasak makanan.”

Air mata Umar jatuh tanpa ia sadari. Ia segera kembali ke Baitul Mal, memikul sekarung gandum dan daging, lalu mengantarkannya sendiri. Ia masak untuk keluarga itu, meniup api hingga asap hitam mengotori wajahnya. Ia tak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah senyum anak-anak itu ketika perut mereka kenyang.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Bencana perlahan reda. Hujan turun, tanah kembali basah, dan rakyat bisa kembali bernapas lega. Namun, Umar tidak pernah kembali ke kehidupan yang nyaman. Kesederhanaan adalah jalan yang ia pilih sampai akhir hayatnya.

Tahun-tahun berlalu. Kisah tentang Umar menjadi pelajaran bagi generasi. Bahwa pemimpin sejati bukanlah yang duduk di singgasana dengan perut kenyang, melainkan yang rela lapar demi rakyatnya.

Namun, siapa sangka, di balik semua keteguhan itu, ada rahasia yang tak pernah diungkapkan. Rahasia yang Umar simpan rapat-rapat hingga ajal menjemput.

Pada suatu hari, setelah Umar wafat, Aslam menemukan sebuah kantong kecil di pojok rumah Umar. Di dalamnya ada beberapa keping dinar, secarik kain usang, dan sebuah surat dengan tulisan tangan Umar sendiri. Dengan tangan bergetar, Aslam membacanya:

“Wahai Tuhanku, jika ada hari di mana aku terpaksa makan kenyang sementara rakyatku lapar, maka jadikanlah itu sebagai dosaku yang Engkau ampuni. Sesungguhnya aku pernah tergoda, hanya sekali, memakan daging yang tidak semestinya. Tapi aku menyesal, dan aku menulis ini agar aku tidak mati dalam kemunafikan.”

Air mata Aslam jatuh bercucuran. Ia terdiam, tak percaya bahwa seorang Umar bin Khattab yang begitu mulia pun pernah merasa bersalah karena satu potong daging. Dunia mungkin tak pernah tahu, tapi Umar tahu, Allah tahu, dan itu cukup baginya.

Rahasia itu tidak mengurangi kebesarannya. Justru menambah keagungannya. Karena bahkan pemimpin yang adil pun manusia, yang bisa salah, tapi segera kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus.

Malam itu, Madinah kembali sunyi. Di langit, bintang-bintang berkelip, seolah menjadi saksi bahwa Umar bin Khattab bukan hanya pemimpin besar, tapi juga hamba yang rendah hati, yang selalu takut menjadi pemimpin yang buruk. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar