Rabu, 17 Juni 2026 | 19:39
Ruang Menulis

Misteri Ojol Glowing di Istana Gibran

Misteri Ojol Glowing di Istana Gibran
Ilustrasi AI

Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

ASKARA - Tiba-tiba ramai mengulik pertemuan perwakilan ojol dengan Wapres Gibran. Oh, ternyata ramai meragukan itu abang ojol. Benarkah demikian? Mari kita lindas, eh salah, kupas pertemuan itu sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Sebuah pertemuan epik antara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan “perwakilan ojol” mendadak jadi bahan investigasi nasional. Pertemuan yang konon sakral itu menampilkan delapan sosok berjaket hijau segar, wajah glowing, sepatu mahal, dan bahasa bak mahasiswa debat PPI Australia. Mereka muncul bak malaikat ojol turun dari langit, bukan manusia biasa yang berjuang membayar cicilan motor tiap tanggal tua. Sejak hari itu, netizen pun mengangkat kaca pembesar virtual, menjadi detektif digital untuk menjawab satu pertanyaan fundamental, siapa sebenarnya para “ojol istana” ini?

Bayangkan, wak! Di ruang megah istana, satu dari mereka menyebut dirinya “taruna ojol.” Taruna! Kata yang lebih cocok untuk akademi militer, bukan untuk abang ojol yang biasanya bilang “Bang, kita lewat jalan pintas aja, macet nih.” Lalu ada kalimat sakti, “Eskalasi demonstrasi harus dikendalikan.” Coba tanya ojol asli, kata “eskalasi” mungkin dikira merek obat nyamuk. Namun di hadapan Gibran, kata itu meluncur sehalus skripsi. Netizen pun gemetar, bukan karena hormat, tapi karena geli. Apakah ini audisi sinetron politik berjudul Ojol Glowing Mencari Legitimasi?

Tak berhenti di situ, outfit mereka jadi bahan gosip nasional. Jaket ojol masih mulus, seperti baru keluar dari pabrik. Sementara sepatu Air Jordan senilai dua juta lebih menempel manis di kaki. Pertanyaan pun muncul, siapa yang tega menggunakan Air Jordan untuk ngerit? Apakah orderan ojol sekarang langsung ke Surga Mall? Atau mereka ini ojol dimensi lain, yang ongkos minimalnya sudah dalam dolar Singapura?

Kemudian, datanglah klarifikasi dari Garda Indonesia, asosiasi besar para pengemudi. Jawaban mereka lugas, bahkan kejam, “Itu bukan anggota kami.” Sontak suasana berubah. Jika asosiasi tak kenal, publik tak kenal, lalu siapa yang kenal? Misteri ini berubah jadi kisah konspirasi. Ada yang bilang mereka adalah aktor panggilan. Ada yang curiga mereka influencer yang sedang magang jadi ojol. Ada pula teori ekstrem, mereka adalah agen rahasia, dikirim untuk menguji seberapa jauh rakyat bisa menelan drama politik.

Filsafat investigasi netizen pun berkembang liar. “Ojol taruna” dianggap sebagai prototipe, eksperimen sosial rahasia pemerintah, mungkin proyek rahasia seperti “Manusia Setengah Ojol” yang dikembangkan di laboratorium politik. Ada yang menyebut ini strategi klasik pencitraan, menciptakan versi ideal rakyat kecil, mengkilap, sopan, dan patuh, lalu menampilkan mereka di hadapan penguasa agar narasi harmoni tercipta. Tetapi rakyat tidak sebodoh itu. Mereka sudah kenyang sinetron, sudah kenyang drama, sehingga langsung tahu aroma “settingan” lebih kuat dari aroma bensin eceran di pinggir jalan.

Lalu muncullah lapisan teori konspirasi lebih liar. Apakah mungkin “ojol istana” ini bukan manusia biasa, melainkan deepfake sosial, hologram politik yang diciptakan untuk menutupi kegaduhan demo? Ataukah ini bentuk operasi intelijen, di mana sekelompok figur dipoles untuk terlihat mewakili rakyat. Padahal, mereka tak pernah bergelut di kemacetan dengan order Rp 7.000?

Sementara itu, di luar istana, para ojol asli masih membara. Mereka berteriak soal keadilan untuk Affan Kurniawan, mereka menuntut kesejahteraan, mereka berkeringat di aspal yang panas. Kontrasnya sungguh dramatis, di dalam ruangan ber-AC, ada ojol glowing yang bicara filsafat “eskalasi,” sementara di jalan raya ada ribuan ojol sejati yang berjuang dengan bahasa sederhana, “Kami lapar.”

Begitulah, bangsa ini kembali dihadapkan pada dilema filosofis, manakah yang nyata, manakah yang sandiwara? Apakah kita sedang menyaksikan rapat politik atau episode MasterChef Pencitraan? Pertanyaan itu menggantung di udara, menjadi asap tebal konspirasi yang menutupi langit republik. Lalu, rakyat, sambil menyeruput kopi sachet di warung, hanya bisa berkata, “Drama apalagi, nih, wak?”

Komentar