Rabu, 22 Juli 2026 | 04:52
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri: Pemimpin Beriman dan Berakhlak, Jalan Menuju Keberkahan Dunia dan Akhirat

Prof. Rokhmin Dahuri: Pemimpin Beriman dan Berakhlak, Jalan Menuju Keberkahan Dunia dan Akhirat
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS (screenshot rasiftv)

ASKARA - Di tengah hiruk-pikuk jabatan dan gemerlap dunia, Cendikiawan Muslim yang juga Pakar Ekonomi Kelautan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS mengingatkan kita akan esensi kepemimpinan dalam perspektif Islam: bukan sekadar mengelola kekuasaan, tetapi menuntun umat menuju keberkahan dunia dan akhirat.

Menurutnya, pemimpin yang berhasil bukan hanya sukses secara duniawi, tetapi juga di hadapan Allah SWT di akhirat kelak. Setiap muslim yang mengemban amanah publik, baik sebagai presiden, anggota DPR, gubernur, bupati, hingga kepala desa, dituntut untuk meneladani empat sifat utama Rasulullah SAW.

“Seorang pemimpin muslim, entah itu presiden, DPR, bupati hingga kepala desa, minimal harus meneladani empat sifat Nabi Muhammad SAW: siddiq (jujur), amanah (dipercaya), fathonah (cerdas dan visioner), serta tabligh (mampu menyampaikan kebenaran)," ujar anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan itu, dikutip dari akun YouTube @RasilTV bertema "Keberkahan negeri tergantung keimanan rakyatnya", Sabtu (30/8).

Ia juga menekankan pentingnya sikap qanaah, yaitu bersyukur atas hasil ikhtiar dan sabar menghadapi cobaan. "Hidup di dunia ini ujian. Baik saat diuji harta, jabatan, maupun saat diuji kekurangan," ujar Rektor Universitas UMMI Bogor ini.

Seorang pemimpin sejati bukan hanya berhasil secara pribadi, tetapi mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas. Dalam Islam, keberhasilan itu ditakar bukan hanya oleh prestasi duniawi, tetapi juga oleh nilai-nilai abadi yang dibawa hingga akhirat.

"Seorang pemimpin juga harus punya kemampuan tabligh (berbagi kelebihan), kemampuan untuk menyampaikan kepada rakyat, kepada publik supaya bisa mempengaruhi dan memobilisir rakyat untuk kebajikan, kerja keras, mencintai dan  tidak kikir," katanya.

Kepemimpinan yang Mencipta Cahaya

Selanjutnya, Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini menjabarkan, pemimpin yang bersyukur dan bertakwa akan menjadi bintang gemintang, penyebar cahaya kebaikan di tengah masyarakat. Ia tidak hanya mengelola kekuasaan, tetapi juga menginspirasi, membimbing, dan membagikan kelebihan yang dimilikinya.

Dalam menghadapi dua ujian dunia, kenikmatan jabatan dan cobaan hidup, pemimpin yang beriman tidak tergelincir menjadi binal atau tamak. Prof. Rokhmin mengajak agar para pejabat dan hartawan meneladani para sahabat Nabi, seperti Sayyidina Abu Bakar, Usman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf, yang menggunakan harta dan kekuasaan untuk membangun umat, bukan memperkaya diri, menciptakan aktivitas ekonomi, rumah sakit, mengurus masjid dsb. Selain itu, bersabar ketika kita mendapat cobaan.

“Jadilah pemimpin yang adil, hartawan yang dermawan, dan rakyat yang beriman. Jika itu terjadi, negeri ini akan diberkahi, maju dan makmur. Jika sebagai pemimpin punya sifat bersyukur dan bertakwa akan menjadi bintang gemintang, mengadu penyebar kebajikan," ujarnya.

Menuju Negeri yang Diberkahi

Keberkahan sebuah negeri tidak hanya bergantung pada pemimpinnya, tetapi juga pada keimanan rakyatnya. Ketika pemimpin berakhlak, berilmu, dan berima, dan rakyat pun demikian, maka negeri itu akan tumbuh dalam kemakmuran dan keberkahan.

Menurutnya, jika kita ingin maju dan makmur pemimpinnya harus beriman dan rakyat nya pun harus beriman. Sedangkan pemimpin yang baik punya akhlak. Kemudian dia punya kapabilitas duniawi, sains, teknologi, manajemen.

“Serta punya dimensi keimanan bahwa hidup itu tak berhenti di dunia, tetapi juga abadan abadan di akhirat," pesan Prof. Rokhmin Dahuri.Maka, jadilah pemimpin yang tidak hanya mengurus dunia, tetapi juga menyiapkan bekal untuk kehidupan abadi.

Pentingnya Akhlak Mulia

Dosen Kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu mengkritik pemimpin yang fokus pada tujuan duniawi semata, karena menurut beliau, dimensi akhirat lebih sulit digenggam. Beliau menyampaikan pandangan ini sebagai bagian dari nasihatnya tentang pentingnya akhlak mulia untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan dunia serta akhirat, dan bukan hanya mengejar keuntungan duniawi. 

"Sekarang banyak pemimpin yang hubbuddunya, takut kasus hukumnya terbongkar jadi tersandera. Hukum bukan untuk menegakkan keadilan tetapi untuk kepentingan pribadi, mengorbankan kepentingan akhirat untuk dunia," tegasnya 

Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu menegaskan, sebagai Muslim Insya Allah ingin hidup selamat sukses bahagia not only di dunia tetapi juga di akhirat. 

"Saya teringat hadits Nabi, bahwa orang orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling banyak manfaatnya," ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, di surat Al-Hujurat ayat 13, bahwa orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling beriman dan bertakwa. Kemudian, orang yang paling banyak manfaatnya kepada sesama Insan dan bahkan alam semesta. Dalam perspektif Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

"Andaikan Presiden Republik Indonesia, andaikan anggota DPR di Senayan itu diisi orang-orang muslim yang sholeh dan sahabat-sahabat non muslim juga moralitas yang bagus nggak ada kezaliman," tegasnya.

Indonesia punya segalanya, kekayaan alam nya melimpah, hampir semua bahan untuk teknologi konduktor, chips, itu adanya di Indonesia. Lautnya kaya raya tapi kita masih menjadi lower middle income country?

Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan fakta kemiskinan di Indonesia. Selama 6 bulan turun kampanye dari Cirebon Timur sampai Indramayu Barat, statistik 45 persen rumah yang berada di Kabupaten Cirebon, Indramayu dihuni oleh 2 keluarga lebih. Artinya, anak itu menikah, tidak punya pekerjaan, atau gajinya kecil sekali.

Dari data Oxfam tahun 2023, 1 persen orang terkaya Indonesia sama dengan 50 persen kekayaan negara Indonesia. Sedangkan 4 orang kaya di Indonesia sama dengan 40 persen  penduduk Indonesia. Karena kesenjangan yang melebar dan pertumbuhan yang rendah yang seharusnya minimal 7 persen hanya 5 persen, kemudian sifat pertumbuhan tidak berkualitas maka kemiskinan menjadi masif dan ketimpangan kaya-miskin kita terburuk ketiga di dunia.

Menurutnya, karena Pemimpin kita kebanyakan untuk kepentingan pribadi, keluarganya, dan hampir semua Pejabat itu ikut bisnis. "Padahal Presiden, menteri, wakil presiden, gubernur, bupati seharusnya menjadi wasit dan regulator. Parahnya, pihak keluarga dan diri sendiri ikut bisnis. 

"Menurut saya ini titik Lemah atau biang kerok, kenapa negara yang amat kaya raya malah miskin," sebut Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.

Kemudian, riset yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat  ke-60 dari 61 negara soal minat membaca Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Indeks Alibaca) Nasional, termasuk di level rendah (37,32). Selanjutnya, 9 provinsi masuk dalam level sedang (26%); 24 provinsi masuk level rendah (71%); dan 1 provinsi masuk level sangat rendah (3%). Sedangkan Indeks Alibaca tertinggi berada di Provinsi DKI Jakarta (58,16).

"Literasi kita pun terburuk kedua di dunia, hanya menang dari Negara Boswana. Hal ini, menjadi paradok karena ayat suci Alquran mengajarkan untuk membaca (Iqra)," katanya.

Terbukti dari hasil penelitian Monash University, 2014, terangnya, ternyata sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, umat Islam yang melaksanakan shalat fardhu hanya sekitar 25 persen. Sebagian besar mengerjakan amal saleh hanya untuk diri sendiri atau keluarganya.

"Jangan-jangan yang khusu hanya 5 persen. Padahal shalat yang berefek pada kebajikan adalah shalat yang khusu untuk mencegah kemungkaran itu syaratnya shalatnya khusu. Hal itu menjadi masalah kebobrokan hukum karena orang tidak percaya dunia dan akhirat," tandasnya..

Ia berharap, semoga rekan-rekan DPR periode 2024-2029 apapun partainya, merupakan insan yang kompatibel, punya kompetensi dan punya akhlak yang mulia.

"Saya yakin kalau majority of anggota DPR tahun 2024-2029 dengan kriteria tadi, Insya Allah akan kontribusi besar bagi terwujudnya Indonesia yang thayyibatun wa rabbun ghofur," tegas anggota Dewan Pakar MN-KAHMI itu.

Komentar