Cerpen: Mahasiswa Merawat Bayi Hingga Menikahinya
ASKARA - Di sebuah teras kos sederhana tahun 2004, hidup seorang mahasiswa bernama Arman yang tanpa sengaja menemukan bayi perempuan ditinggalkan begitu saja. Kehidupannya yang semula penuh keterbatasan berubah drastis sejak hari itu. Ia merawat bayi itu dengan penuh kasih, membesarkannya hingga dewasa, sampai akhirnya, pada tahun 2025, sebuah keputusan mengejutkan mengubah segalanya.
Arman masih ingat betul malam itu. Hujan deras mengguyur kota, dan ia yang baru pulang dari perpustakaan mendengar suara tangis lirih di teras kosannya. Ketika membuka pintu, ia terkejut melihat seorang bayi perempuan mungil terbungkus kain tipis, tubuhnya gemetar kedinginan. Arman panik, tapi tanpa berpikir panjang, ia segera membawanya masuk, menghangatkannya dengan selimut, lalu menatap wajah mungil itu yang seakan meminta perlindungan.
Sejak hari itu, hidup Arman berubah. Mahasiswa jurusan hukum ini, yang biasanya hanya memikirkan kuliah dan organisasi, kini harus belajar membeli susu formula, mengganti popok, dan menenangkan tangisan tengah malam. Awalnya, teman-teman kosnya menganggap aneh, bahkan beberapa mencibir, “Mahasiswa kok bawa bayi, kayak bapak-bapak saja.” Namun, Arman tidak peduli. Hatinya sudah terikat pada bayi itu, yang kemudian ia beri nama Aisyah.
Hari-hari berlalu penuh perjuangan. Uang kiriman orang tua yang pas-pasan harus diatur sebaik mungkin. Arman rela mengurangi makan di luar demi membeli kebutuhan bayi. Ia juga mengambil kerja sambilan mengetik skripsi orang dan menjadi tutor privat agar bisa menutupi biaya tambahan. Meski lelah, Arman justru merasa hidupnya semakin bermakna.
Aisyah tumbuh di lingkungan kos yang sederhana. Para tetangga ikut membantu, ada yang sesekali membawakan bubur bayi, ada pula yang menghibur ketika Arman kelelahan. Tapi, sebagian tetap memandang aneh. “Anak siapa sebenarnya itu?” gumam seorang ibu kos. Arman hanya tersenyum, ia tak pernah tahu siapa orang tua kandung Aisyah.
Waktu bergulir. Tahun demi tahun, Aisyah tumbuh menjadi anak cerdas dan manis. Arman, yang akhirnya lulus kuliah, bekerja sebagai pengacara muda. Hidupnya mulai membaik, tapi tanggung jawabnya tetap sama: membesarkan Aisyah dengan penuh kasih sayang. Saat anak-anak lain memanggil ayah ibu di sekolah, Aisyah memanggilnya “Abi.” Sebuah panggilan yang membuat hati Arman luluh setiap kali mendengarnya.
Tahun 2025 pun tiba. Aisyah telah dewasa, seorang gadis cantik dengan akhlak baik, yang menempuh pendidikan tinggi seperti ayah angkatnya. Pada suatu hari, ia mendekati Arman dengan wajah serius.
“Abi… aku ingin bicara.”
“Ada apa, Nak?”
“Aku… ingin menikah.”
Arman tercekat. Hatinya seperti disambar petir. Sejak lama, ia sadar bahwa rasa yang tumbuh di hatinya bukan hanya sekadar kasih seorang ayah. Aisyah bukan darah dagingnya, bukan pula anak kandung. Ia memang yang merawat, tapi ia bukan ayah biologis. Diam-diam, ada rasa lain yang ia simpan rapat-rapat.
Namun malam itu, Aisyah melanjutkan, “Aku ingin menikah dengan Abi.”
Arman membeku. Kata-kata itu menohok sekaligus membuat jantungnya berdegup kencang. Ia menatap mata Aisyah, mencari kepastian. Gadis itu tersenyum, lalu berkata lirih, “Sejak kecil aku hanya mengenal Abi. Abi yang selalu ada, yang berkorban, yang menjaga. Siapa lagi lelaki terbaik bagiku kalau bukan Abi?”
Air mata Arman menetes. Perasaan yang ia coba kubur, justru kini diungkapkan oleh Aisyah sendiri. Ia bimbang, tapi hatinya goyah. Setelah melewati pergulatan batin, akhirnya ia memutuskan menerima. Pada tahun 2025, keduanya resmi menikah.
Kabar itu menyebar cepat. Banyak yang terkejut, sebagian mencibir, sebagian lainnya menganggap hubungan itu aneh. Tapi bagi Arman dan Aisyah, kebahagiaan mereka adalah jawaban dari perjalanan panjang 21 tahun yang penuh pengorbanan.
Namun di balik kebahagiaan itu, sebuah rahasia besar terkuak.
Beberapa bulan setelah pernikahan, seorang wanita tua datang menemui mereka. Wajahnya penuh keriput, matanya berkaca-kaca. Ia memperkenalkan diri sebagai Mariam, mantan pembantu rumah tangga yang dulu bekerja di rumah keluarga Arman.
Dengan suara bergetar, Mariam mengungkapkan sesuatu yang selama ini terkubur:
“Maafkan saya… sebenarnya bayi yang Abi temukan di teras kos dulu… bukan bayi yang ditinggalkan orang asing. Itu… adalah adik kandung Abi sendiri. Orang tua Abi… pernah meminta saya membuang bayi itu karena lahir di luar nikah dari hubungan rahasia ayah Abi. Saya tak tega membunuhnya, jadi saya taruh di depan kos Abi dengan harapan dia merawatnya.”
Arman terhenyak. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menoleh pada Aisyah yang wajahnya pucat pasi. Dunia seakan runtuh di hadapan mereka. Bayi yang ia rawat, gadis yang kini menjadi istrinya, ternyata adalah darah dagingnya sendiri adik kandung yang selama ini ia tidak tahu.
Air mata mengalir deras. Pernikahan yang mereka kira penuh cinta ternyata dibangun di atas rahasia kelam.
Malam itu, Arman duduk di kamar, memandang foto-foto Aisyah sejak bayi. Hatinya hancur. Ia teringat janji pada dirinya sendiri dulu, bahwa ia akan melindungi bayi itu apa pun yang terjadi. Dan kini, janji itu justru berubah menjadi belenggu yang menjeratnya.
Kisah cinta yang semula tampak indah berubah jadi tragedi. Arman dan Aisyah hanya bisa menatap satu sama lain, tanpa kata, karena mereka tahu kebenaran itu akan menghantui sepanjang hidup mereka.
Sebuah perjalanan panjang dari teras kos tahun 2004, menuju pelaminan tahun 2025, kini berakhir dengan satu kenyataan pahit: cinta mereka tidak pernah seharusnya ada.
Bayi yang Arman temukan dan rawat selama 21 tahun, yang akhirnya ia nikahi, ternyata adik kandungnya sendiri. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar