Cerpen: Senja yang Tertinggal di Pelabuhan Sunyi
ASKARA - Senja itu seperti sebuah buku yang halaman-halamannya hampir habis. Laut di kejauhan menelan garis matahari perlahan, seakan tak ingin mengucapkan selamat tinggal. Ombak datang satu per satu, seperti napas yang tertahan lama lalu dilepaskan dengan berat. Di ujung dermaga, seorang pria tua duduk bersandar pada tiang kayu yang mulai lapuk dimakan waktu. Matanya yang keruh menatap jauh ke arah laut, ke arah di mana sebuah kapal kecil pernah hilang dan tak pernah kembali.
Ia merogoh saku jaket lusuhnya, mengeluarkan secarik kertas kusam yang sudah mulai robek di ujungnya. Di atasnya tertulis nama yang tak pernah ia hapus dari doa: Laras. Hatinya mengerut seperti kain basah yang diperas terlalu keras. Setiap huruf pada nama itu menusuk dadanya dengan rindu yang tak selesai.
“Laras…” bisiknya, seperti doa yang ditelan angin. “Mengapa kau tinggalkan aku dengan janji yang tak pernah kembali?”
Angin membawa bisikan itu, menabrak tiang-tiang kapal nelayan yang terikat rapat. Suara decit tali kapal menyahut seperti keluhan jiwa yang kesepian. Matahari kian merunduk, meninggalkan semburat jingga yang seolah berdarah. Dermaga tampak kosong, kecuali dirinya dan suara debur ombak yang terus menghantam, seperti rasa bersalah yang tak mau pergi.
Ia masih ingat hari terakhir melihat Laras. Perempuan itu berdiri di ambang pintu rumah mereka yang mungil, mengenakan gaun putih sederhana dan selendang yang jatuh di bahunya. Senyumnya waktu itu begitu tipis, seolah ada sesuatu yang disembunyikan di balik matanya yang basah.
“Aku akan kembali,” katanya pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk mengoyak hatinya.
“Kapan?” tanya pria itu waktu itu, suaranya pecah seperti gelas yang jatuh di lantai marmer.
“Secepatnya… jika takdir mengizinkan,” jawab Laras, menunduk, menggenggam erat jemarinya lalu melepaskannya seperti melepaskan sehelai daun ke sungai.
Setelah itu, langkah kaki Laras menjauh. Suara pintu yang menutup menjadi pertanda awal dari kehilangan panjang. Dan pria itu, sejak hari itu, duduk di dermaga yang sama, menunggu bayangan yang tak kunjung kembali.
Orang-orang di kampung sering berbisik di belakang punggungnya. “Dia masih menunggu?” tanya mereka dengan nada iba. “Laras itu sudah lama pergi. Katanya ikut kapal yang karam di tengah badai.”
Tapi ia tak pernah percaya. Baginya, Laras bukan sekadar tubuh yang bisa hilang ditelan laut. Laras adalah doa yang berwujud. Dan doa, meski tak terlihat, selalu ada.
Hingga suatu malam, seseorang datang. Seorang nelayan tua yang wajahnya penuh garis-garis waktu, mendekatinya ketika ia tengah duduk sendirian di dermaga.
“Kalau kau masih menunggu Laras,” suara nelayan itu pelan, “mungkin kau harus tahu sesuatu. Perempuan itu… tidak karam bersama kapal. Dia memilih pergi. Bersama lelaki lain.”
Ucapan itu seperti ombak besar yang menghantam dadanya. Sejenak ia tak bisa bernapas. Dunia mendadak sunyi. Tapi ia menolak percaya. Hatinya menolak kenyataan yang lebih tajam dari mata pisau.
Kini, bertahun-tahun setelah kata-kata itu menusuk telinganya, ia masih duduk di dermaga yang sama. Menunggu. Entah untuk apa. Apakah untuk sebuah maaf yang tak pernah datang? Ataukah untuk sebuah alasan yang tak pernah terucap?
Langit semakin gelap ketika langkah kaki terdengar mendekat. Sepasang kaki berbalut sepatu hak rendah berhenti tepat di belakangnya. Wangi melati samar-samar menembus udara asin laut. Ia menahan napas, tubuhnya menegang. Ia tahu wangi itu. Wangi yang pernah menjadi rumah bagi rindunya.
“Bram…” suara itu pecah, serak seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Ia menoleh perlahan. Dan di sana, di bawah cahaya lampu dermaga yang temaram, berdiri Laras. Wajahnya tak lagi sama. Garis waktu telah menorehkan cerita di kulitnya, tapi matanya… mata itu masih mata yang sama yang pernah ia cintai.
Bram berdiri dengan lutut gemetar. Tangannya mengepal, bukan karena benci, tapi karena menahan banjir emosi yang mengalir deras.
“Kau…” suaranya terputus, lalu pecah. “Kenapa baru sekarang?”
Laras menunduk. “Aku… tak punya pilihan waktu itu.”
“Aku menunggumu, Laras. Di sini. Setiap senja. Setiap malam. Aku menunggu sampai rambutku memutih, sampai waktu hampir merenggutku… Dan kau bilang kau tak punya pilihan?” suara Bram bergetar, marah dan pilu bercampur jadi satu.
Air mata Laras jatuh. “Aku mencintaimu, Bram. Tapi aku harus pergi. Lelaki itu dia mengancam hidupmu jika aku tak ikut. Aku… aku lakukan ini untuk menyelamatkanmu.”
Bram tertawa, tawa yang pahit seperti garam laut. “Menyelamatkanku? Dengan meninggalkanku? Dengan menghilang tanpa kabar? Dengan membiarkanku jadi bangkai hidup di dermaga ini?”
“Maafkan aku…” Laras meraih tangannya, tapi Bram menepis.
“Maaf? Kata itu terlalu ringan untuk luka sebesar ini, Laras.” Bram menatapnya tajam, lalu suaranya merendah. “Apa dia membahagiakanmu?”
Laras terisak. “Tidak. Aku tak pernah bahagia. Setiap hari aku ingin kembali, tapi aku tak sanggup. Aku hancur, Bram… hancur setiap kali membayangkan kau duduk di sini menungguku.”
Hening. Hanya suara ombak yang memecah kesunyian. Bram memejamkan mata. Ketika ia membuka kembali, ada kilatan aneh di sana kilatan yang tak pernah Laras lihat sebelumnya.
“Aku ingin percaya padamu, Laras,” katanya lirih. “Tapi luka ini… sudah terlalu dalam. Dan kau datang saat aku tak lagi punya hati untukmu.”
Laras terisak makin keras. “Bram… jangan katakan itu. Aku kembali untuk menebus segalanya.”
Bram menatap laut yang gelap. “Tak ada yang bisa ditebus dari waktu yang hilang. Kau tahu kenapa? Karena waktu tak pernah kembali, Laras… sama seperti cintaku.”
Laras jatuh berlutut, menangis tanpa suara. Ombak menghantam karang, seperti jiwa yang pecah berkeping-keping.
Bram melangkah pergi, menyisakan jejak kaki di papan dermaga yang basah. Dan di belakangnya, Laras tetap menangis, memeluk luka yang tak pernah sempat disembuhkan.
Bram berjalan ke ujung dermaga, menatap laut yang gulita. Ia mengeluarkan secarik kertas kusam dari sakunya kertas yang selalu ia bawa. Perlahan, ia meremas kertas itu, lalu melemparkannya ke laut. Ombak menelannya tanpa bekas.
Di kertas itu tertulis nama Laras, dengan tinta yang hampir pudar.
Namun, ketika kertas itu menghilang di balik gelapnya ombak, Bram tersenyum pahit. Ia membuka telapak tangannya, memperlihatkan sebuah cincin emas kecil yang berkarat. Ia menggenggamnya erat, lalu berbisik pelan, nyaris seperti rahasia yang ia titipkan pada malam:
“Seandainya kau tahu, Laras… sebenarnya aku sudah mati sejak hari kau pergi.”
Dan senja pun menutup cerita, meninggalkan dua hati yang tak lagi saling menemukan, meski pernah saling memiliki. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar