Kemerdekaan Adalah Rahmat: Ustadz Harun Al Rasyied Ingatkan Makna Perjuangan Para Nabi
ASKARA - Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah anugerah ilahi yang lahir dari peluh, darah, dan doa yang tak henti dipanjatkan oleh para pejuang bangsa. Wakil Ketua Umum Yayasan Madani Al Washiyyah, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied, menyerukan refleksi mendalam atas arti kemerdekaan dalam tausiyahnya, dikutip Ahad (24/8).
Beliau mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hadiah besar dari Allah SWT “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” yang tak datang dengan mudah. Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia bukanlah hadiah instan, melainkan buah dari pengorbanan luar biasa para pendahulu, dengan takbir, doa, dan perjuangan jiwa-raga.
"Allah telah memberikan kemerdekaan ini sebagai karunia besar, 'Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa'," ujar Ustadz Harun.
Namun, perjuangan untuk meraih kemerdekaan bukan hanya milik bangsa Indonesia. Al-Qur’an telah mengabadikan kisah para nabi yang juga berjuang memerdekakan umatnya dari berbagai bentuk penjajahan:
Ia mengajak umat untuk merenungi perjuangan para nabi yang juga memperjuangkan "kemerdekaan"—bukan hanya fisik, tapi juga spiritual dan moral:
1. Nabi Musa AS, yang membebaskan Bani Israil dari penindasan Fir'aun, menggambarkan perjuangan melawan kezaliman mutlak.
2. Nabi Ibrahim AS, yang menyadarkan bangsanya dari kemusyrikan menuju tauhid, membuktikan bahwa kemerdekaan juga berarti membebaskan akal dari belenggu kesesatan.
3. Nabi Muhammad SAW, sang pembebas sejati, yang memerdekakan masyarakat Mekkah dari kezaliman hukum, kerusakan moral, eksploitasi ekonomi, dan penindasan terhadap perempuan.
Maka, memperingati kemerdekaan bukan sekadar meriahkan lomba dan hiburan. Esensinya adalah syukur dan amal. Seperti yang ditegaskan oleh Syeikh Mushtafa Al Ghulayayni: manusia tidak diciptakan untuk diperbudak hawa nafsu, melainkan untuk beramal sesuai tuntunan ilahi.
Ustadz Harun menekankan, kemerdekaan sejati adalah ketika bangsa ini hidup adil, bermartabat, dan bertakwa. “Kemerdekaan bukan sekadar bebas, tapi amanah untuk menegakkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan berbangsa,” tuturnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk mengisi kemerdekaan dengan semangat spiritual, ilmu, dan pengabdian. Karena, seperti para nabi dan pahlawan terdahulu, sejatinya perjuangan belum selesai.
Momentum Syukur dan Perbaikan Diri
Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan fisik, tapi juga tentang membebaskan diri dari belenggu kemaksiatan, keserakahan, dan kezaliman, menuju masyarakat yang bermartabat dan diridhai Allah.
Dalam suasana peringatan Hari Kemerdekaan RI, tak jarang kita terjebak pada euforia perlombaan dan kemeriahan semata. Padahal, menurut penjelasan dalam kitab *Izzhotun Naasyi'in* karya Syeikh Mushtafa Al Ghulayayni, hakikat kemerdekaan jauh lebih dalam: manusia diciptakan bukan untuk menjadi budak orang lain atau hawa nafsunya, melainkan untuk beramal sesuai kehendak Ilahi.
“Esensi utama dari memaknai kemerdekaan adalah dengan mengerjakan amal-amal shalih, baik secara pribadi maupun sosial,” ungkapnya.
Di tengah maraknya kezaliman dan ujian yang melanda bangsa, momen kemerdekaan seharusnya menjadi waktu refleksi. Seruan ini mengajak kita semua untuk bersyukur dengan cara yang nyata: menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Di tengah tantangan zaman dan maraknya kezhaliman, mari kita isi kemerdekaan dengan menjadi pribadi yang lebih: Shalih dalam amal, Jujur dalam interaksi, Tegar dalam ujian, Ikhlas dalam perjuangan, Optimis dalam harapan
Semoga Allah menjadikan bangsa ini kembali sejahtera, dan kita semua menjadi hamba yang bertaqwa, berkualitas, dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang merdeka lahir dan batin.
“Semoga bangsa kita kembali menjadi bangsa yang diberkahi, sejahtera, dan kita menjadi hamba Allah yang lebih bertaqwa dan berkualitas. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin,” harapnya.

Komentar