Senin, 08 Juni 2026 | 00:32
Ruang Menulis

Enam Tahun Cahaya di Mata Kayla

Enam Tahun Cahaya di Mata Kayla
Ilustrasi

ASKARA - Kayla, bocah tujuh tahun yang kehilangan kedua orang tuanya, kini harus memanggul beban hidup yang tak semestinya ia tanggung. Di balik tubuh mungilnya, tersimpan kegigihan yang tak pernah pudar demi satu cita-cita sederhana: tetap bersekolah. Namun, garis takdir kerap menguji, hingga pada suatu hari, hidupnya berubah secara tak terduga.

Kayla duduk di bangku reyot dekat jendela rumah papan yang catnya telah terkelupas. Dari celah-celah dinding, cahaya sore merembes masuk, menyoroti wajahnya yang pucat. Di hadapannya, selembar kertas rapor tergeletak. Angkanya sempurna. Matanya berbinar sebentar, lalu redup kembali. Apa gunanya nilai bagus kalau ia tak bisa melanjutkan sekolah?

Ia melirik kakeknya yang tengah rebah di dipan tua. Lelaki renta itu tak lagi bisa bekerja sejak penyakit katarak dan kencing manis merenggut kekuatannya. Dua tahun sudah, Kayla menjadi tulang punggung keluarga. Tubuh mungilnya lebih sering mencuci baju orang, membersihkan rumah, bahkan kadang memijat ibu-ibu kampung dengan upah lima puluh ribu seminggu. Uang itu bukan hanya untuk bayar listrik, tapi juga untuk membeli beras, meskipun sering kali mereka hanya makan nasi kering sisa kemarin.

Kayla menghela napas panjang. Dua tahun menunggak biaya sekolah membuatnya was-was. “Bagaimana kalau aku dikeluarkan?” batinnya gemetar. Ia menatap foto lama yang tergantung di dinding ayah dan ibunya tersenyum, menggenggam tangannya yang masih balita. Air mata Kayla menitik, jatuh di pipi, membasahi kertas rapor yang ia genggam erat.

Hari itu, Kayla kembali menyusuri jalan tanah menuju rumah Bu Darti, majikan tetapnya. Langit kelabu, angin membawa aroma hujan. Ia menggenggam kantong plastik berisi sabun cuci. “Kalau aku kerja lebih keras, mungkin bisa bayar seragam,” gumamnya.

“Kaylaaa!” suara Bu Darti menyambut. “Cepat, cucikan semua baju ini, ya. Nanti sore ada tamu.”

Kayla mengangguk. Tangannya yang kecil lincah mengucek baju di bak besar. Air sabun dingin menggigit kulitnya, membuat jari-jarinya memutih. Namun ia tak mengeluh. Di kepalanya hanya ada satu harapan: jangan sampai berhenti sekolah.

Ketika pekerjaan selesai, Kayla menerima upahnya—selembar lima puluh ribuan yang sudah lecek. Ia menunduk sopan. “Terima kasih, Bu.”

Dalam perjalanan pulang, hujan deras mengguyur. Kayla berlari, memeluk uang itu erat-erat agar tak basah. Saat melintas di depan sekolah, ia berhenti sejenak. Dari balik pagar, ia melihat teman-temannya tertawa di bawah kanopi. Ada rasa rindu yang menyesak di dada. Sudah dua minggu ia tak masuk karena malu dimarahi guru soal tunggakan.

Malam itu, ia duduk di samping kakeknya yang terbatuk-batuk. “Kek, Kayla pengen sekolah lagi,” bisiknya.

Kakek menggenggam tangan cucunya. “Kamu harus sekolah, Nak. Jangan pikirin uang. Allah pasti kasih jalan.”

Kayla mengangguk, meski hatinya tahu realita tak seindah doa. Ia meraih tas lusuhnya dan menatap buku-buku yang mulai menguning. “Aku harus kuat,” ujarnya dalam hati.

Keesokan harinya, Kayla nekat datang ke sekolah. Seragamnya kusam, sobek di ujung lengan. Sepatunya jebol. Di gerbang, guru piket menghentikannya. “Kayla, kamu belum bayar uang sekolah dua tahun. Kamu nggak bisa ikut kelas dulu.”

Kayla menunduk. “Saya janji, Bu… saya bakal bayar.”

Guru itu menghela napas, menatap murid mungil yang wajahnya penuh tekad. Namun aturan tetaplah aturan. Kayla berjalan pulang, langkahnya gontai, seperti daun kering terbawa angin. Di matanya, dunia tampak suram.

Hari berganti minggu. Kayla bekerja lebih keras. Ia mencuci baju hingga larut, memijat orang kampung sampai tangannya pegal. Tapi tetap saja uangnya tak cukup. Hingga suatu sore, ketika ia sedang membersihkan halaman rumah Bu Darti, sebuah mobil hitam berhenti. Dari dalamnya keluar seorang perempuan anggun, mengenakan pakaian mahal dan kacamata hitam. Wajahnya cantik, namun tatapannya tajam.

“Ini anak siapa?” tanya perempuan itu.

“Kayla, Bu,” jawab Bu Darti. “Dia sering bantu saya. Kasihan, anak yatim.”

Perempuan itu menatap Kayla lama sekali. Ada kilat aneh di matanya, campuran antara kaget dan rindu. Ia mendekat, jongkok di hadapan Kayla. “Namamu Kayla?” suaranya bergetar.

Kayla mengangguk, bingung.

Perempuan itu melepaskan kacamatanya, air mata menetes. “Astaghfirullah… Kayla… aku… ibumu.”

Kayla terpaku. Dunia seperti berhenti berputar. “Tidak mungkin… Ibu sudah meninggal…” suaranya lirih.

Perempuan itu menangis semakin keras. “Ibu memang meninggalkanmu, Nak… tapi bukan karena meninggal. Waktu itu… Ibu sakit dan… tidak sanggup merawatmu. Semua orang bilang Ibu mati. Ibu… salah, Kayla. Maafkan Ibu…”

Kayla mundur selangkah, kepalanya pening. Gambar ayah, ibu, dan masa kecilnya berputar di benak. “Kalau Ibu hidup… kenapa Ayah meninggal sendirian? Kenapa Ibu nggak pulang?”

Perempuan itu terisak. “Ibu terjerat masalah… Ibu harus pergi jauh. Tapi sekarang… Ibu sudah kembali untuk menebus semuanya. Ayo ikut Ibu. Kamu nggak akan susah lagi.”

Kayla terdiam. Matanya menatap sosok yang mengaku ibu kandungnya. Benarkah? Atau ini hanya mimpi? Perlahan, ia melangkah maju. Namun tiba-tiba, suara kakek dari kejauhan memanggil lirih, “Kaylaaa…”

Kayla menoleh. Lalu kembali memandang perempuan itu. Dalam hatinya, ada badai yang tak bisa ia jelaskan. Ia ingin sekolah, ingin hidup layak… tapi ia juga tak bisa meninggalkan kakek yang renta.

“Kayla… ayo, Nak,” perempuan itu mengulurkan tangan.

Kayla menatap tangan itu lama, lalu berbisik, “Kalau Ibu benar-benar Ibu… bawa kakek juga.”

Perempuan itu terdiam, menahan napas.

Di sanalah cerita ini berhenti, menggantung di udara seperti hujan yang tak kunjung jatuh. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar