Kamis, 23 Juli 2026 | 02:46
NEWS

SKIP Model, Konsep Baru Komunikasi Pembangunan dari Tangsel

SKIP Model, Konsep Baru Komunikasi Pembangunan dari Tangsel
Gadis Octory (Dok Askara)

ASKARA - Gagasan komunikasi pembangunan yang berakar dari kearifan lokal lahir dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta, Selasa (19/8/2025). Gadis Octory, peneliti yang mengkaji dinamika pelaku kerajinan di Tangerang Selatan, memperkenalkan SKIP Model (Sinergi Komunikasi Inovasi dan Partisipasi) sebagai konsep baru dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis partisipasi masyarakat.

Model SKIP menggabungkan teori difusi inovasi Everett M. Rogers dengan teori partisipasi yang dikembangkan Uphoff, Arnstein, Pretty, hingga Freire. Menurut Gadis, model ini menawarkan jalan tengah dalam komunikasi pembangunan, dengan menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima inovasi, tetapi juga sebagai co-innovator yang ikut menentukan arah perubahan.

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, dengan dukungan Pemerintah Kota Tangsel dan Dekranasda. Sejumlah pelaku kriya seperti Rumah Batik Setu, Ladifa Collection, dan Renata Ecofashion terlibat aktif dalam riset. Hasilnya, para pengrajin tidak hanya mendapat pelatihan, tetapi juga berpartisipasi dalam menyusun strategi, memantau, dan mengevaluasi program secara partisipatif. Dampaknya terlihat pada meningkatnya akses pasar, literasi digital, serta kepercayaan diri komunitas pengrajin.

Sidang terbuka yang dipimpin promotor Dr. Udi Rusadi, M.S., bersama co-promotor Dr. Jamalullail, M.M., dan tim penguji antara lain Prof. Dr. Sunarto serta Prof. Dr. Suraya, menilai penelitian ini sebagai kontribusi penting bagi ilmu komunikasi pembangunan. Meski Gadis mengakui keterbatasan, seperti belum mengangkat aspek gender secara mendalam, SKIP Model dinilai memiliki relevansi besar untuk memperkuat ekonomi kreatif sekaligus menjaga budaya lokal.

“SKIP lahir dari Kota Tangerang Selatan sebagai langkah kecil, namun membawa mimpi besar menuju Indonesia kreatif yang mandiri, berakar, dan mampu bersaing di dunia,” ujar Gadis Octory usai sidang. Model ini disebutnya sebagai kontribusi akademik yang dapat dipraktikkan langsung melalui kolaborasi pentahelix: pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media.

 

 

Komentar