Rabu, 22 Juli 2026 | 05:56
Ruang Menulis

Filosofi Sabar Hingga Tegaknya Kebenaran

Filosofi Sabar Hingga Tegaknya Kebenaran
Ilustrasi sabar (ums)

ASKARA - Dalam kehidupan, kesabaran bukan berarti diam selamanya. Islam mengajarkan kita untuk ngalah pada hal kecil, ngalih mencari solusi, ngestoni membangun persatuan, lalu ngamuk dalam arti bangkit menegakkan kebenaran ketika hak diinjak. Filosofi ini selaras dengan Al-Qur’an dan hadis, mengajarkan umat agar berjuang tanpa kehilangan adab dan tujuan.

Filosofi Jawa ngalah, ngalih, ngestoni, ngamuk yang tergambar dalam aksi warga Pati sesungguhnya memiliki kedekatan erat dengan ajaran Islam. Bedanya, Islam memberikan bingkai yang jelas agar setiap tahap perjuangan tetap berada dalam koridor akhlak dan syariat. Dalam ngalah, seorang Muslim diajarkan untuk menahan diri dan bersabar. Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِ ﴾
"Bersabarlah, dan kesabaranmu itu tidak lain hanyalah dengan pertolongan Allah." (QS. An-Nahl: 127)

Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda:

« لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ »
"Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Tahap ngalah inilah yang pertama kali dilakukan warga Pati: mereka menahan diri, mencoba menerima, sambil berharap pemimpin peka. Namun, sabar dalam Islam bukan berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung. Jika setelah menahan diri, ketidakadilan semakin nyata, maka berpindah ke tahap ngalih adalah langkah bijak.

Ngalih dalam kacamata Islam bisa berarti mencari strategi baru, mengubah cara dakwah atau perjuangan agar lebih efektif. Nabi Muhammad ﷺ pun dalam perjuangannya sering mengubah strategi sesuai kondisi seperti hijrah dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan dakwah. Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ﴾
"Apabila engkau telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah." (QS. Ali ‘Imran: 159)

Ketika warga Pati membentuk posko logistik dan memobilisasi dukungan, itu adalah bentuk ngalih berpindah dari diam menjadi bergerak dengan cara terukur.

Tahap berikutnya, ngestoni, adalah titik di mana solidaritas muncul. Dalam Islam, persatuan adalah kekuatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

« الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا »
"Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang satu menguatkan yang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

Solidaritas warga Pati yang saling membantu bahkan dari perantauan dan luar negeri menggambarkan semangat ukhuwah dalam Islam. Inilah kekuatan yang Allah puji dalam firman-Nya:

﴿ وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ﴾
"Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali ‘Imran: 103)

Terakhir, ngamuk dalam bingkai Islam bukan berarti anarkis atau merusak, tetapi bangkit untuk menegakkan kebenaran dan melawan kezaliman. Rasulullah ﷺ bersabda:

« أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ »
"Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Jika warga Pati turun dengan massa besar, itu adalah bentuk keberanian menyampaikan suara. Namun Islam mengingatkan agar kemarahan dikendalikan, tidak berubah menjadi tindakan yang menghilangkan maslahat.

Dari empat babak ini, kita belajar bahwa perjuangan menegakkan keadilan dalam Islam selalu dimulai dengan kesabaran, dilanjutkan strategi, dibangun dengan persatuan, dan jika perlu, ditutup dengan keberanian menyampaikan kebenaran. Pemimpin yang bijak akan menangkap pesan ini: jangan menunggu rakyat ngamuk, tapi dengarkan sejak mereka ngalah.

Seperti kata hikmah ulama: "Kesabaran tanpa kebenaran akan menjadi kelemahan, keberanian tanpa ilmu akan menjadi bencana." Islam memadukan keduanya agar perjuangan membawa berkah, bukan kerusakan.

Pantun penutup:
Padi menguning di sawah luas
Bandeng segar berenang riang
Bersatu suara, sepenanggungan
Pemimpin bijak dengar suara rakyat.(Dwi Taufan Hidayat)

Komentar