Misa Kudus di Gunung Padang Diselimuti Cahaya Ajaib
ASKARA - Senin (11/8) dini hari menjadi momen istimewa bagi rombongan kecil yang tengah menuju Situs Gunung Padang untuk menggelar Misa Ekaristi Kudus dan tirakatan menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia. Rombongan dipimpin Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Pr, bersama pengurus Keuskupan TNI-Polri (OCI) Kolonel Laut Pundjung Manoe, dua praktisi spiritual Dar Edi Yoga dan Cahaya Adi Wibowo, serta seorang mahasiswa Unpad, Johanes Vianney Derda.
Dalam perjalanan, mereka dikejutkan oleh fenomena alam tak biasa, kilatan cahaya tegak lurus dari langit menuju arah Gunung Padang. “Bentuknya bukan petir biasa, warnanya kuning bercampur merah dan cukup lebar,” ungkap Adi Wibowo. Menurut penglihatan batinnya, kilatan itu bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan iring-iringan makhluk astral dari Jawa Timur dan Bali yang datang untuk turut serta dalam perayaan kudus tersebut.
Kesaksian itu diperkuat Yusuf, salah satu juru pelihara Gunung Padang, yang melihat cahaya tersebut sekitar pukul 18.00 menghujam ke area situs. Saat Misa dimulai di teras lima, yang dijadikan altar perjamuan kudus, Adi Wibowo merasakan perubahan spiritual: susunan batu seakan bertransformasi menjadi altar megah nan mempesona. Pada saat konsekrasi, hosti kudus dalam pandangan batin memancarkan cahaya luar biasa yang menerangi seluruh teras.
Fenomena tak kalah menggetarkan terjadi pada momen yang sama. Langit yang sebelumnya gelap tertutup awan mendung tiba-tiba tersibak, menampakkan bulan purnama utuh yang bersinar terang, seolah ikut memberkati perayaan kudus tersebut.
“Banyak makhluk astral ikut berdoa,” tutur Bowo, yang juga mengaku melihat kehadiran malaikat selama perayaan berlangsung. Suasana damai yang kental juga dirasakan Kepala Juru Pelihara, Nanang Sukmana. “Ini pertama kalinya seorang pastor memimpin Misa di sini. Saya merasakan getaran luar biasa,” ujarnya.
Johanes Vianney Derda mengungkapkan bahwa dalam pandangan batinnya, ia melihat lambang burung Garuda membentang di langit Gunung Padang saat misa berlangsung. “Mungkin itu karena misa ini memang untuk bangsa dan negara, serta mendoakan para leluhur bangsa dan para pahlawan,” katanya.
Kolonel Laut Pundjung Manoe menambahkan, ia merasakan getaran energi yang luar biasa besar selama misa berlangsung. “Energinya seperti menyatu antara alam, leluhur, dan doa yang kami panjatkan. Rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata,” ucapnya.
Dar Edi Yoga menilai peristiwa ini bukan kebetulan semata. “Fenomena cahaya yang turun sebelum misa adalah tanda alam sekaligus pesan spiritual bahwa Gunung Padang memiliki peran penting dalam sejarah dan kesadaran bangsa,” ujarnya. Ia menambahkan, kehadiran unsur alam dan dunia tak kasatmata dalam momen sakral ini menunjukkan keterhubungan antara warisan leluhur dan nilai-nilai iman.
Sementara itu, Romo Kolonel Yos Bintoro menyebut Misa Kudus di Gunung Padang sebagai pengalaman rohani yang tak terlupakan. “Saya merasakan kehadiran Tuhan yang begitu nyata, bukan hanya bagi kami yang hadir, tapi juga bagi seluruh ciptaan yang ikut memuliakan-Nya,” ucapnya. Ia berharap, peristiwa ini menjadi momentum untuk mengajak masyarakat menjaga dan menghargai situs bersejarah tersebut, bukan hanya sebagai peninggalan arkeologi, tetapi juga sebagai ruang spiritual.
Menurut Bowo, para makhluk astral itu bahkan mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya Misa Kudus bersejarah ini, yang diyakini membuka lembaran baru hubungan spiritual di situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Komentar