Rabu, 17 Juni 2026 | 15:31
Ruang Menulis

Tak Semua Kerja Itu Megang Duit

Tak Semua Kerja Itu Megang Duit
Ilustrasi

ASKARA - Setiap hari Toni berangkat pagi, pulang petang, menyusuri lorong-lorong kota dengan ransel lusuh dan tatapan yang makin kosong. Orang-orang mengira ia sukses karena selalu sibuk. Padahal, yang dia pegang bukanlah duit tapi kepalanya sendiri. Sampai suatu hari, rahasia pekerjaannya terbongkar lewat satu kejadian tak terduga.

Pagi itu, langit Jakarta masih gelap walau jam dinding sudah menunjukkan pukul enam. Toni berdiri mematung di depan kaca, menatap dirinya yang tak lagi muda. Rambutnya mulai memutih, garis wajahnya mengeras seperti papan tulis yang terlalu sering dihapus, namun bekasnya tetap tertinggal.

Ia menyisir rambut dengan tangan, lalu mengambil ransel butut yang selalu setia menemaninya. Di dalamnya hanya ada dua buku lusuh, satu map folio kosong, dan sebuah termos kecil berisi kopi tanpa gula.

Istrinya, Rina, melongok dari balik pintu kamar.

“Berangkat lagi, Mas?” tanyanya lirih.

Toni mengangguk pelan. “Ya. Masih ada klien yang harus ditemui.”

Padahal, sudah lebih dari tiga bulan ia tidak menerima satu pun klien. Kantornya tutup diam-diam, proyek terakhir dibatalkan karena pandemi. Tapi setiap pagi, ia tetap berangkat kerja. Entah untuk menjaga harga diri di hadapan anak-anaknya, atau sekadar menyakinkan dirinya sendiri bahwa hidup ini belum sepenuhnya kalah.

Di jalan, Toni bertemu banyak wajah yang dulu akrab, kini jadi asing. Beberapa menyapanya dengan ramah, mengira ia sedang dalam proyek besar. Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangan, seperti biasa.

“Wah, Pak Toni makin sibuk aja nih!” seru Pak Dayat, tetangganya.

“Iya, Pak. Proyek baru, lumayan ribet,” jawabnya bohong, sambil memegangi kepalanya.

Bukan karena pusing. Tapi karena ia sendiri tak tahu lagi harus menjawab apa.

Toni menghabiskan harinya di perpustakaan umum, duduk di sudut yang sepi. Ia membaca apa saja yang bisa mengalihkan pikirannya dari realitas yang makin keras. Kadang ia tertidur di antara halaman-halaman tebal, kadang hanya menatap kosong ke jendela, berharap ada telepon masuk yang menawarkan harapan.

Tapi yang datang hanyalah notifikasi pinjaman online, penagihan kartu kredit, dan pesan dari anaknya:

“Pa, bisa transfer uang jajan?”

Toni mengusap wajah. “Ya Allah… kerja tiap hari kok malah makin ngutang,” gumamnya.

Ia sering merasa lucu dengan nasibnya. Betapa hidup kadang seperti lelucon yang tak lucu. Orang mengira ia megang duit karena kerja tiap hari. Padahal, yang dia pegang itu kepalanya sendiri menahan pening, beban, dan tanggung jawab yang tak kunjung lunas.

Malam hari, Toni pulang dengan langkah gontai. Di dalam rumah, anak-anaknya sibuk dengan gawai, Rina tertidur di sofa.

Ia duduk di teras, memandangi langit yang mulai mendung. Lalu tertawa sendiri saat mengingat sebuah meme yang viral:
“Tak semua orang yang kerja tiap hari itu megang duit... kadang juga megang kepala.”

Toni merasa meme itu seperti ditulis khusus untuk dirinya. Tepat sekali.

Besok pagi, ia kembali akan berangkat dengan ransel kosong. Tapi malam ini, ia ingin jujur pada dirinya sendiri. Ia membuka ponsel, lalu mulai mengetik pesan ke grup alumni kampus.

“Maaf, teman-teman. Aku butuh bantuan. Kantorku tutup, proyek mandek, aku nganggur tapi pura-pura kerja tiap hari karena malu sama keluarga…”

Jari-jarinya gemetar. Tapi entah kenapa, terasa seperti beban besar terangkat dari dadanya.

Namun sebelum pesan itu dikirim, seseorang menepuk pundaknya.

“Pak Toni?” suara itu lembut, asing tapi familiar.

Toni menoleh. Seorang pria muda berdiri di depannya. Rambut rapi, kemeja putih, dan map di tangan.

“Saya Fajar. Anak dari Bu Linda, klien Bapak dulu. Saya cari Bapak sudah lama. Bu Linda meninggal seminggu lalu, tapi sebelum wafat, beliau titip pesan agar saya memberikan ini ke Bapak.”

Toni menerima map itu dengan bingung. Di dalamnya ada surat tangan dan fotokopi surat wasiat.

“Bu Linda mewariskan 30% saham rumah makannya kepada Bapak. Katanya, tanpa bantuan Bapak dulu, beliau tidak akan pernah bisa berdiri seperti sekarang.”

Toni terdiam.

Tangannya gemetar.

Lama ia menatap langit malam yang mulai terang oleh bintang.

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Toni benar-benar memegang uang.

Tapi lebih dari itu, ia merasa memegang kembali harga diri, harapan, dan makna dari semua kepura-puraan yang ia jalani.

Dan diam-diam ia tersenyum, mengingat meme tadi.

“Kadang kerja keras memang tak langsung menghasilkan duit... tapi bisa jadi menumbuhkan harga yang tak bisa dibeli: martabat.” (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar