Menjelang Subuh, PWI Jaya Menapaki Misteri Gunung Padang
ASKARA - Udara dingin menusuk kulit ketika rombongan pengurus dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya memulai pendakian menuju Situs Megalitikum Gunung Padang, Sabtu dini hari (9/8/2025). Di bawah temaram cahaya bulan purnama, langkah demi langkah menapaki anak tangga batu kuno seolah membawa mereka menyusuri lorong waktu ribuan tahun silam.
Perjalanan yang dipimpin Sekretaris PWI Jaya, Arman Suparman, itu menjadi pengalaman tak terlupakan. “Suasananya magis. Pagi-pagi buta, dengan udara segar dan pemandangan pegunungan, kita seperti di dunia lain,” ujar Arman sambil tersenyum.
Sesampainya di puncak, cahaya matahari mulai merayap dari ufuk timur, mengungkap hamparan batu-batu berundak yang tersusun rapi. Gunung Padang, yang luasnya diperkirakan delapan kali lebih besar dari Candi Borobudur, memancarkan aura sejarah yang kuat. Para anggota pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto, mengamati detail batuan, dan berdiskusi tentang misteri yang menyelimuti situs ini.
Bagi sebagian peserta, kunjungan ini bukan sekadar wisata sejarah, tetapi juga perjalanan batin. “Sebagai wartawan, kita perlu menyentuh langsung warisan budaya bangsa, bukan hanya membaca dari buku,” kata Helmy AR, salah satu anggota.
Menutup kunjungan, rombongan PWI Jaya menggelar obrolan santai di salah satu teras situs, membicarakan pentingnya pelestarian situs-situs sejarah Indonesia. Hari itu, Gunung Padang bukan hanya menjadi saksi bisu peradaban masa lampau, tetapi juga penghubung rasa kebersamaan di antara para insan pers.

Komentar