Selasa, 14 Juli 2026 | 04:00
COMMUNITY

Halimun, Primadona Pendakian Tektok di Selatan Jawa

Halimun, Primadona Pendakian Tektok di Selatan Jawa
Anggota Elpala di puncak Gunung Halimun (Dok Elpala)

ASKARA - Gunung Halimun yang menjulang setinggi 1.658 meter di atas permukaan laut terus menjadi magnet bagi para pendaki, terutama pecinta jalur tektok, pendakian tanpa bermalam yang dilakukan dalam satu hari.

Terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), wilayah ini dikenal sebagai hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Jalur menuju puncak Halimun, khususnya via Citalahab atau Malasari, menawarkan sensasi mendaki yang berbeda: sejuk, sunyi, dan dibalut kabut yang hampir tak pernah hilang.

Pendakian tektok ke Puncak Halimun umumnya memakan waktu 7-10 jam pulang-pergi. Karakter jalurnya menantang namun bersahabat bagi pendaki pemula yang ingin merasakan petualangan tanpa harus bermalam. Rute didominasi hutan lebat, jalur tanah licin, dan akar-akar pohon besar yang menjadi pijakan alami.

Tak ada tugu besar di puncak, hanya semak dan kabut. Namun justru di sanalah letak keistimewaan Halimun, keheningan dan kesederhanaannya membuat banyak pendaki datang bukan untuk mengejar popularitas, melainkan ketenangan dan koneksi dengan alam.

Selain panorama, Halimun juga kaya akan biodiversitas. Kawasan ini menjadi habitat elang Jawa, owa, hingga macan tutul. Oleh karena itu, pendaki yang datang diwajibkan menjaga ketertiban dan tidak merusak lingkungan. Pihak TNGHS sendiri menerapkan pembatasan jumlah pengunjung dan mengedukasi soal konservasi.

Fenomena pendakian tektok yang makin marak dalam beberapa tahun terakhir menjadikan Halimun pilihan ideal. Dekat dari Jakarta, relatif aman, dan tidak terlalu tinggi, Halimun menawarkan kombinasi antara petualangan dan refleksi diri yang jarang ditemukan di gunung lain.

Bagi komunitas pendaki, Halimun bukan hanya sekadar destinasi, tapi juga “tempat pulang” yang selalu menenangkan. Kabutnya, hutannya, dan keheningannya menjadikan setiap langkah di sana sebagai perjalanan spiritual, bukan sekadar fisik.

 

 

Komentar