Rabu, 17 Juni 2026 | 23:43
COMMUNITY

Pendaki Dulu, Pendaki Sekarang: Antara Adab dan Tren Alam Bebas

Pendaki Dulu, Pendaki Sekarang: Antara Adab dan Tren Alam Bebas
Dua pendaki wanita dari Elpala tengah menuju puncak Gunung Kerinci di Jambi (Dok Elpala)

ASKARA - Zaman boleh berubah, teknologi boleh makin canggih, tapi adab di alam bebas semestinya tak lekang oleh waktu. Namun kenyataannya, jejak perbedaan antara pendaki zaman dulu dan sekarang kian tampak jelas, bukan hanya dari perlengkapan atau gaya dokumentasi, tetapi lebih dalam: soal sikap dan etika.

Dulu, sebelum mendaki gunung, para pendaki melewati proses panjang: latihan fisik, pembekalan materi dasar, hingga belajar etika dan filosofi bertualang di alam. Naik gunung bukan soal gagah-gagahan, apalagi cari popularitas. Setiap langkah dihitung, setiap ucapan dijaga. Alam dianggap sakral, bukan sekadar latar belakang foto.

“Kalau zaman saya muda dulu, kami bahkan diajarkan untuk mengetuk pohon besar sebelum lewat, sebagai bentuk permisi. Tidak sembarangan bicara, tidak seenaknya ambil jalur, dan yang pasti, tidak meninggalkan sampah,” kenang Heri Latu, pendaki senior dari organisasi pecinta alam Elpala, saat ditemui, Rabu (30/7).

Kini, suasana berubah. Gunung semakin ramai. Dalam satu akhir pekan, jalur pendakian bisa disesaki oleh ratusan pendaki. Banyak di antaranya generasi baru yang naik dengan niat berbeda, demi konten, demi eksistensi, atau sekadar ikut-ikutan. Tak sedikit pula yang naik tanpa pemahaman cukup tentang keselamatan dan etika lingkungan.

Musik dikeraskan lewat speaker portabel, tenda-tenda berdiri di sembarang tempat, hingga coretan di batu dan papan penunjuk arah menjadi pemandangan yang kerap membuat pendaki lama menggelengkan kepala.

"Saya pernah lihat anak-anak muda nyetel musik keras di pos peristirahatan, padahal ada pendaki lain yang sedang istirahat. Mereka tertawa keras, buang sampah seenaknya. Rasanya seperti bukan di gunung lagi," ujar Qeyra Puspaningtyas, Ketua Elpala yang aktif mengkampanyekan pendakian ramah lingkungan.

Meski begitu, tidak semua pendaki muda bersikap demikian. Banyak pula komunitas pecinta alam generasi sekarang yang terus berupaya menjaga nilai-nilai luhur dalam pendakian. Mereka mengikuti diklat dasar, aktif dalam kegiatan bersih gunung, dan tak segan menegur rekan yang melanggar etika.

Perbedaan memang tak bisa dihindari. Dunia terus berubah. Tapi satu hal yang patut direnungkan: alam bukan tempat pelarian ego, melainkan ruang belajar tentang kehidupan. Pendakian bukan soal menaklukkan alam, melainkan menundukkan diri.

Bagi para pendaki, baik yang dulu maupun sekarang, satu pesan tetap relevan: jaga adabmu, hormati alam, dan tinggalkan jejak kebaikan.

 

Komentar