Rabu, 17 Juni 2026 | 17:10
Ruang Menulis

Cerpen: Janji Tua dan Pengkhianatan Saudara

Cerpen: Janji Tua dan Pengkhianatan Saudara
Ilustrasi

ASKARA - Di balik wajah sendu Pak Haris yang rajin ke masjid sebelum fajar, tersimpan luka sumpah yang belum tertebus. Namun, bukan hanya kenangan dan penyesalan yang menyelimuti hidupnya. Di akhir hayatnya, sebuah pengkhianatan justru datang dari arah yang paling ia percayai: seseorang yang ia anggap saudara seiman. Dan semua itu terungkap saat jasadnya telah terbujur kaku.

Sajadah tua di saf pertama masjid itu sudah dua tahun tak pernah berpindah. Warnanya memudar, tetapi tak seorang pun jamaah berani menyentuhnya. Bukan karena takut atau angkuh, tapi karena mereka merasa ada jejak kesedihan yang tertinggal di atasnya. Jejak itu milik Haris, lelaki tua yang wafat dalam diam, namun meninggalkan dentuman sunyi di hati banyak orang.

Saban subuh, Haris hadir lebih awal dari muazin. Duduk dengan tasbih yang sama, baju yang serupa, dan wajah yang tak pernah lepas dari sembab. Setiap kali orang menyapanya, ia hanya tersenyum samar. “Hanya menebus kesalahan,” ucapnya pelan. Tak ada yang tahu, kesalahan seperti apa yang ia maksud.

Haris bukan lelaki biasa. Dahulu ia pengusaha besar, dikenal luas di tiga kota. Tapi semuanya sirna begitu cepat, setelah satu sumpah ia langgar. Ia pernah berkata di depan istrinya, “Demi Allah, tak akan lagi aku menyentuh barang haram.” Namun keesokan harinya, ia tergoda proyek kotor. Maka sumpah itu pun pecah. Dan perlahan, hidupnya pun pecah bersamanya.

Anak perempuan satu-satunya, Salsabila, pergi karena konflik warisan. Istrinya, Alifah, meninggal setelah tahu Haris kembali terlibat dalam proyek haram. Dan sejak itu, Haris memilih hidup sepi, tinggal sendiri, bersahabat dengan sajadah dan air mata.

Rizky, pemuda penghafal Al-Qur’an yang kerap memperhatikannya dari jauh, menjadi satu-satunya orang yang Haris izinkan masuk ke ruang hatinya. Suatu malam, saat hujan mengguyur bumi dan masjid lengang, Haris berkata padanya, “Aku pernah mengkhianati nama Allah. Dan mungkin, itulah awal dari semua ini.”

Rizky menunduk, tak bertanya lebih lanjut. Ia tahu luka seperti itu tak layak digali dengan pertanyaan.

Satu hari, Haris jatuh sakit. Di ranjang rumah sakit, napasnya berat, namun kata-katanya tetap pelan dan tertata.

“Kalau aku wafat, jangan makamkan aku di samping Alifah,” pintanya lirih.

“Kenapa, Pak?” tanya Rizky.

“Karena aku tak pantas... sebelum Allah mengampuniku.”

Seminggu kemudian, Haris wafat.

Namun takdir punya rencana sendiri. Di rak kitabnya, Rizky menemukan sepucuk surat: “Kuburkan aku di sisi Alifah. Karena dia satu-satunya saksi hidup sumpah yang kuhina. Mungkin di dekatnya aku bisa terus meminta maaf.”

Rizky menuruti permintaan terakhir itu.

Namun cerita tidak berhenti di pemakaman. Dua tahun berselang, seorang wanita datang ke masjid. Membawa anak kecil dalam gendongan, wajahnya teduh namun matanya basah.

“Saya Salsabila,” ucapnya pada Rizky. “Anak beliau.”

Rizky tercekat.

Ia menyerahkan surat dari Haris. Salsabila membacanya sambil terisak. “Mama, kenapa menangis?” tanya anaknya.

Salsabila tersenyum getir. “Karena Mama baru tahu... ayah yang Mama kira membuang, ternyata menunggu.”

Itu adalah kerangka kisah yang lama Rizky simpan rapi di hati. Tapi ternyata, cerita Haris tak berakhir di makam atau surat terakhir.

Beberapa pekan setelah pertemuan dengan Salsabila, masjid tempat Haris biasa duduk kedatangan seorang pria. Bersurban rapi, berjenggot putih, dengan senyum bersahabat. Namanya Ustaz Fadlan.

“Almarhum Pak Haris teman lama saya,” katanya. “Kami dulu sama-sama di bisnis logistik.”

Ia mulai rutin hadir di masjid. Mengisi kajian. Menyumbang dana. Membantu renovasi. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Rizky. Setiap kali Fadlan bercerita tentang Haris, nada suaranya datar. Tak ada rasa kehilangan, hanya kenangan sepotong-sepotong yang ganjil.

Suatu malam, Rizky menemukan Fadlan berbicara dengan seseorang lewat telepon di halaman masjid. Suaranya rendah, tapi cukup jelas:

“Tenang, semua aset sudah dialihkan. Surat warisnya tak ada tanda tangan. Anak dari istri keduanya itu? Tak punya bukti kuat. Bahkan surat terakhir itu pun sudah saya... urus.”

Rizky tercekat. Ia langsung mengingat surat Haris yang selama ini ia simpan dan fotokopi surat yang ditulis dengan tangan gemetar, penuh air mata, ditujukan untuk Salsabila.

Keesokan harinya, Rizky menemui Fadlan dengan tenang. “Ustaz, boleh saya tanya satu hal? Bagaimana bisa Bapak tahu surat warisan tidak ditandatangani? Padahal hanya saya dan almarhum yang tahu isi lemari kitab itu.”

Wajah Fadlan berubah. Tegang. Tapi cepat ia kembalikan senyumnya. “Saya hanya mendengar kabar saja.”

“Tapi surat aslinya hilang sejak Bapak datang ke sini.”

Fadlan tak menjawab. Ia pamit, dan sejak hari itu, tak pernah muncul lagi.

Beberapa bulan kemudian, Rizky menemani Salsabila ke pengadilan agama. Dengan fotokopi surat asli dari Haris, ditambah saksi dan bukti komunikasi, ia memperjuangkan hak yang telah lama dirampas.

Di depan hakim, Salsabila menggenggam surat itu erat, dan berkata, “Saya tidak datang untuk menuntut warisan, tapi untuk menegakkan kebenaran. Saya tidak ingin anak saya tumbuh dengan cerita bahwa kakeknya membuang ibunya.”

Putusan akhir memulihkan haknya. Tapi lebih dari itu, Rizky tahu: ukhuwah yang sejati bukan pada mereka yang memanggil ‘akhi’ atau ‘ukhti’, tapi pada mereka yang menjaga amanah hingga akhir.

Dan Haris, meski sempat terjatuh karena lisannya sendiri, tetap berusaha menebus setiap luka yang ia tinggalkan. Bahkan sampai setelah ruhnya kembali ke langit.

Karena dalam hidup ini, luka karena janji tak ditepati... bisa sembuh oleh kejujuran yang dibayar dengan air mata. Tapi luka karena saudara yang menikam di belakang itulah luka yang hanya bisa sembuh oleh kebenaran yang dibawa dengan keberanian. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar