Senin, 15 Juni 2026 | 21:59
COMMUNITY

PGI Kecam Pembubaran Ibadah Minggu di Sumbar, Sebut Indonesia Bukan Milik Satu Golongan

PGI Kecam Pembubaran Ibadah Minggu di Sumbar, Sebut Indonesia Bukan Milik Satu Golongan
Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty (Dok Ronald)

ASKARA - Aksi intoleransi kembali mencoreng wajah kebangsaan. Kali ini, insiden pembubaran ibadah umat Kristiani disertai perusakan tempat ibadah terjadi di Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang, Sumatera Barat, pada Minggu pagi, 27 Juli 2025.

Dalam sebuah video berdurasi 10 menit 53 detik yang diterima askara.co pada Minggu malam, tampak sekelompok orang merusak sebuah bangunan yang diduga sebagai rumah ibadah. Beberapa pria terlihat memecahkan kaca bangunan dan merusak kursi yang digunakan dalam kegiatan peribadatan. Jemaat pun dipaksa keluar dari tempat tersebut.

"Pembubaran ibadah di pos atau rumah doa di Padang Sarai, Koto Tengah, Kota Padang, Sumbar. Minggu, 27 Juli 2025," demikian bunyi keterangan dalam video yang beredar di grup WhatsApp para jurnalis. Video itu juga menyebut bahwa jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Anugerah Padang yang dipimpin Pdt. F. Dachi, M.Th., menjadi sasaran tindakan tersebut.

Insiden ini turut berdampak terhadap anak-anak jemaat yang hadir dalam ibadah. Pada menit keempat video, tampak sejumlah anak menangis ketakutan akibat kekerasan yang mereka saksikan.

Menanggapi kejadian tersebut, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan kecaman keras.

"Dalam siaran pers yang dirilis 28 Juli, PGI mengecam keras tindakan pelarangan ibadah di rumah doa yang juga berfungsi sebagai tempat pendidikan bagi anak-anak Kristen di wilayah itu," kata Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty.

“Tindakan ini sangat menyesakkan. Aksi kekerasan dilakukan di depan anak-anak dengan tujuan menghentikan kegiatan kerohanian. Ini jelas akan menimbulkan trauma mendalam dalam pertumbuhan mereka,” tegasnya.

Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa sikap intoleransi masih mengakar di berbagai penjuru negeri. “Indonesia bukan milik satu golongan, satu suku, atau satu keyakinan. Indonesia adalah rumah bersama, dibangun oleh keberagaman, dijaga dengan persatuan, dan disatukan oleh penghormatan terhadap perbedaan,” ujarnya.

Pdt. Jacky Manuputty menambahkan bahwa diskriminasi, ujaran kebencian, dan penolakan terhadap hak-hak dasar warga hanya karena perbedaan keyakinan merupakan ancaman serius bagi persatuan bangsa.

"Ini bukan hanya menyakitkan, tetapi berbahaya. Intoleransi adalah racun yang menggerogoti keutuhan bangsa. Negara harus hadir untuk menjamin hak konstitusional setiap warga negara, termasuk dalam menjalankan ibadahnya,” tandasnya.

Pendeta yang juga dikenal sebagai aktivis perdamaian dari Maluku ini menyatakan bahwa tindakan intoleran merupakan ancaman langsung terhadap semangat Bhinneka Tunggal Ika, cita-cita kemerdekaan, dan hak asasi manusia. PGI pun mendukung langkah hukum yang diambil untuk menindaklanjuti kejadian ini.

PGI juga mengapresiasi respons cepat Wali Kota Padang yang memfasilitasi dialog antar pihak serta memberikan perhatian terhadap penanganan trauma anak-anak korban kejadian tersebut.

"Mari kita lawan kebencian dengan pendidikan, hadapi ketakutan dengan dialog, dan jawab intoleransi dengan toleransi yang berani. Kita harus menjadi bangsa yang tidak hanya menerima perbedaan, tetapi juga merayakannya. Hanya dengan saling menghargai, kita bisa tumbuh menjadi bangsa yang besar dan bermartabat,” pungkas Pdt. Jacky Manuputty.

 

 

Komentar