Kamis, 23 Juli 2026 | 13:42
LIFESTYLE

Kapan Purnama Langka Penuh Sarat Makna Spiritual dalam Tradisi Jawa?

Kapan Purnama Langka Penuh Sarat Makna Spiritual dalam Tradisi Jawa?
Purnama langka (Dok Askara)

ASKARA – Langit Indonesia akan dihiasi oleh fenomena langka Bulan Sturgeon (Sturgeon Moon) pada Sabtu, 9 Agustus 2025, yang bertepatan dengan purnama penuh dan disebut sebagai salah satu supermoon paling terang tahun ini. Dalam tradisi barat, nama Sturgeon merujuk pada waktu melimpahnya ikan sturgeon. Namun di tanah Jawa, purnama memiliki makna spiritual dan filosofis yang sangat dalam.

Dalam spiritualitas Jawa, purnama atau dikenal sebagai “bulan purnama sidhi”  adalah waktu yang diyakini memiliki energi paling kuat untuk olah batin, meditasi, dan permohonan kepada Sang Pencipta. Purnama dianggap sebagai simbol kesempurnaan alam, saat langit dan bumi dalam harmoni terang.

“Waktu purnama sering dimaknai sebagai momen ‘nyawiji’, menyatunya rasa pribadi dengan semesta. Saat bulan bulat sempurna, manusia dianjurkan untuk eling lan waspada, sadar diri, dan memperkuat hubungan dengan Yang Maha Kuasa,” ujar Ki Dadigaro, seorang pemerhati spiritual, Sabtu (26/7).

Pada malam Bulan Sturgeon, banyak kalangan spiritual Jawa memilih untuk melakukan tapa brata, tirakat, atau lelaku diam (hening), sebagai bentuk laku spiritual untuk membersihkan batin dan memohon ketenangan jiwa. Air yang didiamkan di bawah cahaya purnama juga diyakini membawa energi penyembuhan dan keseimbangan.

Selain aspek spiritual, purnama dalam budaya Jawa juga diasosiasikan dengan saat yang baik untuk reresik batin, membersihkan niat dan hati, serta memohon petunjuk untuk langkah hidup ke depan. Banyak yang melakukan semedi, membakar kemenyan, atau sekadar duduk hening di bawah sinar bulan.

Fenomena Bulan Sturgeon ini pun menjadi momen refleksi dan penyatuan nilai-nilai kejawen dengan peristiwa alam global. Bagi masyarakat Jawa, keindahan langit bukan sekadar tontonan, tapi juga bagian dari pesan semesta untuk terus menjaga keseimbangan diri dan alam.

“Bulan itu guru sejati. Dia hadir tanpa suara, tapi cahayanya menuntun batin kita,” ujar Ki Dadigaro.

Jika cuaca cerah, masyarakat Indonesia bisa menyaksikan keindahan Bulan Sturgeon mulai petang hingga dini hari. Di tengah hiruk pikuk zaman, momen langit ini bisa menjadi ajakan untuk berhenti sejenak, merenung, dan menyelaraskan diri dengan alam semesta.

 

Komentar