Rabu, 22 Juli 2026 | 22:59
LIFESTYLE

Udara Jakarta Kritis, Clean Air Asia Dorong Solusi Kolaboratif Berbasis Data dan Kebijakan

Udara Jakarta Kritis, Clean Air Asia Dorong Solusi Kolaboratif Berbasis Data dan Kebijakan
seminar “Scaling Up Solutions for Clean Air with Data, Policy and Financing” yang diselenggarakan Clean Air Asia di Jakarta (Dok Askara)

ASKARA – Tingkat polusi udara di kawasan Jabodetabek kini kian mengkhawatirkan. Konsentrasi tahunan partikel halus (PM2.5) selama lebih dari satu dekade tercatat melampaui ambang batas nasional dan bahkan tujuh kali lipat lebih tinggi dari standar yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam seminar “Scaling Up Solutions for Clean Air with Data, Policy and Financing” yang diselenggarakan Clean Air Asia di Jakarta, Selasa (22/7). Acara ini menghadirkan perwakilan pemerintah, jurnalis, pegiat lingkungan, serta mitra pembangunan nasional dan global.

Ketua Board of Trustees Clean Air Asia, Dr. Bindu Lohani, menegaskan bahwa polusi udara bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga berdampak pada kesehatan dan ketahanan ekonomi kota-kota besar.

“Urbanisasi tak bisa dihindari, tetapi polusi yang mengiringinya harus dikendalikan. Kota seperti Jakarta punya potensi besar menjadi model kota sehat di Asia Tenggara,” ujarnya.

Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian LHK, Rasio Ridho Sani, menyampaikan pentingnya inovasi kebijakan berkelanjutan. Ia mencontohkan kebijakan Car Free Day pada 2002 sebagai langkah awal yang berhasil dan kini diadopsi banyak kota lain.

Salah satu materi utama seminar adalah presentasi hasil studi Clean Air Asia bersama Kementerian LHK tentang pemetaan sumber emisi di Jabodetabek. Ririn Radiawati Kusuma, Direktur Clean Air Asia Indonesia, menjelaskan bahwa hasil kajian tersebut diharapkan menjadi dasar pengambilan keputusan strategis pengendalian emisi di wilayah urban.

Dua sesi diskusi panel turut menguatkan kolaborasi lintas sektor. Bambang Susantono dan Noni Sri Ayati Purnomo memoderasi sesi yang membahas peran multipihak, termasuk media, dalam membangun kesadaran publik dan mendukung pendanaan untuk udara bersih.

Menutup seminar, Denny Silaban dari Kementerian LHK menyampaikan bahwa model riset ini diharapkan menjadi referensi nasional yang bisa direplikasi di berbagai daerah.

“Studi ini bukan proyek satu kali, tapi model yang dapat dikembangkan untuk kebijakan udara bersih di kota-kota lain,” tandasnya.

 

Komentar