Suara Hati di Tengah Kegelapan
ASKARA - Di dunia yang penuh gemerlap tapi miskin makna, suara hati adalah lentera yang nyaris padam. Ketika tubuh-tubuh hidup tapi hati-hati mereka mati, kisah ini lahir dari secuil kejujuran seorang penjaga malam yang hatinya tak bisa diajak kompromi. Namun di balik keteguhannya, ada rahasia yang membuat kita tercekat di akhir cerita.
Hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, genangan masih memantulkan lampu jalan yang redup. Jam menunjukkan pukul 02.15 dini hari saat langkah lelaki tua itu menyusuri koridor pabrik tua dengan senter dan radio kecil di pinggangnya.
Namanya Pak Rasman. Usianya 61 tahun, penjaga malam di kawasan industri yang mulai ditinggalkan tenant. Meski area pabrik itu hampir sepi, perusahaan masih mempekerjakannya untuk berjaga malam. Entah karena loyalitas, entah karena kasihan.
Malam itu seperti malam-malam lainnya. Sepi. Dingin. Kadang suara tikus atau cericit burung malam menyusup telinga. Tapi Rasman tidak pernah mengeluh. Ia tidak banyak bicara. Tapi diamnya bukan kosong. Ia menyimpan banyak suara dalam hati, yang tak sempat dituturkan ke siapa-siapa.
Sampai malam itu datang seorang pemuda yang menyelinap dari pintu belakang. Wajahnya terekam jelas di layar CCTV, membawa helm di tangan, membuka pintu gudang dengan kartu akses yang tampaknya dipalsukan. Ia tak sadar Rasman memerhatikannya dari jauh.
“Anak muda zaman sekarang,” gumam Rasman lirih. Ia tidak buru-buru mengejar. Ia mengikuti dari jauh, sembari mengaktifkan radio panggil di pinggang.
Tapi suara hati mendahului prosedur. Bukan karena ingin jadi pahlawan. Tapi karena hatinya bergetar. Ada sesuatu yang salah, dan ia tak bisa berpura-pura tak melihat.
Pemuda itu membuka satu kotak besar berisi onderdil mesin pabrik. Komponen mahal yang sudah dicatat sebagai “sudah rusak” padahal masih utuh. Modus lama. Maling yang menyamar sebagai petugas maintenance.
Rasman tak pernah sekolah tinggi. Tapi matanya tajam, dan lebih tajam lagi nuraninya.
“Mas,” katanya dengan suara tenang. “Kamu tahu ini bukan milikmu. Keluar sekarang, atau saya panggil polisi.”
Pemuda itu tersentak. Tangannya refleks menyembunyikan obeng di balik punggung. Matanya liar, mencari celah lari.
“Pak, saya cuma nurut bos saya. Katanya ini barang udah tak dipakai lagi.”
“Kalau begitu kenapa kamu datang malam-malam?”
Diam.
Dan di situ Rasman tahu: ini bukan pencurian iseng. Ini sindikat. Dan pemuda itu cuma pion.
“Aku juga butuh duit, Pak,” gumamnya lirih.
“Semua orang butuh duit. Tapi tidak semua orang tega jual harga diri.”
Pemuda itu menunduk. Tapi tak lama. Tiba-tiba obengnya melayang ke arah Rasman. Lelaki tua itu sigap menangkis, tapi tubuh renta tak bisa berbohong. Ia terhuyung.
Namun sebelum jatuh, tangannya menekan tombol darurat di radio. Bunyi sirine mini berbunyi di pos depan. Pemuda itu panik, kabur, meninggalkan kotak yang sudah sempat dibuka.
Beberapa jam kemudian, polisi datang. CCTV dibuka. Laporan dibuat. Nama Rasman dipuji-puji sebagai penjaga loyal. Tapi tak satu pun media meliputnya. Tak ada viral. Tak ada reward. Dunia terlalu sibuk untuk memuliakan kejujuran yang tak menghasilkan keuntungan.
Namun Rasman tak peduli.
Karena malam itu, ia pulang dengan hati lapang. Bukan karena digaji tepat waktu. Tapi karena ia masih bisa membedakan mana halal mana haram. Dan suara itu, suara kecil dalam dada, masih jelas terdengar: “Itu bukan milikmu.”
Tiga hari kemudian, ada yang aneh. Pabrik geger. Bukan karena maling. Tapi karena Rasman tak datang lagi.
Tak ada kabar. Tak ada jejak. Rumahnya kosong. Tetangganya bilang ia pamit mau ziarah ke makam istrinya di kampung, tapi tak kembali.
Manajer HRD datang mengecek ke rumah kontrakannya. Di dalam kamar, hanya ada satu koper tua, satu sajadah, dan sebuah surat di atas meja kecil yang bersandar pada dinding:
“Saya mohon maaf. Ada sesuatu yang harus saya hadapi. Mungkin ini hari terakhir saya disebut hidup. Tapi saya ingin pergi dengan tenang, karena saya sudah mendengar suara hati saya hingga akhir. Terima kasih untuk semua yang tak sempat saya ucapkan. Rasman.”
Polisi dilibatkan. Ada upaya pencarian. Tapi tak ditemukan jejak. Hingga akhirnya berita itu tenggelam.
Sepuluh bulan kemudian, di kota kecil dekat perbatasan, seorang petugas panti menemukan lelaki tua tergeletak di depan pagar saat Subuh. Tak membawa apa-apa. Tak ingat nama. Tak bisa bicara. Tapi di sakunya ada kertas kusut dengan tulisan:
“Jika kamu membaca ini, tolong sampaikan pada siapa pun: aku hanya ingin mati dengan hati yang masih hidup.”
Ia diberi nama “Pak Sabar” di panti itu. Tidak banyak bicara. Tapi setiap malam, ia terdengar menangis. Kadang mengulang kalimat yang sama: “Itu bukan milikmu.”
Dan pada suatu malam Ramadhan, saat panti sunyi dan udara hangat, ia menghembuskan napas terakhir.
Petugas memandikannya, memakaikan kain kafan putih, dan membuka lipatan saku terakhirnya. Di situ, ada foto tua yang lusuh seorang lelaki memakai rompi penjaga malam, tersenyum samar, berdiri di depan pintu gudang. Di belakangnya, tergantung poster bertuliskan:
“Kehormatan tidak ditentukan oleh siapa yang melihat, tapi oleh siapa yang tetap jujur ketika tidak ada yang peduli.”
Beberapa bulan kemudian, pemuda yang dulu mencuri itu datang ke masjid tempat panti tersebut biasa beraktivitas. Ia menyumbangkan mesin generator baru dan beberapa kotak makanan.
Ketika ditanya mengapa, ia hanya berkata,
“Saya pernah hampir membunuh seseorang karena nuraninya. Tapi karena dia, saya mulai belajar apa arti hidup. Saya cari ke mana-mana… dan ternyata, saya datang terlambat.”
Lalu ia menunduk. Lama.
Sambil memeluk saku bajunya sendiri, yang ternyata… menyimpan foto yang sama. Foto seorang lelaki penjaga malam, berdiri di depan gudang. Tapi kali ini, dengan tulisan tangan di baliknya:
"Jika hatimu masih bisa berkata 'itu haram', maka engkau belum sepenuhnya hilang." (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar