Senin, 15 Juni 2026 | 21:58
COMMUNITY

Pesan Prof. Rokhmin di KKM UMC: Saatnya Mahasiswa Bangun Ekonomi Desa, Bukan Cuma Mengecat Pos Ronda

Pesan Prof. Rokhmin di KKM UMC: Saatnya Mahasiswa Bangun Ekonomi Desa, Bukan Cuma Mengecat Pos Ronda
Pembekalan Kuliah Kerja Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon (ist)

ASKARA — Suasana Convention Hall Universitas Muhammadiyah Cirebon, Sabtu (19/7), memancarkan semangat perubahan. Ribuan mahasiswa memadati ruangan, mengikuti pembekalan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 2024/2025 dengan tema “Aksi Nyata Perguruan Tinggi Berdampak Melalui Mahasiswa Sebagai Penggerak Ekonomi Kerakyatan.”

Acara ini menghadirkan Anggota DPR RI 2024 - 2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, yang menggarisbawahi peran penting mahasiswa sebagai garda depan dalam membangun desa dan memberdayakan masyarakat. Menurutnya, pembekalan KKM UMC tahun akademik 2024/2025 tidak sekadar seremoni, tapi menjadi panggung panggilan aksi bagi generasi muda.

“Indonesia punya modal besar: sumber daya alam melimpah, letak geoekonomi strategis, dan bonus demografi. tetapi tak akan berarti tanpa SDM unggul, khususnya para mahasiswa. Itulah peran kalian, para mahasiswa,” ujar Rektor Universitas UMMI Bogor ini.

Dalam orasi pembekalan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menyoroti realita keras di lapangan: kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi di Jawa Barat, termasuk Kabupaten Cirebon.

Ia menekankan bahwa KKM bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan momentum aktualisasi diri melalui aksi nyata yang berdampak langsung. Mahasiswa, kata dia, harus mampu membaca kebutuhan masyarakat, beradaptasi dengan kondisi lokal, serta merancang program kerja yang tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Ilmu harus bisa diterjemahkan menjadi solusi konkret. KKM bukan hanya proses, tapi harus menghasilkan output yang terasa manfaatnya oleh warga,” tegasnya.

Selanjutnya, Prof. Rokhmin yang juga pernah menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004 itu menantang mahasiswa untuk meninggalkan jejak kebermanfaatan yang tetap hidup di masyarakat, bahkan setelah program selesai. Mahasiswa tidak cukup sekadar hadir—mereka harus berkontribusi dan memberi perubahan.

Prof. Rokhmin menekankan bahwa KKM bukan lagi ajang formalitas, melainkan ladang pengabdian riil. Mahasiswa ditantang untuk memetakan potensi desa, mendampingi UMKM, menguatkan sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata, serta mengakselerasi literasi digital dan keuangan.

“Cirebon masih di peringkat ke-12 tingkat kemiskinan dari 27 kabupaten/kota di Jabar, dengan PDRB per kapita termasuk yang terendah. Ini bukan sekadar statistik—ini tantangan nyata yang harus kita jawab,” ujar tokoh nelayan nasional itu.

Dengan semangat itu, UMC mengajak generasi muda untuk menjadikan KKM sebagai ladang pengabdian dan pembuktian bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang teori, melainkan juga tentang dampak nyata untuk bangsa.

Tak hanya mengajar anak-anak atau mengecat pos ronda, peserta KKM diarahkan untuk menghidupkan ilmu yang mereka punya, menciptakan proyek ekonomi nyata—dari budidaya hortikultura berkelanjutan, olahan hasil laut, hingga pelatihan digitalisasi dan literasi keuangan.

“Jangan cuma mengecat pos ronda atau mengajar anak-anak. Bawa ilmu, bangun jaringan, ciptakan solusi. Kalian agen perubahan!” tegas Guru Besar IPB University tersebut.

Acara ditutup dengan pemaparan roadmap Indonesia Emas 2045. Mahasiswa diminta bersiap menghadapi masa depan berbasis hilirisasi industri, ekonomi digital, dan teknologi mutakhir seperti AI, big data, dan blockchain.

“KKM adalah start line kalian. Tahun 2045, kalian yang pimpin negeri ini. Mulai bersiap hari ini, bukan nanti," pungkas Prof. Rokhmin Dahuri yang juga sesepuh UMC.

Berbagi Startegi Sukses Mahasiswa

Dosen kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu,  mengkritisi kinerja pendidikan tinggi di Indonesia yang dinilainya belum optimal menjawab tantangan global dan kebutuhan nasional.

Dalam paparannya, ia menyebut tiga kelemahan utama perguruan tinggi di Indonesia. Pertama, kualitas lulusan masih lemah, baik dari sisi kompetensi, kesiapan kerja, karakter, jiwa kewirausahaan, hingga keterkaitan dengan dunia industri dan pemerintahan. “Banyak lulusan kita kalah bersaing dengan alumni luar negeri,” ujarnya.

Kedua, produktivitas riset masih rendah, baik dari sisi publikasi ilmiah internasional, penemuan teknologi, maupun hilirisasi inovasi yang berdampak pada sektor riil. 

Ketiga, kontribusi pengabdian masyarakat oleh perguruan tinggi dinilai belum signifikan dalam pemberdayaan masyarakat, pembangunan daerah, maupun peningkatan kapasitas pemerintah daerah.

Menurutnya, jika kondisi ini tidak segera dibenahi, maka Indonesia akan kesulitan mencapai visi Indonesia Emas 2045. Diperlukan reformasi menyeluruh di bidang pendidikan tinggi, mulai dari kurikulum, sistem riset, hingga orientasi pengabdian yang harus lebih berdampak dan terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat dan negara.

Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri, membagikan delapan strategi efektif agar mahasiswa sukses melaksanakan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dan benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa.

“KKM adalah wujud nyata pengabdian dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Jangan hanya formalitas, tapi hadir membawa solusi,” ujar Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany tersebut.

Delapan strategi yang disarankan Prof. Rokhmin adalah:

Pertama, Silaturrahim dan Perkenalan: Jalin komunikasi awal dengan camat, kepala desa, tokoh masyarakat, ulama, pemuda-pemudi, serta aparat desa.

Kedua, Temu Wicara Masyarakat: Identifikasi potensi desa dan jaring aspirasi warga soal solusi dan perbaikan kesejahteraan.

Ketiga, Penyuluhan dan Pelatihan: Tingkatkan usaha masyarakat di berbagai sektor, serta nilai-nilai etos kerja, akhlak, dan IMTAQ.

Keempat, Kegiatan Sosial dan Hiburan: Selenggarakan baksos, lomba, olahraga, dan hiburan untuk mempererat ikatan sosial.

Kelima, Shalat Jamaah & Kultum: Bagi mahasiswa Muslim, aktifkan masjid sebagai pusat dakwah dan pembinaan spiritual.

Keenam, Lokakarya & Perpisahan: Paparkan hasil temuan dan usulan pembangunan desa, sambil meminta umpan balik dari warga.

Ketujuh, Laporan Akademik: Serahkan laporan komprehensif kepada dosen pembimbing sebagai bukti kontribusi nyata.

Kedelapan, Etika dan Kepribadian: Tampilkan sikap santun, ramah, dan menyejukkan selama tinggal di tengah masyarakat.

“Mahasiswa harus jadi agen perubahan yang membawa dampak nyata. Jangan hanya datang, tapi tinggalkan jejak manfaat yang dikenang,” tegas Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) itu.

UMC Kirim 1.250 Mahasiswa ke Desa

Sebanyak 1.250 mahasiswa dari 20 prodi diterjunkan ke 52 desa di wilayah Ciayumajakuning hingga Kabupaten Brebes. Fokusnya jelas: memperkuat ekonomi lokal dan mendorong UMKM desa naik kelas.

Ketua LPPM UMC, Tania Avianda Gusman, Ph.D, menegaskan bahwa mahasiswa tak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga membawa perubahan nyata. “Kami ingin mahasiswa menjadi agen perubahan ekonomi masyarakat. Bukan hanya datang, tapi benar-benar membantu UMKM dari inovasi produk hingga legalitas seperti NIB dan PIRT,” katanya.

Program ini selaras dengan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2017–2045 dan Renstra UMC 2017–2025, serta menyasar penguatan ekonomi berbasis potensi desa. UMC menargetkan setiap kelompok mahasiswa dapat mendampingi minimal lima UMKM agar naik kelas, termasuk dalam hal kemasan ramah lingkungan dan pemasaran digital.

Selain itu, mahasiswa juga menjalankan proyek ekonomi riil seperti budidaya hortikultura berkelanjutan, pengolahan hasil laut, dan pengembangan pariwisata lokal. Semua kegiatan dirancang menggunakan pendekatan problem-based dan goal-based planning, untuk menjawab langsung tantangan riil masyarakat.

“KKM bukan hanya soal hadir di desa, tapi soal memberi dampak. Ini latihan membangun masa depan—dengan ilmu, aksi nyata, dan kepekaan sosial,” pungkas Tania.

KKM Tematik UMC 2025 dijadwalkan berlangsung hingga September, diakhiri dengan seminar hasil, pameran UMKM, dan publikasi artikel ilmiah sebagai wujud nyata kontribusi mahasiswa terhadap pemberdayaan ekonomi lokal.

Komentar