Kamis, 04 Juni 2026 | 06:02
NEWS

Mewarisi Api Bung Karno, Prof. Rokhmin Dahuri: UBK Harus Jadi Mercusuar Indonesia Emas 2045!

Mewarisi Api Bung Karno, Prof. Rokhmin Dahuri: UBK Harus Jadi Mercusuar Indonesia Emas 2045!
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS (ist)

ASKARA - Universitas Bung Karno (UBK) menggelar kuliah umum bertema “Mewarisi Api: Gagasan Bung Karno untuk Generasi Emas 2045” pada Kamis, 17 Juli 2025 di Aula Ir. Soekarno, Jakarta. Acara ini menjadi momentum penting dalam membumikan kembali ajaran Bung Karno untuk membentuk generasi unggul menyongsong 100 tahun Indonesia merdeka.

Kuliah umum menghadirkan tokoh nasional dan Anggota DPR RI 2024–2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, yang memantik semangat para mahasiswa dan civitas akademika UBK. 

Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menyerukan agar UBK mengambil posisi strategis sebagai Universitas Unggul Berkelas Dunia, merujuk pada warisan besar Bung Karno sebagai modal kebangsaan yang tak ternilai.

“UBK harus menjadi Perguruan Tinggi Unggul Berkelas Dunia untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045, karena UBK mempunyai modal dari nama besar dan Ajaran Bung Karno-nya,” tegas Prof. Rokhmin Dahuri yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas UMMI Bogor ini.

Acara dihadiri oleh Ketua Umum Yayasan Pendidikan Soekarno, M. Marhaendra Putra S, SH, MH, Rektor UBK, Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju, jajaran dosen, serta mahasiswa UBK yang antusias menyimak gagasan besar untuk masa depan bangsa.

Mengangkat tema “Positioning UBK Sebagai Universitas Unggul Berkelas Dunia di Era Industri 4.0, Konflik Geopolitik Global, dan Perubahan Iklim”, Prof. Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya peningkatan mutu akademik, adaptasi terhadap kebutuhan industri, serta kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan Pentahelix (pemerintah, perguruan tinggi, industri, masyarakat, dan media) untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. "Sejatinya, kondisi Pendidikan Tinggi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Pror. Rokhmin Dahuri menyoroti lemahnya posisi perguruan tinggi Indonesia di kancah global. Ia memberikan pandangan mengenai perguruan tinggi di Indonesia, menekankan pentingnya perguruan tinggi berperan aktif dalam pembangunan nasional. 

Ironisnya, dari 104 perguruan tinggi yang telah berstatus akreditasi institusi unggul. Ia menyebutkan, tidak satu pun dari Perguruan Tinggi (PT) terakreditasi unggul versi BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi), masuk dalam 100 besar dunia versi QS World University Ranking (WUR) maupun Times Higher Education (THE). Sementara negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura telah memiliki universitas yang bersaing di peringkat dunia. Malaysia sudah sejak lama memiliki satu PT yang bertengger di jajaran 100 besar dunia versi QS WUR, yakni University of Malaya (UM) yang berada di peringkat ke-60 dunia. Singapura memiliki National University of Singapore (NUS) yang bertengger di peringkat-8 dunia, dan Nanyang Tehcnological University (NTU) di peringkat-15 dunia. “Kita belum punya satupun. Ini alarm serius. Pendidikan tinggi kita sedang tidak baik-baik saja!” tandasnya.

Sementara itu, Indonesia baru bisa menempatkan 5 PT yang berada di 500 besar dunia: UI (ke-206), UGM (239), ITB (256), UNAIR (308), dan IPB (426). 

Kriteria (fitur) utama QS WUR: (1) Reputasi Akademik (40%), (2) Reputasi Dosen (10%), (3) Rasio Mahasiswa – Fakultas (20%), (4) Ideks Sitasi per Fakultas (20%), (5) Rasio Dosen Intrenasional di Fakultas (5%), dan (6) Rasio Mahasiswa Internasional (5%).

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan perlunya reformasi menyeluruh, mulai dari kualitas dosen, riset berdampak, hingga kolaborasi pentahelix. “Kalau UBK mau relevan, maka harus berani melompat keluar dari zona nyaman dan membuktikan bahwa warisan Bung Karno bisa hidup dan membawa bangsa ini bangkit sebagai kekuatan dunia,” tuturnya.

Melalui momentum ini, UBK didorong untuk memanfaatkan kekuatan historis dan ideologis Bung Karno guna menjadi katalis perubahan dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia.

UBK Menuju Universitas Kelas Dunia

Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan strategi konkret untuk mewujudkan Universitas Bung Karno (UBK) sebagai perguruan tinggi unggul berkelas dunia. Ia  menekankan bahwa UBK memiliki modal ideologis dan historis yang luar biasa untuk menjadi world class university. Namun, ia juga menegaskan pentingnya transformasi menyeluruh dan terencana.

“Warisan Bung Karno seperti kemandirian, humanisme, dan Trisakti, adalah fondasi moral dan intelektual UBK untuk bersaing di tingkat global*. Tapi itu harus ditopang dengan SDM unggul, kurikulum adaptif, dan inovasi berbasis riset,” jelas Guru Besar IPB University itu.

Lalu, Prof. Rokhmin memaparkan strategi berbasis SWOT Analysis: Pertama, Kekuatan S (Strengths): Identitas ideologis kuat, Jaringan tokoh nasional & 
global

Kedua, Kelemahan W (Weaknesses): Identitas ideologis kuat, Jaringan tokoh nasional & global, Sarana & Prasarana terbatas, Daya saing masih rendah, Manajamen rendah, Dana terbatas.

Ketiga, Peluang O (Opportunities): Permintaan educated & skillful SDM dan talenta digital meningkat, Industri 4.0, Green & Blue Economy, Spiritual Economy

Keempat, Ancaman T (Threats): Persaingan nasional & global Perguruan Tinggi, Fragmentasi pasok riset

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya strategi holistik dan terencana untuk mewujudkan Universitas Bung Karno unggul berkelas dunia, dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, inovasi, dan kerjasama pentahelix. Beliau menyoroti perlunya kurikulum yang relevan dengan tantangan era disrupsi dan digitalisasi, serta peningkatan kualitas riset dan infrastruktur. 

Kemudian , ia menjelaskan Reasonings UBK unggul berkelas dunia, yaitu: Warisan Bung Karno: • Kemandirian, • Humanisme,  • Tri sakti, • Pemimpin Dunia: KAA, NAM, To Build the World a New. Lokasi Jakarta: • Akses pusat industri & 
kebijakan. Profil kampus: • ± 6–7 ribu mahasiswa, • 5 fakultas, • 12 prodi.

Ia mengatakan bahwa  Perguruan tinggi berperan dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan mampu menghadapi Society 5.0 yakni melalui Proses Tri Dharma (Pembelajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat) yang diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki 4 kemampuan (keahlian), yaitu kemampuan analisis & memecahkan masalah yang kompleks, berpikir kritis, kreatif & inovatif, dan kolaboratif.

“Apa yang harus kita kerjakan ke depan, supaya UBK yang sudah baik, dapat lebih baik lagi, hingga menjadi "a Pancasila-Based World Class University” yakni lulusan unggul, penelitian menghasilkan inovasi dan publikasi ilmiah berkelas dunia, dan PkM-nya empowering pemerintah dan masyarakat,” tegasnya.

Ia menuturkan pada umumnya lulusan Perguruan Tinggi Indonesia kurang kompeten, kurang siap bekerja, karakter (etos kerja) nya lemah, rendah entrepreneurrship nya, mismatch dengan dunia kerja (industri & pemerintah), dan kalah daya saing dengan lulusan Perguruan Tinggi Luar Negeri.

Selain itu produktivitas riset (R & D) berupa publikasi di jurnal ilmiah internasional ternama, invention (prototipe), dan innovation (commercial technology) masih rendah. Kontribusi kegiatan Pengabdian Masyarakat bagi pemberdayaan masyarakat, pembangunan wilayah, dan peningkatan kapasitas pemerintahan belum signifikan.

Padahal kata Prof Rokhmin Dahuri, fakta empiris dan sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa yang maju, sejahtera (adil-makmur) adalah yang kualitas SDM nya unggul, mampu menguasai dan menerapkan IPTEK dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan menghasilkan inovasi.    

“Kualitas SDM unggul seperti diatas dapat dibangun melalui sistem kesehatan yang prima, sistem pendidikan berkelas dunia berbasis Pancasila (a Pancasila-Based World Class University), dan sistem kehidupan masyarakat yang meritokrasi,” terang dosen kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu.

Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa Sistem Pendidikan Berkelas Dunia Berbasis Pancasila sangat mendasar dan urgen diterapkan. Sebab, Sistem Pendidikan Kapitalis (Industry 4.0), yang semata bersifat materialistik dan duniawi, hanya sukses dalam hal inovasi IPTEKS dan kemewahan kehidupan materialistik, tetapi gagal dalam mengatasi economic inequality, poverty, hunger, triple ecological crises, dan kebejatan moral dan social illness.

‘’Mengapa Industry 4.0 gagal, karena tidak mencakup dimensi kemanusiaan dan spiritual (akhirat, Tuhan). Society 5.0 pun bakal gagal, karena memperbaiki Industry 4.0 hanya dari aspek jasmani dan duniawi.  Padahal, sejatinya (faktanya), manusia itu tersusun atas unsur jasmani (fisik) dan ruhani; dan kehidupan itu, bukan hanya di dunia fana ini, tetapi juga alam akhirat yang kekal dan abadi,’’ tutur Prof. Rokhmin Dahuri 

Ia juga memaparkan bagaimana Legacies Keberhasilan Pendidikan dan Riset di Masa Kejayaan Umat Islam (Abad-8 s/d Abad-17) dimana sejak pertama kali berdirinya Universitas di dunia, Bayt Al-Hikmat di Bagdhad, melalui 3 tugas-fungsi  (domain) utamanya (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat/Community Services).

“Universitas telah berperan dan berkontribusi sangat signifikan bagi pembangunan peradaban umat manusia pada umumnya, dan pembangunan ekonomi (economic development) pada khususnya. Bayt Al-Hikmat menjadi rujukan Oxford University, Cambridge University, dan Sorbone University (Wallace-Murphy, 2017),” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof Rokhmin juga memberikan beberapa rekomendasi untuk UBK Menjadi  A Pancasila-Based World-Class University diantaranya pertama, pendirian PRODI baru meliputi Industry 4.0, Society 5.0, dan “Ilmu, Teknologi, dan Manajemen Lingkungan” terutama “Science and Technology of Changing Planet”.

Kedua, Penambahan Mata Kuliah baru yang wajib diikuti oleh semua PRODI: (1) Teknologi dan Ekonomi Digital (Digitalisasi, IoT, AI, Blockchain, Robotics, Big Data, Cloud Computing, dan Metaverse); (2) Ekonomi Hijau (Green Economy) dan Ekonomi Biru (Blue Economy), dan Ekonomi Pancasila.

Ketiga, Implementasi MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) semaksimal dan sebaik mungkin. Keempat, Penambahan dan penguatan Dosen dan tenaga non-akademik berkelas dunia. Kelima, Renovasi dan pembangunan baru infrastruktur dan sarana Kampus, seperti Laboratorium yang lengkap, fasilitas gedung dan ruang belajar yang memadai, dukungan fasilitas perpustakaan dan sebagainya

‘’Semua komponen UBK (Dosen, Mahasiswa, Tenaga Non-Akademik, dan Pimpinan) mesti mengeluarkan kemampuan terbaiknya, dan bekerjasama secara sinergis,” tegasnya.

Keenam, Peningkatan Kolaborasi Penta Helix: UBK – Pemerintah – Industri (Swasta) – Masyarakat – Media Masa. Ketujuh, Perbaikan tata kelola (governance) UNM. Kedelapan, Peningkatan anggaran: APBN, APBD, Donasi (nasional dan luar negeri), dan lainnya.

‘’Dan yang tak kalah pentingnya adalah Peningkatan IMTAQ menurut agama masing-masing, dan saling menghormati antar pemeluk agama (hidup harmonis),’’ ujar Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany tersebut.

Profil Universitas Bung Karno

Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan sejarah singkat Universitas Bung Karno (UBK) yang dipimpin Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju M.Si (Rektor Universitas Bung Karno). UBK didirikan oleh Yayasan Pendidikan Soekarno pada 27 September 1981 oleh Ibu Rachmawati Soekarnoputri.l untuk melanjutkan cita-cita Bung Karno melalui pendidikan. Awalnya bernama Institut Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Bung Karno (1983), lalu diubah menjadi Universitas Bung Karno.

Yayasan ini didirikan sebagai wujud dari semangat "Nation and Character Building" yang diwariskan oleh Bung Karno. UBK bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan, dengan fokus pada pengembangan karakter dan semangat anak muda. 

Meski sempat tidak mendapat izin, perjuangan Yayasan membuahkan hasil ketika pemerintah melalui Keputusan Mendikbud No. 101/D/0/1999 resmi mengizinkan berdirinya UBK pada 11 Juni 1999. UBK kemudian diresmikan oleh Presiden BJ Habibie pada 25 Juni 1999 dan kampusnya diresmikan pada 28 Juni 1999.

"UBK lahir dari semangat membangun karakter dan ideologi bangsa, dan sejak awal mendapat sambutan luas dari masyarakat," ujarnya.

Sedangkan visi UBK adalah menjadi Universitas bereputasi unggul dalam kegiatan Tridharma yang berkualifikasi Nasional dan Global berjiwa Pancasila dan UUD 1945 dalam rangka pembangunan
bangsa dan negara.

Sementara itu, jelas Prof. Rokhmin Dahuri, misi UBK adalah 1. Menerapkan tata kelola universitas dengan standar mutu guna peningkatan adaptasi terhadap dinamika kemajuan iptek dan kualitas layanan secara profesional.

2. Menyiapkan Universitas berbasis digital dalam menunjang atmosfir akademik dengan melalui penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

3. Memberdayakan Universitas sebagai Perguruan Tinggi yang berdasarkan pengembangan iptek dan humaniora.

4. Menetapkan atmosfir akademik sesuai SNPT dan standar-standar yang melampaui dalam proses pembelajaran, penelitian, dan PKM.

5. Menjalin kerjasama yang produktif, berkelanjutan dengan lembaga pemerintah dan swasta.

6. Melakukan pengkajian dan penerapan Ajaran Bung Karno (ABK).

7. Menyiapkan dan menghasilkan Entrepreneur patriotik menuju kemandirian dan berkepribadian budaya
Indonesia.

Saat ini, UBK menempati dua kampus yang terletak di Jalan Kimia Nomor 20, Jakarta Pusat dan kampus lainnya di Jakarta, telah terakreditasi B oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) memiliki beberapa fakultas, termasuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Komputer dan Fakultas Teknik. 

Sementara itu, Visi 2030 UBK yakni: Menjadi pusat keunggulan kebangsaan yang Industry 4.0 digital-adaptif, berwawasan internasional, dan berorientasi keberlanjutan.

Indikator Alumni Perguruan Tinggi 

Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan empat indikator utama yang mencerminkan alumni perguruan tinggi yang sukses dan bahagia, baik di dunia maupun akhirat. Menurutnya, keberhasilan sejati tidak hanya dilihat dari materi atau karier, tapi juga dari kualitas spiritual dan kontribusi sosial.

“Alumni yang hebat adalah mereka yang mampu menciptakan kehidupan yang sejahtera, punya integritas spiritual, dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” tegasnya.

Prof. Rokhmin Dahuri merinci indikator alumni sukses sebagai berikut: Pertama , Mampu bekerja dengan: (1) menciptakan lapangan kerja, produk dan jasa sendiri; atau (2) bekerja pada orang lain, perusahaan nasional, perusahaan internasional (MNC), Koperasi, UMKM, Lembaga internasional, LSM, dan ASN 
(Aparat Sipil Negara), dengan pendapatan (income) yang membuat diri dan keluarganya hidup sejahtera secara berkelanjutan.

Kedua, Memiliki identitas (jati diri) dan jiwa (spirit) kebangsaan Indonesia, sehingga
para alumni (lulusan) Perguruan Tinggi menjadi warga negara yang baik (good citizen). Sumber nilai-nilai Kebangsaan Indonesia: Pancasila, UUD 1945, NKRI, 
Bhineka Tunggal Ika, dan Agama yang resmi diakui oleh Pemerintah Indonesia.

Ketiga, Menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) yang dapat berkontribusi bagi pembangunan dunia dan peradaban manusia yang lebih baik, sejahtera, adil, 
damai, dan berkelanjutan.

Keempat, Sebagai insan yang beriman, alumni PT harus bertqawa kepada Tuhan YME menurut agama masing-masing, dan menghadirkan kehidupan harmonis antara
pemeluk agama, sehingga para alumni bisa hidup sukses dan bahagia di dunia 
maupun di akhirat kelak.

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan, untuk mencapai itu semua, mahasiswa harus serius selama kuliah: aktif belajar, berdiskusi, meneliti, serta membangun jaringan yang positif. “Hard skills, soft skills, dan IMTAQ adalah kombinasi kunci untuk menjadi alumni yang unggul. Dan itu semua harus diasah sejak di kampus, lalu terus belajar sepanjang hayat,” tegasnya.

Menurutnya, indikator alumni perguruan tinggi yang sukses dan bahagia di dunia-akhirat adalah mereka yang memiliki kombinasi kesuksesan duniawi dan spiritual, serta berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan. Kesuksesan duniawi mencakup karir yang mapan, rezeki yang halal, dan kehidupan yang sejahtera. Sementara kesuksesan akhirat mencakup keimanan yang kuat, akhlak mulia, dan amal ibadah yang diterima. 

"Selain itu, alumni yang sukses juga harus mampu berkontribusi dalam mewujudkan dunia yang lebih baik, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi orang lain," tegasnya.

Maka, lanjut Prof. Rokhmin Dahuri, upaya bisa sukses dan bahagia, dengan 4 (empat) indikator diatas, selama masa kuliah para alumni harus rajin belajar, meneliti, berlatih, berdiskusi, seminar, dan berinteraksi positip dengan Civitas Academica maupun Masyarakat luas. Hal ini sangat penting agar ketika sudah lulus menjadi alumni PT, kita memiliki Hard Skills (Intellectual Quotient), Soft Skills (Emotional Quotient), dan IMTAQ (Spiritual Quotient) yang mumpuni.

Untuk dapat memiliki Hard Skills, Soft Skills, dan IMTAQ yang mumpuni, Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan, semasa kuliah, para alumni harus mengikuti
perkembangan zaman, IPTEK, kebutuhan manusia, kebutuhan pembangunan, dan kebudayaan, baik di tingkat nasional maupun global.

"Para alumni juga harus terus membaca dan belajar sepanjang masa (life-long learning)," kata Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu.

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya memiliki karakter, soft skills, etos kerja, dan akhlak mulia sebagai bekal untuk berkontribusi positif bagi negara. Karakter yang kuat dan akhlak mulia menjadi fondasi bagi individu yang unggul, sementara soft skills dan etos kerja yang baik memungkinkan individu tersebut berkontribusi secara efektif. 

Ia menjabarkan lebih detail mengenai karakter, soft skills, etos kerja, dan akhlak mulia:

Soft Skills: 1. Kemampuan memahami kekuatan dan kelemahan diri, 2. Kemampuan memahami kemauan dankesukaan orang lain (mitra), 3. Kemampuan terus memelihara dan memompa motivasi untuk menjadi
yang terbaik, 4. Kreatif dan inovatif, 5. Kemampuan analisis dan memecahkan masalah, 6. Leadership, 7. Entrepreneurship, 8. Kolaborasi, 9. Kemampuan berbahasa Asing (Inggris, Arab, Mandarin, dll)

Etos Kerja: 1. Kerja keras, 2. Rajin, 3. Disiplin, 4. Tahan banting, tak mudah putus asa, dan pantang menyerah, 5. Antisipatif, 6. Adaptif, 7. Agile

Akhlak Mulia: 1. Jujur (Shidiq), 2. Amanah, 3. Fathonah (Cerdas & Visioner), 4. Mampu menyampaikan dan berbagi kelebihan kepada orang lain, 5. Sabar dan Syukur, 6. Kana’ah, 7. Tidak iri dan dengki, 8. Tidak pemarah dan pendendam.

"Dengan memiliki kombinasi karakter yang kuat, soft skills yang mumpuni, etos kerja yang baik, dan akhlak mulia, individu diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang positif dan berkontribusi signifikan bagi kemajuan bangsa," ujarnya.

Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisirbdan Kepulauan se Indonesia) itu, menekankan pentingnya transformasi digital di UBK, antara lain: Kurikulum STEAM + micro-credential AI, cloud, data. Learning Analytics & adaptive LMS. Kolaborasi PIDI 4.0 & INDI 4.0 untuk lab bersama

Geopolitik & Damai: Center for Non-Aligned & Peace Studies (roh Bung Karno). Diplomasi kampus: pertukaran Asia-Afrika-Latin. Scenario planning risiko pasok IT (chip, cloud)

Sustainability & Iklim: Green Campus Green Metric target Top 100. Riset trans-disipliner: blue-green economy, energi bersih, ketahanan pangan & energi. IInklusi “climate entrepreneurship” di 
KKN

Redesain Kurikulum

Prof. Rokhmin Dahuri mendorong adanya redesain kurikulum, terutama di tingkat perguruan tinggi, untuk lebih relevan dengan kebutuhan zaman, khususnya terkait dengan ekonomi hijau (green economy), ekonomi biru (blue economy), dan ekonomi Pancasila. Beliau juga menekankan pentingnya transformasi sistem pendidikan dari tingkat SD hingga perguruan tinggi agar menciptakan iklim pendidikan yang membahagiakan dan tidak terlalu membebani. 

40 % projectbased learning Industri 4.0 & 
SDGs Matakuliah wajib: Data-Driven 
Decision-Making, Climate Solutions
Soft-skills: etika digital, kolaborasi global

Ekosistem Riset & Inovasi: Inkubator startup kampus, deep-tech agritech, edtech Konsorsium industri—
pemerintah—masyarakat (Triple Helix & Penta Helix). Target: 10 paten & 5 spin-offs/tahun.

Struktur Kemitraan Pentahelix

Struktur kemitraan Pentahelix, menurut Prof. Rokhmin Dahuri, adalah model kolaborasi yang melibatkan lima unsur utama dalam pembangunan, yaitu akademisi, industri (swasta), pemerintah, komunitas, dan media. Kemitraan ini bertujuan untuk mempercepat pembangunan, khususnya di sektor kelautan dan perikanan, dengan menekankan pada sinergi berbasis ilmu pengetahuan, kreativitas, dan tanggung jawab bersama. 

"Pentahelix merupakan sebuah model Kerjasama inovatif yang mensinergikan Akademisi, Bisnis (Industri), Pemerintah, Komunitas, dan Media untuk menciptakan ekosistem kerjasama berdasarkan
pada IPTEK, Kreatifitas, dan Inovasi," terangnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Rokhmin Dahuri membahas pentingnya transformasi ekonomi biru sebagai strategi untuk mencapai Indonesia yang maju dan berkelanjutan. Beliau menjelaskan bahwa melalui pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir secara optimal dan berkelanjutan, Indonesia dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menciptakan lapangan kerja baru, dan menjaga kelestarian lingkungan.

Ia juga menggarisbawahi perlunya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta dalam mengembangkan ekonomi biru. "Dengan sinergi yang kuat, diharapkan Indonesia dapat mengatasi berbagai tantangan dan memanfaatkan potensi kelautan yang dimiliki untuk kemajuan bangsa," ujar Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) itu.

Penguatan Dan Pengembangan Fakultas & Prodi Baru

Prof. Rokhmin Dahuri mendorong penguatan dan pengembangan fakultas serta program studi (prodi) baru di perguruan tinggi, khususnya yang relevan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta keahlian yang dibutuhkan untuk pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Ia menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan digital dan ekonomi hijau serta biru, serta implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. 

Pembangunan Fakultas & Prodi Baru: 1. Fakultas Kedokteran, 2. Fakultas Ilmu, Teknologi, dan Manajemen Lingkungan: EBT, Zero-Waste Technology, 3 R (Reduce, Reuse, and Recycle) Technology, Design & Construction with Nature, Sustainable Utilization of Natural Resources and Development, Mitigasi
dan Adaptasi Perubahan Iklim Global, dll.

Pengembangan SDM: Pelatihan AI & big 
data untuk dosen (kerja sama KOMINFO) Digital badges mahasiswa via kompetisi nasional, Skema visiting professor, diaspora Indonesia

Infrastruktur Kampus Pintar: 100 % Wi-Fi 6E & IoT sensor energi Micro-grid surya + baterai, hemat listrik 30 % Smart classroom hibrida (AR/VR)

Dampak Sosial & Kebangsaan: Pendampingan UMKM Jabodetabek adopsi 4.0 (17 %, 40 %). Program 
beasiswa “Talenta Digital Merah Putih”, Advokasi kebijakan publik berbasis riset UBK

Roadmap 2025 – 2030

2025: Fondasi Digital & Green Campus, Implementasi Learning Management System (LMS) yang adaptif, Pelaksanaan audit karbon untuk baseline emisi kampus

2026–2027: Reformasi Kurikulum & Pusat Riset, Pembentukan 3 pusat unggulan riset (misal: ideologi, digital, masyarakat), Penandatanganan 5 MoU 
kerja sama internasional.

2028–2030: Ekspansi Internasional & Spin-off, Masuk dalam Top 15 perguruan tinggi LLDIKTI III, 30% mahasiswa asingdan peningkatan reputasi global

Metode Pembiayaan Blended funding: Hibah Kedaireka, LPDP, CSR Endowment UBK 50 M — modal abadi riset & beasiswa

Skema incomesharing agreement alumni digital

Endowment UBK 50 M — modal abadi 
riset & beasiswa

Rektor & Senat: sahkan visi 2030 dan pilar strategis. Dosen: upskilling & reskilling kolaborasi riset tematik. Mahasiswa: jadilah change-makers industri 4.0 & iklim
Mitra Industri: co-create kurikulum & riset.

Menutup pemaparannya Prof. Rokhmin Dahuri mengutip pesan Bunga Karno,b“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama. Tapi cahaya bulan sabit pun sudah cukup untuk menerangi jalan menuju ke depan.”

Komentar