Menkes: AI Jadi Pendamping Dokter, Bukan Pengganti
Tekankan Kolaborasi Medis dan Teknologi
ASKARA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) akan menjadi mitra penting bagi dokter, terutama dalam tindakan medis yang membutuhkan ketepatan tinggi seperti operasi bedah. Hal ini disampaikan dalam acara Grand Launching The First Da Vinci Xi in Indonesia di RS Siloam, yang berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (16/7).
Menurut Budi, penerapan AI dalam dunia medis semakin berkembang, salah satunya melalui perangkat bedah berteknologi tinggi seperti Da Vinci Xi dan Mako Spine. “Sekarang masih sangat sederhana, tapi biasanya alat-alat kayak gini yang saya lihat seperti Da Vinci ya, ada Mako Spine,” ujarnya.
Da Vinci Xi sendiri merupakan robot bedah canggih buatan Amerika Serikat, sementara Mako adalah robot operasi tulang belakang yang menggunakan AI untuk menentukan titik-titik operasi secara presisi. “Mako itu buat tulang belakang, dan menggunakan AI, jadi dikasih tahu titik-titiknya mesti di mana,” jelas Menkes.
Ia menambahkan, kehadiran teknologi ini memungkinkan tindakan medis dilakukan dengan ketepatan yang lebih tinggi. “Langsung pakai robot, di sini kan lebih precise (presisi). Mereka belajar tinggal nanti dicocokin dengan orang Indonesia,” katanya.
Namun demikian, Budi menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan peran dokter, melainkan menjadi teknologi pendamping yang meningkatkan kualitas layanan. “Ini AI ini augmented technology, jadi bukan artificial, (tapi) augmented intelligence,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya para dokter untuk tidak menolak perkembangan teknologi. “Dokter harus pakai AI. AI enggak mungkin tanpa dokter, tapi dokter yang memusuhi AI justru akan terbelakang,” tegasnya.
Dengan integrasi AI yang tepat, Menkes optimistis kualitas layanan kesehatan di Indonesia dapat meningkat, sekaligus mempersiapkan dunia medis menghadapi era transformasi digital.

Komentar