Kamis, 23 Juli 2026 | 12:45
Ruang Menulis

Cerbung Runtuhnya Cinta Amangkurat Seri 2: Jeritan dari Bawah Tanah

Cerbung Runtuhnya Cinta Amangkurat Seri 2: Jeritan dari Bawah Tanah
Amangkurat i (int)

Oleh:  Dwi Taufan Hidayat --

ASKARA - Angin dari lereng Merapi merayap perlahan ke pesisir utara, membawa bisikan yang ditanam bumi sejak malam kelam itu. Di bawah batu-batu keraton Kartasura yang tampak megah dari luar, tersembunyi ruang yang bahkan malaikat enggan singgah. Di sanalah empat puluh tiga perempuan dikubur hidup-hidup oleh cinta yang berubah menjadi murka, oleh raja yang kehilangan arah ketika permaisurinya berpulang secara misterius.

Mereka adalah selir-selir istana—sebagian dari darah ningrat, sebagian dari hadiah para adipati yang ingin menjilat takhta. Tapi di balik senyum dan tawa di pesta-pesta kerajaan, ada persaingan yang mengendap dalam bisikan. Ketika Ratu Kencono, sang Ratu Malang, naik tahta tanpa melalui jalur aristokrasi tinggi, para selir merasa marwah mereka diinjak. Beberapa dari mereka membentuk lingkar dalam, menyebarkan racun dalam cerita, dan mungkin… juga dalam makanan.

Tak ada yang tahu siapa pelakunya. Tapi Amangkurat tak mencari tahu kebenaran. Dalam pikirannya yang kalut oleh duka, semua perempuan itu bersalah—karena tidak satu pun dari mereka bisa menggantikan cahaya sang ratu. Maka mereka dikurung. Bukan sebagai penghukuman, tapi sebagai penguburan hidup-hidup yang perlahan dan sunyi.

Ruang bawah tanah itu dulunya gudang senjata dan perbekalan. Tapi kini, berubah menjadi makam yang belum dipatungkan. Lantai batu dingin, udara pengap, dan cahaya redup dari celah kecil di langit-langit menjadikan ruang itu seperti perut bumi yang sedang menelan dendam manusia.

Hari pertama, mereka menangis dan memohon ampun. Hari kedua, mereka mulai meracau dan bertengkar. Hari ketiga, suara mulai menghilang, hanya tersisa isak lirih dan doa-doa putus asa. Pada hari ketujuh, hanya ada senyap dan bau kematian. Namun beberapa abdi keraton bersumpah, setiap malam menjelang pasaran Legi, terdengar jerit samar dari balik dinding.

Amangkurat duduk di pendapa istana, matanya kosong, jiwanya mengambang di antara waktu. Para penasihatnya tak lagi mengajukan laporan negara, karena mereka tahu, sang raja sudah menutup pintu terhadap dunia. Hanya Patih Prabayaksa yang sesekali memberanikan diri bicara.

“Gusti… perbatasan barat mulai tidak stabil. Beberapa lurah menyatakan ketidakpatuhan.”

Raja tak menjawab. Ia menatap langit. “Bila langit mulai menolak takhtaku, maka biarlah bumi yang menelannya lebih dulu.”

“Rakyat takut, Gusti. Mereka merindukan pemimpin, bukan bayang-bayang yang menghantui.”

Mata Amangkurat beralih. “Rakyat hanya tahu nyawa mereka. Mereka tidak pernah tahu apa rasanya kehilangan seseorang yang menjadi denyut hatimu.” Suaranya tajam, menusuk. “Jika mereka tahu, mereka mungkin akan berlutut dan meratap di kakiku.”

Patih Prabayaksa terdiam. Ia pernah melihat raja ini begitu lembut pada Ratu Malang. Pernah menyaksikan raja membacakan puisi di bawah bulan, memetik kecapi, menyuapi permaisurinya dengan tangan sendiri. Tapi kini, ia melihat seseorang yang lain. Seseorang yang tubuhnya masih raja, tapi jiwanya telah berubah menjadi abu dendam.

Sementara itu, di lereng Merbabu, pemuda berjubah lusuh yang dipanggil "Bayang" oleh Ki Banyu berjalan menuruni bukit. Di tangannya, tombak yang dibungkus kain itu terasa berat, seolah menyerap tiap dendam yang ia pikul sejak kecil. Ia adalah buah cinta yang disembunyikan sejarah, anak Ratu Malang dari pria lain sebelum ia dipaksa ke istana.

“Dia bukan anakku.” Kalimat itu pernah diucapkan Amangkurat dengan dingin, ketika mengetahui kebenaran pahit itu beberapa bulan sebelum permaisuri wafat. Tapi Ratu Malang tak membela diri. Ia hanya berkata, “Mungkin benar, mungkin tidak. Tapi tidakkah kau mencintai dia sebelum tahu siapa ayahnya?”

Anak itu diasingkan sejak kecil, dibuang ke kaki gunung dengan pengawalan yang diam-diam. Tapi ia tumbuh. Dan kini, ia datang kembali, membawa darah ibu dan dendam ayah tirinya.

Bayang tiba di tepian Bengawan, bertemu dengan seseorang yang sudah menunggu seorang perempuan tua berpakaian serba hitam, membawa tas berisi ramuan dari akar dan tulang. Dialah Nyai Sabrang, mantan emban istana yang kini jadi pertapa keliling.

“Aku tahu kau akan datang,” kata Nyai.

Bayang menatapnya. “Aku ingin masuk ke istana. Tapi bukan sebagai tamu.”

“Kalau begitu, malam pasaran Legi. Saat para jeritan dari bawah tanah kembali bangkit. Pintu yang dikunci darah akan terbuka, dan langit akan mendengar.”

Bayang mengangguk, meski jantungnya berdegup cepat. Ia tak takut pada prajurit atau jebakan istana. Ia hanya takut pada satu hal: suara ibunya yang menangis dalam mimpi, yang tak pernah berhenti memanggil namanya.

Di istana, malam turun dengan senyap ganjil. Langit seperti tercekik awan. Dupa dibakar, nyanyian kidung mulai terdengar lirih dari balik ruangan dalam. Tapi di bawah tanah, dari balik batu-batu yang mulai retak karena waktu dan kelembaban, terdengar suara… samar, pelan, tapi pasti.

“Aku masih hidup…”

Prajurit jaga mendongak. Api obor berkedip. Dinding bergetar sekejap, seperti bumi menggeliatkan sesuatu dari dalam.

Dan malam pun menahan napasnya.

(Bersambung ke seri selanjutnya, seri ke-3: Bayang Tak Bernama)

Komentar