Selasa, 14 Juli 2026 | 16:09
COMMUNITY

Laura Amandasari: Saya Kristen, Saya Diterima di UMSU

Mahasiswi Non-Muslim Bicara Toleransi Nyata di Kampus Muhammadiyah

Laura Amandasari: Saya Kristen, Saya Diterima di UMSU
Ilustrasi visual mahasiswi Kristen Laura diwisuda di UMSU (Dok Anrico)

ASKARA - Isu toleransi agama kerap jadi perdebatan publik, namun bagi Laura Amandasari, toleransi bukan teori—melainkan pengalaman pribadi. Perempuan Kristen Protestan ini baru saja diwisuda dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) pada Selasa (8/7). Di tengah mayoritas Muslim, Laura tumbuh sebagai minoritas yang justru merasa diterima sepenuh hati.

“Awalnya saya ragu karena perbedaan,” ujar Laura jujur, “tapi saya justru menemukan rumah kedua di UMSU. Kampus ini tidak hanya menjadikan toleransi sebagai jargon, tapi sebagai praktik nyata,” dikutip dari muhammadiyah.or.id.

Bukan Sekadar Kuliah, Tapi Berkembang

Laura tidak hanya duduk manis di ruang kelas. Ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan, bahkan menjabat Sekretaris Komunitas Peradilan Semu (KPS) Fakultas Hukum periode 2023–2024. Di sana, ia bekerja sama dengan rekan-rekan lintas agama tanpa hambatan.

“Di UMSU, banyak juga mahasiswa non-Muslim. Kami semua merasa diperlakukan adil, dihargai, dan tidak ada diskriminasi. Keadilan dan toleransi bukan cuma slogan, tapi benar-benar dirasakan,” katanya.

Kekhawatiran yang Tak Terbukti

Keputusan kuliah di UMSU awalnya membuat orang tua Laura cemas. Sebagai keluarga Protestan, mereka khawatir putri mereka akan tersisih.

“Tapi saya bilang ke papa, ‘Pak, aku enggak dikucilkan. Aku diterima di sini,’” kisah Laura. “Dan itu benar. Kekhawatiran itu sirna pelan-pelan. Bapak saya mulai memahami bahwa di sini tidak ada ruang untuk diskriminasi.”

Momen Ramadan yang Menggetarkan

Salah satu momen paling membekas bagi Laura adalah saat program Wakaf Al-Qur’an di bulan Ramadan 2024. Bagi sebagian orang, mungkin kegiatan ini dianggap sangat ‘eksklusif’ bagi umat Islam. Tapi bagi Laura, ini pengalaman lintas iman yang menyentuh.

“Bukan soal agama, tapi bagaimana kita belajar tentang kebersamaan, kemanusiaan, dan solidaritas,” ungkapnya. “Yang paling diingat bukan pencapaian akademik, tapi kebaikan yang ditinggalkan.”

Kampus Inklusif, Nilai Luhur Terpatri

Alasan utama Laura memilih UMSU bukan karena toleransi semata, tapi karena kualitas akademik. “Guru SMA saya bilang, jangan downgrade. UMSU punya akreditasi unggul,” jelasnya. Namun yang dia dapatkan jauh lebih dari ijazah: nilai-nilai hidup.

“UMSU mengajarkan rasa hormat, kasih, dan toleransi. Nilai-nilai ini adalah pondasi penting untuk membangun peradaban damai.”

Di akhir pidatonya sebagai wisudawan, Laura berkata tegas, “Saya Kristen Protestan. Dan sampai hari ini, saat saya berdiri di antara ribuan wisudawan Muslim, saya tetap diterima, tetap dihormati.”

 

 

Komentar