Bangun Lebih Awal Demi Tuhan
ASKARA - Ketika fajar masih menggantung malu-malu di ufuk timur, kita sering mendengar alarm berdering keras, memanggil kita untuk bersiap bekerja demi mencari rezeki.
Kita sanggup bangun pukul 6 pagi demi atasan, mengejar transportasi, dan bergegas agar tak terlambat. Namun, betapa sedikit dari kita yang rela bangun pukul 4 pagi untuk bergegas menemu Tuhan, Rabb yang memberi napas dan mengatur seluruh urusan hidup.
Padahal, di waktu sepertiga malam terakhir, Allah membuka pintu ampunan dan kasih sayang-Nya seluas-luasnya. Inilah momen yang mestinya kita kejar melebihi semangat kita bekerja untuk manusia.
Manusia sering lupa bahwa rezeki, kesehatan, dan kesempatan bekerja adalah anugerah Allah. Kita sering takut dimarahi bos jika datang terlambat, tapi jarang merasa takut jika lalai menunaikan kewajiban kepada Allah. Padahal, Allah sendiri berfirman dalam Al-Qur’an:
﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا﴾
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra’ [17]: 79)
Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟»
"Tuhan kita Tabaraka wa Ta'ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan? Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan beri? Siapa yang memohon ampunan-Ku, maka Aku akan ampuni?'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, jika kita mau bersusah payah bangun lebih awal untuk mencari ridha bos yang hanya manusia biasa, mengapa kita tidak mau bangun lebih awal demi meraih cinta Allah?
Bukankah Allah-lah yang menggenggam hati bos kita? Bukankah Allah-lah yang mengatur apakah usaha kita akan berhasil atau tidak?
Di sepertiga malam itu, Allah seakan menunggu hamba-hamba-Nya yang merindu, yang ingin berbicara dengan-Nya tanpa perantara.
Saat kebanyakan orang masih terlelap dalam mimpinya, kita bisa menjadi tamu istimewa yang mengetuk pintu langit. Itulah momen terbaik untuk bermunajat, mencurahkan keluh kesah, dan memohon keberkahan hidup.
Kita selalu berusaha disiplin untuk urusan dunia. Jadwal rapat di kantor kita patuhi dengan tertib. Meeting pagi kita persiapkan dengan detail. Tapi mengapa saat azan subuh berkumandang, kita justru merasa berat, enggan beranjak dari kasur empuk kita? Seakan kita lupa bahwa hanya dengan izin Allah kita bisa kembali bangun setiap pagi.
Kehidupan ini hanyalah perjalanan singkat. Segala jabatan, gaji, dan pujian manusia tak akan kita bawa ke liang lahat. Namun, salat malam, zikir di waktu sahur, dan air mata yang menetes saat sujud akan menemani kita sebagai amal yang menyala-nyala di kegelapan kubur. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ»
"Salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam." (HR. Muslim)
Mungkin sebagian dari kita merasa berat bangun pukul 4 pagi. Padahal, jika diniatkan karena Allah, semua akan terasa ringan. Keberkahan akan mengalir dalam setiap langkah, urusan dunia menjadi lebih mudah, dan hati terasa lapang. Allah berjanji dalam firman-Nya:
﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ﴾
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ankabut [29]: 69)
Mari kita renungkan, jika kita sanggup menahan kantuk untuk lembur di kantor, mengapa kita tak sanggup menahan kantuk untuk sekadar sujud dan menyebut nama Allah? Jika kita rela berkorban demi gaji tambahan, mengapa kita tak rela berkorban demi ganjaran surga?
Mulai malam ini, kuatkan tekad untuk bangun lebih awal. Biarkan air wudu menyapa wajah kita saat kebanyakan orang masih lelap. Biarkan sujud kita menjadi saksi di hadapan Allah kelak.
Jadilah hamba yang bukan hanya rajin di hadapan bos, tapi juga setia di hadapan Tuhan. Semoga Allah melembutkan hati kita, memberi kekuatan, dan menjadikan kita termasuk golongan yang dicintai-Nya. Wallahu a'lam. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar