Senin, 15 Juni 2026 | 19:32
Ruang Menulis

Toples, Ibu Muda, dan Hilangnya Nurani

Toples, Ibu Muda, dan Hilangnya Nurani
Ilustrasi (ChatGPT)

ASKARA - Di tengah gegap gempita tagar parenting modern, seorang ibu muda di Makassar malah menorehkan tragedi kelam: memukul bayinya yang baru dua bulan dengan toples hingga tewas. Kejadian ini tak sekadar statistik kriminal, tetapi tamparan keras bagi moral kolektif kita yang gemar berteriak "sayang anak" sambil menutup mata pada realita pahit.

Ibu, kata yang semestinya jadi sinonim kehangatan, malah berubah menjadi sinonim kekejaman di lorong sempit Jalan Pampang, Makassar. Seakan kehabisan akal, seorang perempuan berinisial N, baru 25 tahun, memilih jalan setan memukul kepala anaknya sendiri yang baru dua bulan menggunakan toples.

Ya, toples, wadah yang biasanya berisi kue lebaran atau camilan manis, kini mendadak menjadi saksi bisu hilangnya nurani manusia.

Sungguh ironis. Di era ketika kita begitu bangga dengan jargon "ibu adalah madrasah pertama", ternyata ada yang justru lulus sebagai murid terburuk. Semua kampanye parenting bertebaran di Instagram, ribuan kelas daring bertema "ibu bahagia, anak bahagia", seolah hanya pajangan poster di dinding retak kesadaran.

Ketika polisi datang, mereka menemukan barang bukti toples, darah, dan jasad bayi yang tak pernah sempat merasakan arti pelukan ibu sepenuhnya. Usia dua bulan, bahkan belum bisa balas tersenyum, belum bisa mengeja kata "mama", sudah harus pergi.

Entah di mana letak jiwa kita saat membaca berita seperti ini. Sebagian berkomentar "Kasihan ibu, pasti depresi." Sebagian lagi berteriak "Penjarakan seumur hidup." Kita ribut di kolom komentar, saling menasihati sambil ngopi, merasa paling waras. Tapi siapa yang betul-betul peduli?

Mungkin kita semua sudah terbiasa menutup rapat lemari nurani. Kita gemar menaruh empati dalam kotak steril, sekadar dijadikan pajangan etis di media sosial.

Apa yang salah? Ekonomi? Lingkungan? Pendidikan? Semua jawaban benar, tapi juga basi. Masyarakat kita sudah kenyang dengan teori, namun kelaparan dalam praktik kasih sayang.

Ibu N tak lahir sebagai monster. Ia mungkin tumbuh di antara cibiran tetangga, tekanan keluarga, atau mungkin suaminya kabur entah ke mana. Kita tidak tahu, dan lebih malas mencari tahu. Yang penting headline viral, cukup buat bahan obrolan arisan atau status WhatsApp.

Sambil kita berdebat keras soal siapa yang paling suci, satu bayi sudah terbaring di tanah merah.

Tragedi ini bukan sekadar dosa individu, melainkan cermin retak bangsa yang gemar mendewa-dewakan ibu dalam puisi, tetapi gagal menyediakan ruang aman bagi mereka.

Kita sering berkata, "Ibu adalah malaikat tanpa sayap." Tapi apakah kita pernah memastikan para malaikat ini tidak jatuh?

Bayangkan, dua bulan usia yang seharusnya dipenuhi kehangatan, mendengar suara nina bobo, merasa kulit ibu di dada. Bukan dentuman benda keras di kepala mungilnya.

Toples itu bukan sekadar alat pembunuh, ia adalah metafora telanjang betapa mudah kasih sayang kita pecah seperti kaca, betapa rapuh moralitas kita yang suka berisik di panggung digital, tapi tak pernah mau masuk ke lorong gelap kehidupan nyata.

Kita boleh terus menulis puisi panjang tentang ibu, tentang bayi, tentang harapan. Tapi jika tak diiringi aksi nyata memperkuat edukasi mental, membuka akses kesehatan jiwa, menumbuhkan ekosistem yang mendukung para ibu muda maka puisi itu tak lebih dari serbet kotor di meja makan, penuh noda basa-basi.

Mari berhenti berlagak suci di komentar, berhenti sekadar menuding. Saatnya merenung berapa banyak "ibu N" lain yang sedang menahan jerit sunyi di balik pintu kontrakan sempit?

Jika kita tak peduli hari ini, mungkin esok lusa ada lagi kepala mungil yang dihantam toples, dan kita hanya akan menambah satu baris berita lagi "Seorang ibu kembali tega menghabisi anak kandung."

Sialnya, kita akan tetap scroll layar sambil makan keripik, pura-pura terkejut, lalu kembali ke rutinitas.

Selamat datang di republik sinis yang gemar meratap di status, namun alergi aksi nyata. Silakan cari dalih, saling menyalahkan, atau cari trending baru. Bayi dua bulan itu tak akan kembali.

Dan toples kini resmi berubah menjadi monumen kekalahan nurani kita semua. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar