Kamis, 04 Juni 2026 | 07:31
COMMUNITY

Rinjani Tak Pernah Bohong, yang Ceroboh Bisa Pulang Tinggal Nama

Tragedi 2025 Jadi Pengingat, Mendaki Butuh Lebih dari Fisik

Rinjani Tak Pernah Bohong, yang Ceroboh Bisa Pulang Tinggal Nama
Dua pendaki wanita dari Elpala SMA 68 Jakarta tengah mendaki puncak gunung (Dok Elpala)

ASKARA - Gunung Rinjani bukan sekadar tumpukan batu dan tanah yang menjulang tinggi di Pulau Lombok. Ia adalah mahakarya alam yang menawarkan keindahan, sekaligus tantangan hidup yang tak main-main. Di sanalah, siapa saja yang naik akan diuji, bukan cuma kekuatan fisik, tapi juga keteguhan mental dan kedewasaan sikap.

Banyak yang bilang, Rinjani adalah sekolah yang baik bagi pembinaan watak manusia. Di ketinggian 3.726 mdpl itu, ego, keserakahan, atau kecerobohan manusia tak ada gunanya. Yang bertahan adalah mereka yang siap, yang rendah hati, dan yang paham, bahwa alam selalu punya aturannya sendiri.

Namun sayangnya, sepanjang tahun 2025, beberapa tragedi pendakian di Rinjani kembali mengingatkan bahwa gunung ini bukan sekadar objek wisata. Mulai dari pendaki yang hilang karena nekat keluar jalur, insiden kelelahan ekstrem akibat minim persiapan, hingga kasus tragis pendaki yang jatuh di tebing kawasan Danau Segara Anak, semua menjadi catatan kelam yang tak boleh dianggap biasa.

Alam Tak Pernah Berkompromi

"Di Rinjani, yang diuji bukan cuma fisik, tapi hati dan pikiran. Siapa yang sombong atau ceroboh, biasanya akan dihajar habis-habisan," ujar salah salah satu penggiat alam bebas, Dar Edi Yoga, Sabtu (5/7).

Menurut Yoga, banyak pendaki yang datang hanya karena ingin pamer foto di puncak, tapi lupa bahwa Rinjani adalah kawasan konservasi sekaligus ruang pembelajaran mental.

"Gunung ini ngajarin kita sabar, kuat, disiplin, dan nggak egois. Sayangnya, masih banyak yang menganggap remeh. Akhirnya, ya jatuh korban," tambahnya.

Aturan Bukan Penghalang, Tapi Penjaga Nyawa

Tahun 2025 juga mencatat makin ketatnya aturan pendakian Rinjani, termasuk pembatasan kuota, larangan masuk jalur ilegal, hingga keharusan registrasi resmi. Sayangnya, masih ada yang mencoba 'jalan pintas' dan akhirnya terjebak atau tersesat.

Pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menegaskan, seluruh peraturan itu bukan untuk mempersulit, tapi justru untuk melindungi.

"Rinjani bukan tempat uji nyali atau ajang pamer. Ini adalah kawasan lindung. Siapa pun yang datang harus siap mental, siap fisik, dan hormat pada alam," tegas Kepala Balai TNGR.

Rinjani dan Tragedi, Sekolah Kehidupan yang Tak Pernah Bohong

Setiap tragedi di Rinjani adalah pengingat keras bahwa keindahan selalu datang bersama tanggung jawab. Mereka yang nekat, abai aturan, atau hanya mengandalkan ego biasanya jadi korban. Tapi bagi yang mau belajar, bersabar, dan menghormati alam, Rinjani akan membalas dengan pemandangan luar biasa dan pengalaman hidup yang tak terlupakan.

Gunung ini adalah guru yang tegas, tapi adil. Di Rinjani, manusia belajar arti rendah hati, kebersamaan, dan ketahanan diri. Sayangnya, 2025 juga menunjukkan bahwa tak semua orang siap masuk 'sekolah' ini.

Karena di alam, terutama di Rinjani, yang arogan bisa hilang, yang ceroboh bisa jatuh, dan yang sembrono bisa pulang tinggal nama.

Semoga tragedi-tragedi di Rinjani tahun ini menjadi cermin bagi semua, bahwa sebelum menaklukkan puncak, kita harus lebih dulu menaklukkan diri sendiri.

 

 

Komentar