Trauma Anak-anak Rumah Singgah di Sukabumi
Aksi Anarkis Tinggalkan Luka Mendalam di Psikologi Anak
Ketakutan yang Tak Terlihat
ASKARA - Suasana retret yang seharusnya penuh ketenangan dan pembinaan mental di sebuah rumah singgah di Desa Tangkil, Sukabumi, berubah menjadi mimpi buruk yang membekas di benak puluhan anak. Mereka bukan hanya saksi, tetapi juga korban batin dari aksi anarkis yang terjadi beberapa waktu lalu.
Anak-anak ini datang ke rumah singgah milik Marya Veronica Nona dengan harapan menemukan ketenangan, kasih sayang, dan bimbingan hidup. Namun yang mereka saksikan justru teriakan kemarahan, lemparan batu, dan amukan massa yang memporakporandakan pendopo atau gazebo tempat mereka biasa belajar dan bermain.
Psikolog anak Sukabumi, dr. Sari Wulandari, menegaskan bahwa dampak kejadian tersebut tidak bisa dianggap sepele.
"Banyak orang fokus melihat kerusakan fisik, tapi yang paling mengkhawatirkan justru luka psikologis anak-anak ini. Rasa takut, cemas berlebihan, mimpi buruk, bahkan trauma jangka panjang bisa menghantui mereka," jelas Sari.
Beberapa anak, lanjutnya, menunjukkan gejala trauma sejak kejadian berlangsung. Mereka menjadi pendiam, mudah menangis, sulit tidur, hingga enggan berinteraksi dengan orang lain.
"Kita harus bergerak cepat. Jika tidak ditangani, trauma ini bisa memengaruhi tumbuh kembang mereka, rasa percaya diri, bahkan masa depan mereka," tambahnya.
Saat ini, relawan dan tenaga konseling mulai diterjunkan untuk mendampingi para anak. Kegiatan trauma healing dilakukan secara bertahap, dengan metode permainan, terapi bicara, hingga pendekatan spiritual yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Marya Veronica Nona, pemilik rumah singgah, tak henti-hentinya memberikan dukungan moral. "Mereka anak-anak yang masih butuh perlindungan, bukan ketakutan. Tugas kita bukan hanya membangun kembali gazebo yang roboh, tapi membangun kembali rasa aman di hati mereka," ujarnya.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa kekerasan tidak hanya meninggalkan puing-puing bangunan, tetapi juga luka batin yang jauh lebih sulit diperbaiki. Di tengah duka itu, harapan tetap ada, asalkan semua pihak bahu-membahu memulihkan jiwa-jiwa kecil yang sempat tergores ketakutan.

Komentar