Senin, 08 Juni 2026 | 09:32
COMMUNITY

Gerobak Motor Dimas Lukito Mengalahkan Kursi Pejabat

Gerobak Motor Dimas Lukito Mengalahkan Kursi Pejabat
Dimas Lukito Wardana (bolinggo.co)

ASKARA - Kepulangan Dimas Lukito Wardhana, sang peraih emas Asian Muaythai Championship 2025, ternyata hanya disambut gerobak motor dan derai haru warga. Sementara itu, pemerintah daerah absen total, seakan lupa kalau kemenangan Dimas adalah kebanggaan bersama. Inilah potret ironis negeri yang katanya mendewakan prestasi, tetapi lupa cara memuliakan para juaranya.

Mari kita beri tepuk tangan. Pelan saja, takut mengganggu mimpi para pejabat yang tengah berleha-leha di ruang ber-AC sambil menyeruput kopi mahal. Dimas Lukito Wardhana pulang membawa medali emas, tapi yang menyambutnya bukan mobil dinas mewah atau karpet merah, melainkan gerobak motor reyot dan deru angin yang lebih setia dari janji pejabat.

Lucu ya, kita berteriak “NKRI harga mati!” setiap upacara, tapi begitu sang pahlawan pulang, kursi sambutan kosong melompong. Barangkali, para pejabat lebih sibuk merumuskan acara selfie massal di alun-alun atau mendiskusikan jenis snack rapat yang lebih “Instagramable”.

Tetapi, di balik kesunyian formalitas, warga Desa Tambakrejo membuktikan kehangatan yang tak bisa dibeli dengan APBD. Mereka berbaris di pinggir jalan, membawa balon, spanduk buatan tangan, dan suara tawa yang tulus. Ibu-ibu dengan tumpeng sederhana lebih meriah daripada panggung seremonial penuh retorika.

Ketika Dimas berkata, “Saya berjuang bukan demi disambut meriah, tapi demi Merah Putih,” itu bukan sekadar ucapan merendah. Itu tamparan telak bagi para pejabat yang gemar menepuk dada nasionalisme, tapi lupa bagaimana rasanya berdiri berjam-jam di ring, berlumur keringat dan luka demi satu kata: Indonesia.

Sementara para penguasa sibuk berdiskusi soal revisi peraturan atau memikirkan desain gapura desa, seorang pemuda 23 tahun pulang dengan kisah heroik yang harusnya ditulis tebal dalam buku sejarah. Sayangnya, sejarah hari ini lebih suka menulis nama proyek, bukan nama pahlawan.

Ada yang bilang, "Ah, mungkin pemerintah tidak sempat." Benarkah? Media sosial sudah ribut soal kepulangan Dimas sejak jauh hari. Apa mereka benar-benar tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu? Mungkin, Dimas memang tidak cukup “viral” dibandingkan festival lampion atau lomba TikTok massal.

Lucunya lagi, banyak yang bertanya kenapa generasi muda sekarang malas berprestasi. Kenapa lebih memilih jadi selebgram ketimbang atlet? Jawabannya? Lihatlah gerobak motor Dimas. Lihat sambutan sepi dari para pemangku jabatan. Jika penghargaan cuma sebatas pujian online, siapa yang mau jatuh bangun demi bendera?

Padahal, di balik satu medali emas ada ribuan jam latihan, ribuan liter keringat, dan ribuan doa. Tapi di negeri ini, medali lebih sering dijadikan pajangan konten media sosial ketimbang dihargai dengan rasa hormat. Kita gemar bikin jargon “Mengharumkan nama bangsa”, padahal yang diharumkan hanya akun TikTok pejabat.

Sambutan tulus warga Desa Tambakrejo itu jauh lebih jujur. Mereka tidak butuh plakat, tidak peduli protokol, apalagi kamera TV. Mereka hanya tahu: anak desa mereka pulang sebagai juara. Itu saja sudah cukup untuk menyiapkan tumpeng dan memanggil tetangga.

Bahkan dulu, saat Dimas pulang usai menjuarai PON XXI Aceh-Sumut 2024, ia naik bis, lanjut becak, pulang diam-diam. Kala itu pun tak ada sambutan, tak ada iring-iringan. Dan, luar biasanya, ia tetap memilih diam. Mungkin, diamnya Dimas lebih lantang daripada orasi nasionalisme di podium mewah.

Kini, dengan gerobak motor sederhana, Dimas sekali lagi memperlihatkan siapa sebenarnya yang lebih “merah putih” di negeri ini. Gerobak itu jauh lebih berwibawa daripada panggung seremoni. Bendera di atasnya lebih suci daripada pita peresmian proyek.

Kalau pemerintah daerah masih punya sisa empati, seharusnya mereka datang bukan untuk berfoto atau sekadar membagi piagam kosong. Mereka harus datang untuk menatap Dimas, berjabat tangan, dan berkata, “Maaf, kami lalai.”

Tapi, ah sudahlah. Mungkin permintaan maaf itu lebih mahal daripada dana makan rapat. Mungkin lebih sulit ketimbang mencetak spanduk ucapan selamat yang warnanya mencolok.

Selamat datang, Dimas. Kamu memang tak disambut karpet merah, tapi gerobak motor dan sorak tetangga jauh lebih mulia. Biar saja kursi pejabat tetap kosong, selama hati rakyat tetap penuh cinta.

Di negeri ini, para juara pulang dengan gerobak. Sementara yang duduk di kursi mewah, sibuk merencanakan konten selanjutnya. Ironis? Tidak. Ini sudah jadi tradisi. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar