Profesor Harry Truman Pergi, Sejarah Baru Kehilangan Arah
ASKARA - Keputusan Profesor Harry Truman Simanjuntak mundur dari tim penulisan ulang sejarah nasional mengundang tanda tanya publik. Apakah ini sekadar drama intelektual, atau justru sebuah peringatan keras tentang manipulasi narasi masa lalu? Saat ilmuwan memilih mundur, jangan-jangan kebenaran sedang dikubur lebih dalam daripada situs arkeologi yang pernah ia teliti.
Profesor Harry Truman Simanjuntak bukan sekadar nama panjang yang susah diucapkan oleh anak TK saat lomba baca puisi. Ia adalah arkeolog senior yang sejak lama mengabdikan hidupnya untuk menggali, meneliti, dan merangkai serpihan sejarah bangsa. Ketika seorang profesor setenar dan setegas dia memutuskan mundur dari proyek negara, kita patut curiga: ada yang lebih dalam dari sekadar perbedaan pendapat di ruang rapat ber-AC.
Penulisan ulang sejarah bukanlah sekadar menata kata, mengubah koma jadi titik, atau menambah kalimat motivasi ala buku pengembangan diri. Ini urusan menyusun identitas kolektif bangsa. Jika sejarah diibaratkan fondasi rumah, maka mengutak-atiknya tanpa kejujuran bisa membuat seluruh bangunan kebangsaan retak, atau lebih buruk lagi roboh tanpa aba-aba.
Mundurnya Profesor Harry adalah tamparan keras bagi pemerintah. Apakah penulisan ulang sejarah ini benar-benar ilmiah, atau cuma proyek pesanan demi mempercantik citra penguasa? Sejarah harusnya ditulis dengan tinta kebenaran, bukan kuas propaganda. Ketika kebenaran dikompromikan, para arkeolog seharusnya menjadi penjaga gerbang terakhir, bukan sekadar figuran yang dibayar diam.
Kita semua tahu, pemerintah punya hobi yang unik: mengedit masa lalu demi meraih simpati masa kini. Lihat saja bagaimana banyak pahlawan di masa lalu didandani ulang, dipoles agar cocok dengan narasi pembangunan atau kebijakan yang sedang tren. Bukan rahasia lagi jika beberapa tokoh yang dulu dianggap “pengacau” kini dijadikan pahlawan, sementara yang benar-benar berjasa justru dilupakan bak fosil di gudang museum berdebu.
Sikap mundur sang profesor menjadi kritik diam, sekeras petir di siang bolong. Kita dipaksa menelan kenyataan pahit: sejarah bisa dijual murah demi kepentingan sesaat. Apakah bangsa ini sudah sebegitu takutnya pada masa lalu? Atau justru terlalu malas menghadapi kebenaran yang tidak selalu manis?
Profesor Harry, dengan mundurnya, seakan berkata, “Biarkan fakta bicara, jangan biarkan sejarah jadi panggung sinetron politik.” Sejarah yang sehat adalah sejarah yang membiarkan luka tetap luka, membiarkan aib tetap tercatat sebagai aib, agar generasi mendatang belajar. Menyulap sejarah hanya akan membuat kita jadi bangsa yang amnesia kolektif, gampang terombang-ambing oleh gelombang janji kosong.
Mungkin banyak yang berbisik sinis, “Ah, sejarah ditulis oleh pemenang.” Betul. Namun pemenang sejati adalah kebenaran itu sendiri, bukan sekadar penguasa yang lihai bermain kata.
Mundurnya profesor bukan sekadar berita kecil di sudut kolom opini. Ini alarm keras yang menandakan bahwa integritas ilmiah dan intelektualitas kita sedang digadaikan. Ketika para akademisi dipaksa jadi stempel kebijakan, maka yang tersisa hanyalah formalitas kaku yang tak lagi punya nyawa.
Sekarang publik harus memutuskan: mau jadi bangsa yang berani mengakui sejarahnya, atau sekadar penonton setia drama penipuan berjilid-jilid? Jangan-jangan, kita lebih suka cerita yang manis daripada kenyataan yang getir.
Profesor Harry Truman Simanjuntak mungkin telah menutup pintu kerjasama, tapi justru membuka jendela kesadaran: sejarah tidak boleh diatur selera politik. Kepergiannya adalah sinisme yang lebih keras dari orasi di podium.
Sejarah bukan sekadar pelajaran wajib yang bikin ngantuk di sekolah. Ia adalah cermin retak yang mengingatkan kita siapa kita sebenarnya. Jika kita terus mengelabui cermin itu, jangan salahkan jika suatu hari wajah bangsa ini tak lagi bisa dikenali—bahkan oleh anak cucu sendiri.
Dan ketika saat itu tiba, siapa yang akan kita salahkan? Profesor yang sudah mundur? Atau kita sendiri yang terlalu malas bertanya? (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar