Senin, 08 Juni 2026 | 15:50
COMMUNITY

Menunggu Pagi dengan Syukur yang Dalam

Menunggu Pagi dengan Syukur yang Dalam
Ilustrasi berzikir (int)

ASKARA - Pagi selalu datang, tapi tak selalu dengan wajah yang sama. Ada yang menyambutnya dengan semangat dan senyum, ada pula yang menunggu dengan perih dan air mata. Namun pagi tetap hadir, membawa cahaya bagi siapa pun yang bersedia melihatnya dengan mata hati dan jiwa yang bersyukur.

Setiap kita menunggu pagi dengan alasan yang berbeda-beda. Ada yang menanti pagi demi bekerja sekuat tenaga, agar bisa membawa pulang sekantong beras untuk anak-anak yang semalam tidur dengan perut kosong. Ada yang menunggu pagi karena gerobaknya harus segera digelar di pinggir jalan, berharap ada rezeki yang mampir agar kontrakan bulan ini tak lagi ditagih dengan ancaman.

Ada pula yang menunggu pagi dengan dada sesak oleh sakit, menanti meja operasi dan tangan-tangan medis yang mungkin membawa harapan hidup. Di tempat lain, seorang ibu menyelimuti bayinya dengan kain tipis, bersiap mengungsi dari desa yang luluh lantak oleh bom dan suara senapan. Ia menunggu pagi sambil berdoa agar negeri ini lekas damai, atau setidaknya memberinya tempat aman untuk bertahan.

Tak sedikit yang menunggu pagi dengan kesedihan mendalam, harus memandikan dan mengantar jenazah orang yang dicintai ke peristirahatan terakhir. Ada pula yang berharap banjir segera surut, agar bisa kembali ke rumah dan membersihkan lumpur yang menghapus jejak masa lalu mereka.

Dan ada juga yang menunggu pagi, tanpa tahu akan ke mana kaki melangkah. Ia hanya tahu bahwa semalam ia menahan lapar, menggigil dalam sakit, dan tak tahu apakah esok lebih baik dari hari ini. Tapi ia tetap menunggu, karena pagi adalah harapan terakhir yang masih bisa dipegang.

Dalam diam, pagi sebenarnya mengajarkan kita tentang syukur. Saat sebagian dari kita memulai hari dengan secangkir kopi hangat, pakaian bersih, dan keluarga yang lengkap, maka itu adalah rezeki yang lebih dari cukup. Tapi sayang, seringkali kita justru mengeluh, hanya karena keinginan tak terpenuhi, karena takdir tak sesuai rencana.

Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat dalam dalam sabdanya:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

"Barangsiapa di antara kalian yang di pagi hari merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan pokok untuk hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia telah diberikan kepadanya." (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141)

Bayangkan, hanya tiga hal: keamanan, kesehatan, dan makanan hari ini. Jika kita memilikinya pagi ini, maka menurut Rasulullah ﷺ kita sudah seolah memiliki dunia dan segala isinya. Tapi mengapa hati ini masih saja merasa kurang?

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan kita agar tidak menjadi hamba yang lalai bersyukur. Allah ﷻ berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukan hanya bentuk pengakuan atas nikmat, tetapi juga sebab datangnya nikmat-nikmat baru. Sebaliknya, keluhan dan ingkar hanya akan menarik murka dan pengurangan karunia. Maka siapa di antara kita yang ingin nikmatnya bertambah, hendaknya ia memulai pagi dengan kalimat penuh kesadaran: "Alhamdulillah." Karena tak ada pagi yang kosong dari nikmat, kecuali bagi mereka yang buta terhadap karunia.

Kita mungkin tak pernah merasa cukup karena kita selalu melihat ke atas. Kita bandingkan hidup kita dengan mereka yang lebih kaya, lebih sehat, lebih bahagia. Padahal Nabi ﷺ mengajarkan agar kita memandang ke bawah, kepada orang yang lebih sedikit hartanya, lebih berat cobaan hidupnya.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Muslim no. 2963)

Di pagi yang cerah ini, saat matahari perlahan menyibak gelap, mari kita tanyakan pada diri sendiri: apakah aku termasuk orang yang bersyukur? Apakah aku menyadari bahwa udara yang kuhirup tanpa alat bantu adalah nikmat besar? Bahwa makanan di meja, meski sederhana, adalah anugerah dari langit?

Jika jawabannya belum, maka kita telah menyia-nyiakan satu pagi lagi dalam hidup kita.

Syukur bukan hanya ucapan, tapi perasaan yang menghujam dalam dada dan menetes dari sikap. Bersyukur adalah saat kita tetap bersabar di tengah sempitnya rezeki, tetap tersenyum meski cobaan datang silih berganti, dan tetap menolong meski kita sendiri sedang dalam kesulitan. Syukur adalah saat kita menyadari bahwa segala yang Allah ﷻ tetapkan adalah yang terbaik, meski tak sesuai dengan rencana kita.

Semoga pagi ini menjadi awal bagi hati kita yang baru. Hati yang lebih tenang, lebih lapang, dan lebih peka terhadap nikmat. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur, dan menjauhkan kita dari hati yang keras dan lidah yang mudah mengeluh.

Karena di balik setiap pagi yang kita nikmati, ada jutaan doa yang tertunda, air mata yang belum kering, dan harapan yang belum dijawab. Jika pagi ini kita masih bisa melihat matahari terbit, bernapas tanpa alat bantu, makan walau sederhana, dan merasa aman dari gangguan, maka sesungguhnya, dunia telah Allah titipkan kepada kita.

Dan tiada balasan yang lebih layak atas nikmat sebesar itu selain ucapan: "Alhamdulillah 'ala kulli haal." (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar