Kamis, 18 Juni 2026 | 04:01
COMMUNITY

Markas Majelis Dzikir Eks FPI di Brebes Ditutup Usai Insiden Penganiayaan

Markas Majelis Dzikir Eks FPI di Brebes Ditutup Usai Insiden Penganiayaan
Insiden ini menjadi sorotan publik setelah video penggerudukan dan pencopotan baliho viral di media sosial, salah satunya diunggah oleh akun Instagram (Dok @updatebrebes_)

ASKARA - Viral video di media sosial Askara.co  menelusuri dan menggali informasi dari berbagai sumber insiden penganiayaan yang melibatkan sekelompok warga dengan jamaah pengajian Majelis Dzikir Al Anfas, yang disebut-sebut merupakan eks Front Pembela Islam (FPI), terjadi di Kelurahan Limbangan Kulon, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Rabu malam (18/6/2025). Kejadian ini memicu kemarahan warga dan membuat lokasi pengajian dibubarkan secara spontan.

Peristiwa bermula saat keluarga Sultan Tegar Eka Saputra tengah menggelar tahlilan malam ketiga atas meninggalnya anggota keluarga. Namun, akses menuju rumah duka tertutup oleh panggung acara Maulid Akbar yang digelar jamaah Majelis Dzikir Al Anfas di jalan umum dekat lokasi.

Paman korban, Rudi Hartono, menjelaskan bahwa pihak keluarga telah meminta panitia untuk menggeser panggung agar warga bisa melintas. Permintaan awal sempat dipenuhi, namun tak lama kemudian, panggung kembali menutup akses jalan.

“Setelah saya minta digeser, panggung sempat dibuka sedikit. Tapi setengah jam kemudian ditutup lagi. Ketika kami minta kembali dibuka, malah terjadi cekcok dan adik saya dianiaya saat hendak melerai,” kata Rudi, Kamis (19/6/2025).

Korban, Sultan Tegar, mengalami luka cakaran di dada dan memar di wajah akibat pemukulan yang diduga dilakukan oleh beberapa anggota jamaah pengajian. Keributan pun memancing emosi warga sekitar yang akhirnya menggeruduk lokasi pengajian.

Dalam video yang viral di media sosial, puluhan warga terlihat mencopot baliho dan poster bergambar habib di rumah kontrakan yang dijadikan markas Majelis Dzikir Al Anfas. Aksi warga dilakukan spontan tanpa ada komando, sebagai bentuk kemarahan terhadap insiden kekerasan yang terjadi.

Kapolsek Brebes, AKP Prapto, membenarkan adanya dugaan penganiayaan terhadap dua warga. Ia menyebut telah mengamankan beberapa pihak termasuk panitia pengajian guna mencegah kerusuhan meluas.

“Kami lakukan mediasi antara pihak korban dan pengurus Majelis Dzikir Al Anfas. Karena situasi mulai memanas, dua orang yang diduga pelaku penganiayaan kami bawa ke Polres,” jelasnya.

AKP Prapto menegaskan bahwa tidak ada pembubaran paksa terhadap pengajian oleh aparat. Namun, berdasarkan hasil mediasi, masyarakat dan pihak pengajian sepakat untuk tidak lagi menggelar kegiatan serupa di lokasi tersebut guna menjaga ketertiban.

“Bukan dibubarkan, tetapi ada kesepakatan agar pengajian tidak dilanjutkan di lokasi itu karena warga sudah tidak menghendakinya,” tambah Kapolsek.

Lurah Limbangan Kulon, Arba Setiono, membenarkan bahwa rumah yang digunakan sebagai tempat pengajian adalah rumah kontrakan. Ia juga memastikan bahwa kericuhan berawal dari ketidakpuasan warga terhadap penutupan jalan umum.

“Awalnya warga hanya meminta jalan dibuka untuk akses tahlilan. Tapi karena tidak digubris, akhirnya muncul emosi warga,” ujarnya.

Insiden ini menjadi sorotan publik setelah video penggerudukan dan pencopotan baliho viral di media sosial, salah satunya diunggah oleh akun Instagram @updatebrebes_.

 

 

Komentar