Ketulusan Buya Hamka yang Abadi
ASKARA - Di tengah luka pengkhianatan dan fitnah politik, Buya Hamka menunjukkan keagungan akhlak yang melampaui batas manusia biasa. Saat banyak yang mengutuk Soekarno sebagai munafik, Buya tetap memandunya ke liang akhir dengan menjadi imam salat jenazahnya. Kisah ini bukan sekadar sejarah, tetapi pancaran nilai Islam yang sejati—ampunan, keikhlasan, dan pengabdian kepada kebenaran.
Ketika pagi 21 Juni 1970 datang dengan sejuk yang berbeda, rumah Buya Hamka dihinggapi utusan dari Departemen Agama, bersama Sekretaris Pribadi Presiden Soeharto, Mayor Jenderal Suryo. Mereka membawa kabar bahwa Soekarno telah wafat. Namun belum disalatkan. Ada pesan terakhir dari sang proklamator, "Jika saya meninggal, tolong panggilkan Buya menjadi imam salat saya."
Tanpa banyak bertanya, Buya Hamka yang telah rapi langsung bergegas.
Tidak ada amarah. Tidak ada dendam. Padahal, sejarah mencatat: Bung Karno pernah memenjarakan Buya Hamka selama dua tahun tanpa bukti yang sah. Tuduhan makar dan keterlibatan dalam rencana pembunuhan terhadap Soekarno adalah luka besar yang tak mudah disembuhkan.
Namun inilah pelajaran agung dari seorang alim sejati. Bagi Buya Hamka, kematian adalah akhir perjalanan dunia dan awal pertanggungjawaban abadi. Di hadapan Allah, dendam dunia tak lagi bermakna. Maka ia mengambil tempat sebagai imam, menyalati jenazah orang yang dulu menjebloskannya ke dalam bui.
Ketika sebagian ulama dan sahabatnya memprotes, Buya menjawab tegas namun tenang:
"Enggak bisa kita mengatakan Soekarno itu munafik! Yang tahu orang itu munafik atau tidak, hanya Allah!"
Sebuah prinsip keadilan spiritual yang sangat kokoh. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَشُقَّ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلَا أُكْفِّرَهُمْ
"Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk membelah hati manusia dan tidak pula untuk menghukumi mereka sebagai kafir." (HR. Bukhari)
Buya Hamka hanya meneladani Rasulullah ﷺ yang bahkan menyolatkan orang-orang yang pernah menyakitinya secara pribadi. Ia mengingatkan bahwa kita tidak punya hak menilai hati orang. Karena iman berada di dalam kalbu.
Lebih lanjut, Buya berkata:
"Saya mendengar ketika dia (Soekarno) mau wafat, tetap dia membaca dua kalimat syahadat."
Sebuah pengakuan yang menjadi tanda husnul khatimah bagi Soekarno. Dan dalam Islam, siapa yang mengucapkan syahadat menjelang ajalnya, ia tergolong orang yang mendapat kemuliaan akhir.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah 'Lā ilāha illā Allāh', maka dia akan masuk surga." (HR. Abu Dawud)
Buya juga mengingatkan jasa-jasa Soekarno yang kerap dilupakan:
"Siapa yang bisa mendirikan masjid di Istana? Soekarno! Siapa yang berani membongkar benteng Rotterdam dan membangun masjid di depan gereja peninggalan penjajah? Soekarno!"
Itu bukan pembelaan membabi buta. Itu pengakuan adil atas kebaikan yang nyata.
Betapa tinggi akhlak seorang Hamka. Ia tidak menimbang masa lalu dalam timbangan dendam, melainkan dengan neraca keadilan dan kasih sayang. Karena ia sadar, manusia hanya akan dikenang karena hatinya, bukan jabatan atau luka politiknya.
Firman Allah ﷻ:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
"Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik." (QS. Fuṣṣilat: 34)
Buya Hamka bukan hanya mengutip ayat ini dalam ceramah. Ia menjadikannya daging dalam tindakan. Ia memberi bukti bahwa keikhlasan bukan teori, tapi pilihan hidup yang berat dan agung.
Maka ketika ia berdiri sebagai imam di hadapan jenazah Bung Karno, yang disaksikan jutaan rakyat Indonesia, itu bukan hanya salat jenazah. Itu adalah salat pengampunan. Itu adalah doa bagi musuh yang diperlakukan sebagai saudara. Itu adalah kisah cinta paling dalam dari seorang ulama untuk bangsanya.
Kita hidup di zaman yang penuh dengan penghakiman cepat. Label munafik dan kafir begitu ringan terucap dari lisan, seolah kita punya hak untuk menggantikan kehendak Allah. Padahal, Nabi ﷺ menegur keras siapa pun yang berkata demikian kepada saudaranya.
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا
"Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir’, maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari mereka." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah Buya Hamka menjadi penyejuk di tengah panasnya zaman. Bahwa kemuliaan tidak datang dari debat, tidak tumbuh dari pengaruh politik, tetapi dari hati yang lapang dan jiwa yang lembut.
Betapa banyak hari ini kita butuh sosok seperti Hamka yang lembut namun tegas, yang memaafkan namun tidak lupa keadilan, yang berani di hadapan penguasa dan tidak silau oleh kekuasaan.
Pada akhirnya, Buya Hamka telah menulis pelajaran hidup paling indah dengan tinta keikhlasan. Ia telah menaburkan benih rahmah di tengah sejarah yang penuh bara. Ia tidak hanya menulis tafsir Al-Azhar, tapi menjadi tafsir hidup dari firman Allah:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Āli ‘Imrān: 134)
Di atas makam Bung Karno, sejarah tidak hanya mencatat wafatnya seorang pemimpin. Tapi juga kemenangan seorang ulama yang tidak dikalahkan oleh dendam.
Dan dari sana, kita belajar bahwa mencintai Allah bukan hanya tentang ibadah, tapi tentang bagaimana kita memperlakukan sesama manusia, bahkan yang menyakiti kita, dengan kebaikan yang tiada tanding. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar