Ekaristi: Makanan Para Musafir
ASKARA - Umat Allah adalah para musafir yang bukan hanya membutuhkan makanan untuk hidup, tetapi juga untuk mewujudkan kehidupan bagi sesama dengan peduli, berbagi, dan setia dalam kerendahan hati.
Ekaristi bukan sekadar perayaan liturgis, melainkan sumber dan puncak iman Kristiani. Melalui Ekaristi, kita diteguhkan bahwa hidup adalah anugerah, panggilan, sekaligus perutusan untuk mengabdi dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat.
Perintah Yesus sebelum mukjizat penggandaan roti sangat jelas:
"Kamu harus memberi mereka makan."
Perintah ini mengajak para murid untuk merendahkan hati dan mempercayakan diri pada kuasa Tuhan meski yang tersedia hanya lima roti dan dua ikan.
Makanan dari surga telah menjadi jaminan sejak zaman Musa, ketika Tuhan menghadirkan manna di tengah padang gurun. Ini menegaskan bahwa Allah peduli dan mengerti setiap kesusahan umat-Nya. Syaratnya: rendah hati dan mengandalkan kuasa-Nya.
"Ambillah dan makanlah, inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu."
Kata-kata institusi ini menjadi teladan Kristus yang rela merendahkan diri, tidak mencari kehormatan pribadi, dan senantiasa menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan diri sendiri.
Perutusan Yesus bagi umat-Nya menuntut kerendahan hati dalam pelayanan. Seperti dikatakan Paus Fransiskus:
"Ekaristi yang kita rayakan mendorong kita untuk menjadi roti yang terpecah dan dibagikan bagi sesama, karena berbagi adalah perintah kasih."
Ekaristi mempersiapkan umat Allah, seperti percampuran air dan anggur yang menyatukan ke-Allah-an Kristus dengan kemanusiaan. Melalui-Nya, kita boleh ambil bagian dalam karya penyelamatan Allah yang setia memenuhi janji-Nya.
Salam sehat, berlimpah berkat.
Rm. Yos Bintoro, Pr

Komentar